Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-bimo
Bimo  Wiwoho
Sabtu 16 Desember 2017 23:03 WIB
Dibaca (669)
Komentar (0)

Karangan Bunga 212 untuk Kedubes Cina Jika Pro Palestina

indonesiana-13912

 

Kita baru saja dikagetkan dengan sikap agak gila nan konyol Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bisa disebut agak gila karena pengakuan itu dapat meletupkan konflik besar di Timur Tengah. Konyol karena AS merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang seharusnya menjaga perdamaian, tapi malah bersikap sebaliknya.

Keputusan Trump itu mungkin juga tergolong antimainstream sebagaimana sering diucapkan anak-anak muda kekinian yang mengalami krisis identitas. Alasannya, karena Trump mengambil keputusan yang berbeda dengan presiden-presiden AS sebelumnya.

Di Indonesia, kecaman mengalir deras. Presiden Joko Widodo menyatakan tidak setuju dengan sikap Trump. Sebagian besar organisasi berorientasi Islam juga mengutuk keputusan Trump.

Termasuk pula Presidium Alumni 212 (PA 212) dan ormas di bawahnya yakni, Front Pembela Islam (FPI). Mereka turut berteriak. Kecaman mereka cukup mengiris telinga. Mereka bahkan sampai menyebut AS bagaikan boneka Barbie Israel.

Sejak dulu FPI memang selalu menyematkan AS sebagai musuh umat Islam. Maka wajar apabila saat ini emosi PA 212 dan FPI terhadap AS tampak meletup-letup. Wajar pula jika dalam waktu dekat keduanya menggelar aksi protes seraya menginjak-injak atau membakar bendera AS.

Rapat Darurat DK PBB

Sejumlah anggota Dewan Keamanan (DK) PBB dikabarkan menghelat rapat darurat untuk membahas tingkah konyol Trump pada Jumat (8/12). Rapat itu digagas oleh dua anggota tetap DK PBB, Perancis dan Inggris, serta enam anggota tidak tetap DK PBB, Italia, Bolivia, Mesir, Swedia, Senegal, dan Uruguay. Rapat resmi digelar atas persetujuan Sekjen PBB Antonio Guterres yang juga menentang sikap Trump.

Ada potensi negara-negara penggagas rapat darurat tersebut ingin dilanjut hingga dibahas dalam Sidang DK PBB. Mengapa? karena isu yang dibahas tergolong penting.

AS merupakan negara anggota tetap DK PBB. Seharusnya Amerika paham betul dengan fungsi DK PBB yang harus mempertahankan atau menciptakan perdamaian di muka bumi. Fungsi lain DK PBB yakni mesti menetapkan adanya suatu ancaman terhadap perdamaian, serta bertanggung jawab memberi rekomendasi penyelesaian konflik.

Tingkah Trump jelas bertentangan dengan fungsi DK PBB yang disebutkan tadi. Tensi politik di kawasan Israel-Palestina pasti bakal meninggi atau mungkin sampai mendidih dan meletup menjadi konflik besar. Itu berarti, sikap Trump telah mengancam perdamaian, sehingga berlawanan dengan tugas AS sebagai anggota DK PBB.

Sikap Cina dalam Sidang DK PBB

Apabila rapat darurat berlanjut hingga sidang DK PBB, maka seluruh anggota DK PBB wajib hadir untuk duduk bersama. Tidak hanya negara-negara yang menghelat rapat darurat saja, tetapi juga 5 anggota tetap ditambah sepuluh anggota tidak tetap.

Anggota tetap DK PBB antara lain AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan Cina. Sepuluh anggota tidak tetap DK PBB yakni, Mesir, Ethiopia, Senegal, Italia, Jepang, Kazakhstan, Swedia, Ukraina, Uruguay, dan Bolivia.

Merujuk dari Piagam PBB Pasal 18 ayat (2), Sidang DK PBB hanya membahas masalah penting yang terbagi menjadi tujuh kategori. Dari ketujuh poin, ada satu poin yang kemungkinan besar dibahas untuk menanggapi sikap Trump. Poin yang dimaksud adalah rekomendasi mengenai pemeliharaan perdamaian internasional.

Sidang DK PBB bisa mengeluarkan keputusan berupa resolusi atau sekadar rekomendasi. Resolusi cenderung mengikat, tidak seperti rekomendasi. Namun, bukan itu yang akan dibicarakan di sini. Akan lebih menarik jika menduga-duga bagaimana Cina bersikap apabila Sidang DK PBB dilaksanakan.

