Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Metro  
Metro
indonesiana-Syarif
Syarif Yunus
Pemerhati pendidikan dan pekerja sosial yang apa adanya
Sabtu 16 Desember 2017 21:56 WIB
Dibaca (1865)
Komentar (0)

Humas Zaman Now

indonesiana-aussie1.jpg

Ini tentang humas, tentang public relations. Tiba-tiba, seorang mahasiswa bertanya kepada saya. Apa itu humas? 

Pertanyaan simpel tapi tak boleh juga dijawab dengan sembarangan.

 

Sebagai orang yang lebih dari 13 tahun bekerja di bidang humas atau public relations. Akhirnya saya mencoba untuk mendefinisikan humas dalam persfektif pengalaman dan praktik. Bahkan mungkin, sangat cocok dengan era milenial seperti sekarang. Karena pertarungan nama baik di di area ini, area humas.Kata teori, hubungan masyarakat (humas) atau public relations sering didefinisikan sebagai seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu ata organisasi. Buat saya silakan saja pengertian itu ada. Sah-sah saja, kalau kata teori seperti itu.

 

Tapi gimana cara kita bisa menciptakan pengertian publik di tengah era kebencian atau kegalauan seperti sekarang?

 

Maka, saya menulis sedikit tentang humas.

Humas itu bukan pengetahuan. Humas juga bukan pelajaran. Lebih dari itu, humas adalah sebuah sikap yang melekat dalam diri sendiri lalu diikuti dengan praktik atau perilaku nyata. Sikap kita seperti apa, maka itulah praktik yang kita lakukan.

 

Cara mudah memahami humas.

Humas per definisi adalah kinerja + reputasi + promosi. Artinya, humas harus bekerja atas dasar "kinerja", prestasi kerja humas yang telah ditonjolkan. Karena humas bukan soal pesan dalam kata-kata. Humas juga bukan kinerja buruk lalu bilang sebagai kinerja bagus ke publik. Jika kita bekerja dan memiliki kinerja bagus, maka modal dasar sebagai humas sudah cukup. Humas adalah kumpulan kinerja bagus dari waktu ke waktu, dari publik ke publik. Sekali lahi, humas adalah kinerja, hasil kerja yang bagus.

 

Bila kinerja bagus terus dipelihara dalam kurun waktu yang konsisten, maka berikutnya humas dapat membentuk "reputasi". Reputasi adalah kesan orang lain terhadap kita. Artinya, apa yang dikatakan orang lain tentang kita itulah reputasi. Harus diingat, tidak ada reputasi baik yang dihasilkan dari kinerja buruk. Reputasi baik hanya dimiliki orang yang berkinerja baik dalam waktu tertentu dan filakukan berulang secara konsisten. Maka dari reputasi itulah akan ada sebutan tentang "citra" atau "image". Citra baik hanya lahir dari pemilik reputasi baik. Reputasi baik pun sama sekali tidak bisa direkayasa. Mau dikemas sebagus  apapun, reputasi akan bicara seperti aslinya. Orang tidak bisa dan tidak terbiasa menusli, tidak mungkin sekonyong-konyong dibilang penulis. Karena itu terlihat dari kebiasaan dan kebiasaan. Reputasi hanya bisa terjadi bila dilandasi oleh kinerja yang baik pula.

 

Ujungnya, humas harus berakhir di promosi. Sesuatu yang bagus harus dipromosikan. Bukan sebaliknnya, sesuatu yang firekayasa atau tidak bagus tentu sangat naif dibilang bagus. Humas yang baik juga harus "berani" untuk mempromosikan kebaikan. Promosi tentang kebaikan landasannya adalah kejujuran, keterusterangan. Kita, tentu, tidak bisa bilang diri kita baik apabila orang lain tidak bilang seperti itu. Maka jelas sudah, humas harus diakhiri dengan promosi, mengatakan yang sesungguhnya dengan cara dan bahasa yang baik.

 

Kinerja baik pasti akan menghasilkan reputasi baik maka sangat pantas untuk dipromosikan. Kinerja baik + reputasi baik + cara promosi baik, begitulah humas bekerja.

Jadi, kita tidak perlu bilang orang lain jelek dan kita bagus. Karena humas akan membuktikan. Jika bagus maka akan bagus. Jika jelek maka jelek. Itu saja. Maka fokuslah untuk menghasilkan kinerja bagus.

 

Lalu bagaimana bisa menjadikan humas punya kinerja baik, reputasi baik dan promosi yang baik?

Jawabnya sederhana. Humas tidak bisa didekati secara akademis. Karena humas adalah pekerjaan lapangan, harus terjun sebagai praktisi kehumasan. Kita kenal Johan Budi SP sebagai humas KPK dulu. Atau kita tahu Febri Diansyah sebagai humas KPK sekarang. Itu contoh figur humas yang baik.

 

Apa artinya humas yang seperti itu?

Humas yang baik, sekali lagi, basisnya kinerja baik reputasi baik dan promosi baik. Untuk bisa seperti itu, maka seorang humas harus tahu tentang medan di mana dia bertanding, siapa lawan siapa kawan. Humas juga harus bisa menulis dan menyampaikan pesan secara lugas dan jelas. Tidak multitafsir. Bahkan seorang humas harus dianggap "kredibel", orang yang pantas menjalankan fungsi humas. Karena bila hal ini tidak tercapai, maka akan sulit seorang humas untuk menyampaikan pesan sebaik apapun. Bila orangnya dianggap tidak kredibel. Humas harus didukung kredibilitas. Jika tidak, sulit untuk dipercaya tiap pesan yang keluar dari mulut seorang humas.

 

Apakah seorang humas kredibel? 

Ukurannya pasti terlihat seiring waktu berjalan. Alamiah dan tidak bisa direkayasa. Humas itu harus menguasai masalah, tahu cara menyampaikan pesan, dan orang yang mendengar dapat memahami serta terpengaruh karenanya. Itulah humas yang baik.

 

Jadi tidak usah berpikir rumit tentang humas. Karena humas adalah kinerja kita + reputasi kita + promosi kita.

 

Maka kini, tanyakanlah kepada orang dekat Anda.

Apa kata mereka tentang Anda? Bila banyak bagusnya maka Anda sudah mampu menjadi humas yang baik. Bila banyak orang bicara jelek tentang Anda, maka Anda belum berhasil menjadi humas buat diri Anda sendiri.

 

Jadi, kumpulkan berita baik tentang Anda. Itulah humas zaman now... ciamikk




Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 5

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.