Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-SYAHIRUL ALIM
SYAHIRUL ALIM 
Menulis, Mengajar dan Mengaji
Kamis 28 Desember 2017 16:16 WIB
Dibaca (3421)
Komentar (0)

Jika Menebar Kedamaian, Dakwah Pasti Tak Akan Ditolak

indonesiana-ustad_somad.jpg

Berita viral menyoal penolakan beberapa penceramah, kini tidak lagi sebatas di wilayah negeri sendiri, namun jauh merambah hingga ke luar negeri. Tak ada alasan yang pasti, mengapa terjadi penolakan, paling-paling yang selalu menjadikan latar belakang penolakannya adalah seputar track record seorang penceramah yang jauh dari nilai-nilai kesejukan dan kedamaian. Jangankan soal penceramah, seorang pejabat negara-pun bisa ditolak oleh otoritas setempat, lagi-lagi bukan karena campur tangan penguasa, pihak-pihak tertentu, ataupun adanya berita “hoax” yang melatarbelakangi penolakannya, tapi barangkali ini soal subjektivitas yang pasti sulit diganggu gugat dan lebih banyak tak bisa diterima akal sehat.

Jika penceramah ditolak di negeri sendiri, mungkin saja karena setiap orasinya menimbulkan keresahan sebagian masyarakat, karena isi ceramahnya ditengarai bernada “provokatif” tidak edukatif atau seringkali malah “reaktif” bukan persuasif. Bagi saya, ceramah apalagi bersifat keagamaan, tidak saja harus membawa nilai-nilai kedamaian, namun jauh dari itu refleksi atas nilai kejujuran yang tentu saja keluar dari misi-misi “kekelompokkan”, fanatisme golongan, yang seakan-akan bahwa kelompok dirinyalah yang paling benar sedangkan pihak lain jelas dianggap kalangan yang tidak pantas menebarkan nilai-nilai keagamaan dengan nuansa kedamaian.

Bagi seseorang yang kemudian keberadaannya ditolak oleh beberapa pihak, seharusnya memang lebih introspeksi kedalam dirinya sendiri, benarkan bahwa isi dari ceramah keagamaannya menuai sikap reaktif dari masyarakat? Ceramah “zaman now” memang seperti menabuh genderang perang dengan pihak-pihak lain yang berseberangan, bukan membangun dan menjalin komunikasi yang erat, sehingga sikap ta’ashub (fanatisme) kekelompokan tidak serta merta menohok atau menyalahkan pihak-pihak lainnya. Kenyataan ini belakangan semakin jelas dirasakan, bahwa ceramah keagamaan lebih bernuansa “profokatif” tidak edukatif, sehingga wajar jika timbul reaksi berbeda yang muncul di tengah-tengah publik.

Itulah kenapa, Nabi Muhammad dibekali oleh “rahmat” dan “kelemahlembutan” yang tertanam kuat dalam hatinya, sehingga setiap dakwahnya untuk mengajak ke “jalan yang lurus”, bukan berdasarkan “subjektifitas” dirinya, tetapi lebih banyak didasarkan atas “objektifitas” bagaimana seharusnya masyarakat tidak terpancing menjadi “reaktif” atas ungkapan berdakwah dirinya. Gambaran kelemahlembutan itu tegas digambarkan Al-Quran, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran: 159).

Membayangkan Nabi Muhammad berdakwah, adalah membayangkan betapa setiap orang merindukan kehadiran beliau, karena kepiawaiannya “mengajak” pihak lain untuk berbuat baik, bukan justru membuat pihak lain lari ketakutan atau bahkan menolak setiap dakwah yang dirinya jalankan. Salah satu prinsip Nabi Muhammad dalam berdakwah, tentu saja lintas batas, multi-etnis, multi-keyakinan, didasarkan pada cara pandangnya yang “moderat”, termasuk menyesuaikan siapa dan pihak mana yang menjadi lawan bicaranya. “Umirna ‘an ukallima an-naas bi qadri ‘uqulihim” (Saya diperintahkan untuk berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan para audiensnya”).