Sikap Cina dalam sidang DK PBB patut ditunggu oleh masyarakat Asia khususnya Indonesia. Cina merupakan satu-satunya negara anggota tetap DK PBB yang berasal dari Asia. Secara moral, Cina memiliki beban untuk menjaga perdamaian di Asia. Cina pun berambisi menjadi adidaya, yang dengan demikian membutuhkan latihan dalam menjaga perdamaian di dunia.

Selama ini, Cina juga cenderung cuek dengan isu-isu internasional yang berkenaan dengan Timur Tengah. Cina lebih tampak menyibuki dirinya sendiri dengan urusan dalam negeri. Paling bantar, Cina hanya ikut bersikap ketika gelagat Korea Utara yang semakin hari semakin tak keruan, yakni dengan menyetop imbor batu bara dari negara komunis tersebut.

Tidak menutup kemungkinan pemerintah Cina bakal lantang menentang sikap AS dalam sidang DK PBB jika digelar. Itu bisa ditunjukan dengan menyetujui adanya resolusi atau rekomendasi yang berpihak kepada kepentingan Palestina dalam sidang DK PBB. Tidak mustahil apabila Cina mengabaikan opsi abstain atau tidak setuju dalam pengambilan suara untuk keputusan yang pro Palestina.

Karangan Bunga untuk Kedubes Cina

Seperti telah diuraikan sebelumnya, FPI dan PA 212 termasuk kelompok yang menentang keras pengakuan Trump. Mereka menyerukan kepada umat muslim di Indonesia untuk menjadikan AS sebagai musuh bersama.

Di sisi yang lain, FPI dan PA 212 juga kurang senang dengan keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia. Hal itu sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Etnis Tionghoa di Indonesia selalu disematkan label komunis dan musuh Islam.

Mereka juga menganggap etnis Tionghoa patut dimusuhi karena menguasai perekonomian Indonesia (kecuali HTI, Haritanuindonesia). Sepertinya, belum ada hal baik dari etnis Tionghoa Indonesia yang pernah diapresiasi oleh kelompok yang sedang naik daun tersebut.

Namun, apabila pemerintah Cina bersikap tegas untuk menekan DK PBB agar pro terhadap Palestina daripada AS, apa yang kiranya patut kita lihat bersama?

Jika itu benar terjadi, FPI dan PA 212 harus mengakui sedang berdiri pada posisi yang sama dengan pemerintah Cina, yakni sama-sama mengecam sikap Trump dan ingin ada tindakan tegas dari PBB demi kepentingan rakyat Palestina. FPI dan PA 212 juga mesti mengamini bahwa AS adalah musuh bersama pemerintah Cina dan umat muslim Indonesia meski hanya untuk sementara.

Alangkah menariknya jika kita melihat FPI dan PA 212 mengirim karangan bunga ke kantor Kedubes Cina di Jakarta. Tindakan tersebut sudah pasti sebagai bentuk apresiasi karena Cina berada pada posisi yang sama dengan umat muslim Indonesia khususnya FPI dan PA 212.

Senang sekali rasanya jika karangan bunga dari FPI dan PA 212 bertuliskan ucapan terima kasih dan apresiasi terhadap pemerintah Cina. Kita akan lebih semringah lagi ketika ada karangan bunga bertuliskan dukungan atau dorongan kepada pemerintah Cina agar terus mendesak DK PBB mengutamakan kepentingan Palestina.

Media sosial tentu akan menjadi ramai yang bersifat positif tidak seperti selama ini. Kita tahu, netizen Indonesia selalu bertengkar di media sosial, antara yang pro Islam dengan kalangan moderat.

Netizen Indonesia hanya tampak menyatu ketika ada momen yang berkaitan dengan timnas sepak bola Indonesia dan tersangka dugaan korupsi e-KTP, Setya Novanto. Misalnya, ketika timnas Indonesia bertanding, semua netizen serempak menyatakan dukungan. Kemudian ketika Setnov menang praperadilan dan menabrak tiang listrik, netizen juga serempak mengolok-olok.

Nah, jika pemerintah Cina mendukung rakyat Palestina, bisa jadi netizen Indonesia akan menyatu seperti saat Timnas bertanding atau Setnov menabrak tiang listrik. Seluruh netizen serempak mengapresiasi serta menyatakan dukungan dan mendorong pemerintah Cina untuk terus berada di posisi yang sama dengan umat muslim.

Luar biasa.

Apakah itu semua mungkin terjadi? Dalam hal ini, sebaiknya kita berpikir positif, karena jika benar-benar terjadi, suasana akan menjadi lebih tenteram. Pemandangan semacam itu tentu tergolong langka, sehingga kita semua patut menunggu itu semua terjadi dalam waktu dekat.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.