Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Mohamad Cholid 
Senin 18 Desember 2017 21:36 WIB
Dibaca (555)
Komentar (0)

#SeninCoaching: Membangun Kepemimpinan 16 Silinder

indonesiana-mqdefault_locomotive_leadership.jpg

 Leadership Growth: Building V-16 Cylinders Leadership

 

Mohamad Cholid

Practicing Certified Business and Executive Coach

 

Setiap akhir pekan di pinggiran Jakarta kita sering melihat di jalanan orang-orang berombongan dalam iringan sepeda motor. Dulu iring-iringan tersebut didominasi para pengendara sepeda motor ber-cc besar dari sejumlah merek top, seperti Harley Davidson atau BMW.

Belakangan rombongan puluhan pengendara motor tersebut sudah makin bervariasi, dari jenis kendaraan, merek, dan tipe. Ada klub pengendara Vespa dan ada pula pengendara sepeda motor trail, dengan aksesoris lengkap seperti mau mengikuti kompetisi motor cross di medan berlumpur dan berbukit.

Dilihat dari pakaian, sepatu, dan aksesoris mereka – utamanya para pengendara motor trail -- kadang-kadang seperti overkill, melebihi kebutuhan utama keselamatan dan keamanan berkendara motor di jalan umum.

Bagi para pedagang aksesoris tentu saja semangat overkill tersebut, juga kegairahan kelompok-kelompok hobi di bidang apa pun – dari pesepeda, klub motor, sampai hobi memelihara burung -- telah menimbulkan lebih banyak transaksi dalam bisnis penyediaan aksesoris. Apalagi kelompok-kelompok hobi tersebut juga tumbuh subur di kota-kota lain.

Menambah atau memperbanyak aksesoris untuk hobi, atau belanja melebihi kebutuhan dasar, buat para pelakunya kelihatannya bukan merupakan persoalan. Buat mereka yang penting fun. Menjadi bagian dari suatu kelompok, teridentifikasi sebagai bagian dari kerumunan dengan kesamaan interest, bagi sebagian besar dari kita rupanya sangat menyenangkan.

Dua hal yang dapat kita baca dari makin maraknya fenomena tersebut. Pertama, bahwa transaksi penjualan lebih banyak dipengaruhi oleh emosi (rasa senang dan puas si pembeli). Riset mengindikasikan, penjualan 80% dipengaruhi emosi, 20% logika. Pertimbangan logis mereka pakai sebagai pembenaran saja.

Kedua, being engaged ke dalam suatu kegiatan beramai-ramai dengan tujuan yang sama telah memberikan identitas baru bagi banyak orang. Mereka menemukan meaning dalam kehidupan, setelah mungkin saja mengalami kejenuhan di belahan lain -- di dunia kerja, barangkali juga di dalam keluarga.  

Bagi para eksekutif dan leaders organisasi-organisasi bisnis, kenyataan tersebut merupakan tantangan dan peluang sekaligus.

Jika produk atau jasa yang Anda sampaikan di pasar melulu mengandalkan feature-feature, tanpa berhasil menyentuh emosi calon pembeli, hampir dapat dipastikan tidak atau sulit terjadi transaksi.

Terlalu mengandalkan feature akan membuat produk/jasa Anda menjadi komoditas – ada belasan atau puluhan pesaing di pasar dengan feature yang bermiripan. Sedangkan konsumen umumnya bersedia membayar lebih banyak untuk “rasa”, pengalaman hebat, sesuai persepsi mereka.

Coba kita simak, yang diberikan Harley Davidson atau Apple kepada konsumen mereka lebih dari produk sepeda motor bersilinder besar atau komputer, tapi “rasa menjadi hebat”, bagian dari sebuah “ideologi anti kemapanan.”

Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk mencari atau mengejar meaning dalam kehidupan.  

Para eksekutif dan leaders yang telah berhasil membangun organisasi-organisasi hebat dan dalam jangka panjang memberikan kontribusi signifikan bagi stakeholders dan kehidupan, umumnya mengutamakan meaning, disamping hal-hal mendasar dalam manajemen. Para karyawan bangga bekerja di organisasi-organisasi tersebut. Kalau ada seragam organisasi, mereka akan mengenakannya dengan semangat, tanpa diingatkan atasan atau pasangannya.

Menjalani hidup dengan bermakna, itu kuncinya. “The root cause of business transformation based in meaning not efficiency,” kata Michael Gerber (E Myth Mastery).

