Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Kamis 04 Januari 2018 15:13 WIB
Dibaca (1635)
Komentar (0)

Ancaman Perubahan Iklim, Belajar dari Sejarah

indonesiana-628909

 

Abad pertama Masehi ditandai oleh peristiwa alam dahsyat. Gunung Visuvius memuntahkan isi perutnya pada 79 Masehi. Abu vulkanisnya mengubur Pompeii, sebuah kita di selatan Roma. Diperkirakan 30 ribu penduduk tewas dan hanya sekitar 2.000 orang yang selamat. Jejak-jejak yang tersingkap dari reruntuhan kota meninggalkan pesan yang sangat jelas: alam sanggup memusnahkan sebuah peradaban dalam sekejap.

Namun, kemusnahan peradaban secara bertahap pun bukan kemuskilan. Romawi contohnya. Pada pertengahan abad ke-2 Masehi, seperti disebutkan Kyler Harper, guru besar Universitas Oklahoma dan penulis buku The Fate of Rome: Climate, Disease, and the End of an Empire (2017), Kekaisaran Romawi mengendalikan wilayah yang secara geografis amat luas, membentang dari Inggris utara hingga tepi Sahara, dari Atlantik sampai Mesopotamia. Penduduknya yang makmur pernah mencapai 75 juta orang.

Lima abad kemudian, Romawi hanyalah sebuah negara kecil yang dikontrol oleh kekuasaan di Konstantinopel. Perdagangan merosot. Kota-kota sepi. Kemajuan teknologi terhenti. Jumlah penduduk berkurang. Fragmentasi politik kian tajam. Kejatuhan Romawi, menurut sejarawan Ian Morris dari Universitas Stanford, AS, merupakan kemunduran besar dalam sejarah peradaban manusia.

Bagaimana kemunduran Romawi dapat dijelaskan? Banyak ilmuwan menawarkan hipotesis. Alexander Demandt, sejarawan Jerman, mencatat ada lebih dari 200 hipotesis diajukan. Sebagian besar perhatian sarjana tertuju pada dinamika politik internal sistem kekaisaran atau pergeseran konteks geopolitik di mana tetangga-tetangga kekaisaran semakin kuat dan semakin maju tenologinya. Sebagian sarjana lainnya merasakan kebutuhan untuk memahami konteks perubahan iklim terhadap peradaban.

Para ilmuwan menemuan bukti-bukti baru yang menyingkapkan peran krusial perubahan lingkungan alam terhadap ‘nasib’ sebuah negeri. Iklim, menurut ilmuwan, memiliki peran utama dalam naik-turunnya peradaban Romawi. Penguasa Romawi diuntungkan oleh karakteristik cuaca yang hangat, basah, dan stabil sehingga kondusif bagi produktivitas ekonomi dalam masyarakat agraris. Namun iklim tidak selalu bersahabat. Di tengah ancaman dari luar, ketidakstabilan iklim mencapai puncaknya pada abad ke-6 Masehi, saat Justinianus memerintah. Letusan gunung berapi memicu penurunan suhu yang jauh lebih dingin dan bertahan setidaknya selama 150 tahun.

Di tengah upaya para peneliti iklim yang berjuang untuk memperbaiki proyeksi mereka mengenai perubahan iklim global, sebagian ilmuwan menyadari bahwa masa lampau boleh jadi mengandung pelajaran tak ternilai untuk masa depan. Ilmuwan kebumian dan klimatolog bergabung dengan arkeolog, antropolog, dan sejarawan untuk membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai dampak iklim terhadap peradaban masa lampau. “Perubahan iklim adalah salah satu aspek paling terabaikan dari sejarah manusia,” kata Brian Fagan, antropolog, seperti dikutip majalah Discovery edisi Juni 2010. “Kini kita memperoleh alat untuk melihat pengaruhnya terhadap masyarakat manusia.” Mereka memelajari jejak-jejak paleontologi, seperti cincin pohon, inti es, cangkang kerang, dan bahkan telinga ikan, maupun fenomena vulkanologis.

William Patterson, ahli geologi di Universitas Saskatchewan di Kanada, menganalisis cangkang kerang untuk memperoleh perspektif tentang bangsa Viking. Bangsa ini bermingrasi dari daratan Eropa ke Iceland, Greenland, dan wilayah utara Amerika Utara ratusan tahun sebelum Columbus datang.

Temuan Patterson, yang dipublikasikan Maret 2010, menyebutkan bahwa pemukim Viking di Iceland mengalami periode dingin pada sekitar tahun 970, hanya beberapa dekade setelah mereka tiba di wilayah ini. Temperatur musim panas anjlog 5 derajat Celcius. Periode ini ditandai oleh kegagalan panen. Orang-orang memakan rubah dan burung gagak. Agar tidak menjadi beban, orang-orang tua dan lemah dibunuh dan dilempar ke lembah-lembah.

Studi mutakhir yang mentautkan paleoklimatologi—rekonstruksi iklim global di masa lampau—dengan analisis historis juga menunjukkan besarnya pengaruh tekanan lingkungan terhadap stabilitas ekonomi dan politik, maupun kapasitas militer Mesir kuno. Tim peneliti memusatkan risetnya pada dinasti Ptolemaik di masa Mesir kuno (305-30 SM) dengan perpustakaan Alexandria sebagai salah satu capaian kulturalnya. Tekanan perubahan iklim dipandang berkontribusi penting bagi merosotnya kekuasaan dinasti ini. Pada 30 Masehi, Mesir jatuh ke tangan bangsa Romawi yang dipimpin Kaisar Oktavianus Augustus.

Kajian historis telah memperlihatkan bahwa perubahan iklim tidak bisa dipandang remeh dan dongeng fiktif atau masyarakat manusia akan terkejut dihadapkan pada masa-masa yang sangat pelik tanpa persiapan. Apa yang diberitakan oleh tempo.co, 2 Januari 2018, tentang kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius mampu mengeringkan 20-30 persen wilayah Bumi, termasuk Asia Tenggara—dan karena itu juga Indonesia, hingga menyerupai gurun tandus bukanlah peringatan tanpa dasar.

Seperti dikatakan Manoj Joshi, ahli lingkungan yang dikutip tempo.co, asidifikasi atau pengeringan berdampak pada wilayah pertanian, kualitas air, maupun keanekaragaman hayati. Wilayah yang paling terkena dampak ialah Asia Tenggara, Eropa Selatan, Afrika Selatan, Amerika Tengah, dan Australia Selatan—rumah bagi lebih dari 20 persen populasi dunia atau lebih dari 1,5 miliar orang saat ini.

Sejarah telah memberi pelajaran moral dan seyogyanya menjadikan kita lebih peka tentang betapa rapuh masyarakat kita di hadapan alam yang berubah. Dalam sejarah masyarakat manusia, perubahan iklim dan evolusi penyakit telah menjadi kartu liar. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.