Nabi Muhammad tentu saja memiliki kecerdasan untuk memilah dan menyesuaikan, kepada siapa dirinya mengajak kebaikan. Nabi tentu saja selalu memiliki jawaban berbeda ketika ditanya oleh beberapa orang, meskipun pertanyaannya sama. Pernah ketika Nabi Muhammad ditanya, “amal apa yang paling disukai Allah?”. Nabi akan mengukur siapa dan bagaimana latar belakang lawan bicaranya, sehingga jawabannya-pun bisa beragam. Jika latar belakang seseorang itu sulit sekali mendirikan shalat, maka jawaban Nabi, “amal yang paling baik disisi Allah adalah shalat tepat pada waktunya”.

Masih dalam pertanyaan yang sama, Nabi Muhammad dapat memberikan jawaban yang berbeda, lagi-lagi mengukur kapasitas dan latar belakang kecenderungan seseorang. Ketika Nabi melihat bahwa latar belakang seseorang tersebut yang selalu menyakiti dan mengabaikan kedua orang tuanya, maka jawaban Nabi soal amal yang terbaik tentu saja berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidaini). Saya kira, seorang pencermah memang harus selalu pandai membaca situasi dan kondisi setiap jamaahnya, bukan kemudian secara subjektif malah “mendewakan” kebenaran versinya sendiri dan mengabaikan “kebenaran” yang juga disuarakan pihak lain. Bedakwah, bukan sekadar mengajak kepada kebaikan, tetapi jauh dari itu, bagaimana membangun dan menata umat agar tidak tercerai berai “memperebutkan” kebenarannya sendiri-sendiri.

Logika berdakwah tentu saja jauh dari unsur-unsur “paksaan” karena nilai filosofinya yang “mengajak” kepada kebaikan dan kedamaian. Jangankan mengajak melalui berdakwah, memaksa pihak lain untuk sama agama dengan agama yang kita anut saja jelas dilarang dalam Al-Quran, “Laa ikrraha fi add-diin” (tidak ada paksaan dalam hal beragama). Saya meyakini—sebagaimana diungkap Al-Quran—bahwa sesuatu yang menjadi petunjuk bagi seseorang itu sudah jelas adanya, dengan “petunjuk” itu manusia kemudian memilih, mana kebaikan dan mana keburukan. Tanpa harus “dipaksakan” kebaikan dan kebenaran itu tetap tegak dan “kebathilan” pada akhirnya runtuh dan hancur, itulah sistematika hukum alam-nya.

Walaupun pada kenyataannya, manusia setelah mendapatkan “kecukupan” dalam banyak hal, termasuk merasa cukup dalam mendapatkan ilmu pengetahuan agamanya, lalu kebanyakan mereka sombong dan berdampak pada refleksi setiap isi ceramahnya sendiri. Sulit untuk tidak mengatakan, bahwa manusia itu kebanyakan “melampaui batas” setelah dirinya merasa cukup, bukan sebaliknya, dirinya bertambah “rendah hati” karena selalu merasa kurang. “Kalla inna al-insaan layathgo, an raa’ahus taghna” (Ketahuilah! manusia itu selalu berada dalam kondisi melampaui batas, setelah dirinya justru telah merasa cukup), demikian bunyi surat Al-‘Alaq yang diabadikan dalam Al-Quran.

Jadi, berbicara mengenai maraknya penolakan ceramah saya kira, tidak semata karena unsur “perbedaan pendapat keagamaan” (ikhtilaf), namun lebih banyak didorong oleh isi dan materi yang dibawakan penceramah lebih banyak melampaui “khilafiyah” (toleransi atas beragam perbedaan pendapat keagamaan). Prinsip khilafiyah yang semestinya menjadi sebuah keniscayaan, justru “dilampaui” sehingga yang terjadi justru beragam penolakan yang terjadi di masyarakat, tidak hanya di dalam negeri bahkan merambah hingga ke luar negeri. Itulah sebabnya, kenapa Nabi Muhammad mewanti-wanti soal ini dengan menyatakan, “ikhtilaful ummatii rahmatun” (perbedaan pendapat diantara para ulama adalah “rahmat”). Jadikanlah setiap perbedaan itu memperkuat rasa kasih sayang dan silaturrahim, bukan menjadi pribadi yang sudah merasa cukup lalu melampaui batas.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.