Bisakah kita selalu melakukan evaluasi, sudah sejauh mana upaya-upaya kita membangun dan memberikan meaning dalam organisasi sehingga tim bekerja dengan hati  -- lebih dari sekedar pertimbangan nalar atau demi kebutuhan hidup sehari-hari? Apa saja upaya-upaya terbaik kita membangun meaning tersebut?

Berhasil memberi meaning merupakan capaian tertinggi dalam upaya meningkatkan engagement karyawan. Di bawahnya adalah love (cinta, rasa senang bekerja di organisasi yang diikuti), level bawahnya lagi duty (bekerja demi menjalankan tugas), reward (bekerja karena iming-iming bonus), fear (melakukan pekerjaan karena takut dipecat), dan anger (bekerja dengan kesal/menggerutu).

Umumnya manajemen bekerja keras sampai pada level memberikan reward dan karenanya mengharapkan karyawan willingly compliance. Jika di antara anggota manajemen ada yang kadang-kadang memberikan ancaman, yang timbul dari pihak karyawan adalah malicious obedience.

Para pengelola organisasi-organisasi yang hebat cenderung memilih menjadi lebih efektif. Mereka berupaya mendaki mencapai taraf sebagai leader, lebih dari manajemen “umumnya” dan bersungguh-sungguh membangun meaning.

Leadership yang efektif diukur dari keberhasilan membangun tim menjadi orang-orang yang bekerja dengan cheerful cooperation (enteng dan setia menjalankan duty), heartfelt commitment (sangat mencintai pekerjaan mereka), dan creative excitement (mereka menemukan meaning dalam bekerja di organisasi).

Seseorang dengan kapasitas leadership di level tersebut, menurut perspektif Jim Collins -- business consultant, penulis, dan professor dalam subyek company sustainability and growth di pasca sarjana Stanford University, AS -- memenuhi syarat sebagai Level 5 Executive. Ciri-ciri utamanya sangat rendah hati dan memiliki professional will kuat untuk memberikan hasil terbaik bagi stakeholders. Mereka juga memiliki disiplin kerja yang sangat layak dijadikan teladan bagi tim.

Bagi mereka, menjaga konsistensi berperilaku rendah hati, disiplin, dan terbuka untuk perubahan dan perbaikan dalam kepemimpinan, sudah merupakan kebutuhan. Kalau tidak, mereka hanya sekedar jadi manajer biasa. “The signature of mediocrity is chronic inconsistency,” kata Jim Collins.

Kepemimpinan dengan kemampuan membangun tim/karyawan menemukan cinta dalam bekerja dan meraih meaning dalam kehidupan professional dan pribadi sering disebut V-16 Cylinders Leadership – powerful and balance

Untuk mengingatkan kembali: “Leaders are people who consistently challenge the status quo and look for innovative ideas to move the business forward. A leader’s main focus is the people in the organisation, as they do not just look at them to perform jobs within a process, but look to inspire them to be the very best they can be. With a good leader, team members feel more involved and have a greater passion for the taking the business forward often looking for ways in which they can improve their own roles.” 

Proses pelatihan dan pengembangan kepemimpinan para eksekutif menjadi leaders yang efektif dan sukses membangun tim menemukan meaning, dapat dilaksanakan melalui program Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC).

Di antara leader, bahkan jadi business icon Abad 21, yang konsisten menggunakan metode Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching secara terstruktur adalah Alan Mulally, President - CEO Ford Motor Company (2006 – 2014). Dalam periode kepemimpinannya,  Alan Mulally sukses mengubah perusahaan yang merugi belasan milyar (billion) dolar AS tersebut menjadi profitable.

Kapan sebaiknya mulai melaksanakan program pengembangan kepemimpinan agar terbebas dari jebakan sukses masa lalu, menjadi lebih siap dan efektif menghadapi dinamika saat ini? Kalangan  orang bijak akan menjawab: “Ya sekarang.”   

Hati-hati dengan bisikan yang mengatakan, perubahan dan peningkatan efektivitas nanti saja, setelah “tidak ada hujan” atau “saat musim mangga” atau alasan lainnya. “Beware of cognitive dissonance – disconnect between what we believe in our minds and what we experience or see in reality,” kata Marshall Goldsmith.

Fakta yang kita hadapi saat ini adalah defining moment untuk memulai perbaikan secara berkesinambungan. Bukankah Anda dilahirkan sebagai champion? Kapan lagi mengizinkan diri sendiri menjadi lebih efektif, berproses mendaki ke Level 5 Executive.

 

Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Consulting

n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

n  Certified Marshall Goldsmith Global Leader of the Future Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(www.nextstageconsulting.co.id)  




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.