Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Amerika
indonesiana-tempoid-default
Henri Subiakto
Rabu 20 Desember 2017 07:56 WIB
Dibaca (790)
Komentar (0)

Benci Donald Trump, tapi Ikuti Caranya?

indonesiana-634810

Partai Pembebasan Austria (FPO), adalah partai ekstrim Kanan yg didirikan oleh mantan anggota Nazi di th 1955. Partai kecil di Austria tersebut, tiba2 membesar dan sukses di Pemilu Austria 2017, setelah mengusung kampanye dg ide ide populis yaitu anti Imigran, anti Islam, anti globalisasi, dan anti Uni Eropa.

Dalam berbagai kesempatan Partai ini menuntut agar imigran dilarang masuk Austria (padahal sebelumnya 2016 ratusan ribu imigran masuk dari Suriah). Partai ekstrim ini juga menuntut larangan penggunaan cadar dan simbol2 Islam di negeri itu.

Kampanye ekstrim ini ternyata justru sukses. Mendapatkan 52 kursi parlemen dan membuat partai ini digandeng berkoalisi dengan Partai Rakyat. Walhasil Hein Christian Strache, tokoh nasionalis kanan dr FPO terpilih sbg wakil Perdana Menteri Austria, mendampingi PM Sabastian Kurz.

Ini contoh satu lagi penggunaan isu isu SARA dalam kampanye Pemilu yg ternyata justru berhasil mengangkat partai "kecil" masuk Pemerintahan. Ini adalah bukti bahwa diakui atau tidak di masyarakat majupun, kebencian berdasar perbedaan SARA itu ada di kepala dan hati masyarakatnya, apalagi di masyarakat negara berkembang.

Ketidaksukaan atas perbedaan SARA yg terpendam di masyarakat inilah yg justru sekarang dipupuk dan dimanfaatkan dalam politik modern oleh para politisi kerdil pencari kekuasaan. Politik identitas digunakan dan disebarkan lewat propaganda yang mendorong partisipasi publik untuk saling membenci di media sosial.

Hasilnya banyak tokoh radikal yg Rasis dari partai Kanan sukses di pemilihan politik. Ada Trump yg jadi prediden di AS, ada Christian Strache yg jadi wakil PM di Austria, ada Marine Le Pen yg menghebohkan Perancis, ada Frauke Petry di German yg hampir mengalahkan Markel dll.

Di era Post Truth sekarang ini, politik dan komunikasi politik memang diwarnai oleh sikap emosional sebagian besar masyarakat. Mereka menyukai dan hanya mau menerima informasi dan pemimpin yg memiliki kesamaan emosi, kepercayaan, atau SARA. Objektivitas, netralitas, perlakuan kesamaan, dan toleransi pada mrk yg berbeda acapkali ditolak karena tdk sesuai dengan kecenderungan emosi dan kepercayaan mereka. Pola mendahulukan emosi, mengabaikan fakta dan kebenaran ini, terimplementasi di ruang media sosial.

FB, twitter, instagram, Line hingga WA menjadi wahana tempat mengekspresikan politik identitas yg justru memunculkan pengelompokkan dan pembelahan masyarakat yg saling "membenci". Informasi berupa hate speech hingga hoax marak di medsos. Sampai sampai pemilik FB, IG dan WA, Mark Zukercberg meminta maaf, karena perusahaan aplikasi miliknya diakui telah merongrong demokrasi, dan membuat masyarakat di berbagai negara terbelah hingga sering memicu konflik, pertikaian dan permusuhan.

Secara algoritma, teknologi medsos mendekatkan orang-orang yg sepaham menjadi kelompok sepikiran yg saling membenarkan. Echo chambers atau ruang gema terbentuk krn fasilitas teknologi dan faktor psikologi, bhw individu itu memilih teman dan informasi yg memiliki orientasi yg sama. Mereka ada di echo chambers, berkomunikasi dengan orang2 sepikiran. Walhasil merasa benar karena sikapnya di dukung oleh orang lain yg sepikiran. Pengelonpokkan dan pembelahan masyarakatpun makin menjadi jadi.

Lalu masihkah kita akan terus mendukung suksesnya para politisi yg membawa nilai-nilai pemecah belah bangsa berdasarkan identitas SARA? Kalau iya berarti Kita tidak beda dengan Donald Trump, Marine Le Pen hingga Christian Strache Dll. Mereka sukses menjadi besar di negaranya karena mengobarkan politik rasis. Mereka fanatik pada identitas dan kepercayaannya dan tdk menghormati yg berbeda. Ironi kalau kita tidak menyukai Donald Trump, tapi ternyata malah mengikuti cara caranya.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.