Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Hobi
indonesiana-cheta
Cheta Nilawaty
Kamis 11 Januari 2018 14:32 WIB
Dibaca (1363)
Komentar (0)

Bermusik Ala Tunanetra Tanpa Notasi Tanpa Partitur

indonesiana-604295

Belajar memainkan alat musik di usia yang tidak lagi muda, adalah sebuah tantangan bagi saya. apalagi bila belajar dilakukan dengan tanpa melihat. ketika masih memiliki penglihatan, saya menggunakan mata untuk mencari dan menakan tuts piano. Terutama ketika mencari nadadi balik tuts tuts tersebut. Pada akhirnya, saya tidak terpusat pada nadanya, melainkan notasi pada partitur.

 

Saat memulai belajar keyboard di Yayasan Mitra Netra, saya langsung diperkenalkan nada dari bunyinya. Salah satu guru musik sekaligus konselor di Yayasan Mitra Netra, Adi Arianto, memperkenalkan teknik jarak nada satu dan satu setengah dalam setiap rentang oktaf. Menurut Adi, bila diurutkan, satu per satu, semua nada pada rentang oktaf tetap sama fungsinya. Maksudnya, tuts yang mengeluarkan bunyi nada do, tidak selalu menjadi do, ketika kita memindahkan rentang oktafnya. “Kuncinya, urutan nada itu selalu sama, jadi mau dimainkan di kunci G atau C template jarak nadanya akan selalu sama,” ujar Adi Arianto.

 

Guru musik lainnya, Oki Kurnia, langsung memperkenalkan saya nada tanpa mengurutkannya lebih dulu. Ketika itu, Oki langsung menekan salah satu tuts, dan bertanya kepada saya nada apa yang dia pilih. Agak sedikit kebingungan saya waktu itu. Sebab, sensitifitas pendengaran saya masih belum terasah. Saya baru bisa menebak bila nada yang dipilih Oki adalah fa setelah mencoba enam kali. “Coba dihafalkan bunyi nadanya, jangan dihafalkan letak tuts keyboardnya,” ujar Oki waktu itu.

 

Metode yang diperkenalkan Oki, saya coba terapkan kemudian. Berkali kali saya masih gagal menyelaraskan nada dan tutsnya. Tetapi bila insting pengenal nada sudah bekerja, lagu apa saja bisa dimainkan, tanpa partitur dan notasi lagunya. Setelah Oki membantu saya mengenal nada fa, ia lanngsung meminta saya memainkan lagu Pelangi Pelangi, dan akhirnya dalam latihan dua jam itu, Oki berhasil membuat saya memainkan sebait lagu Pelangi beserta chordnya.

 

Rupanya, dari sensitifitas nada itulah, teman teman Tunanetra tidak memerlukan notasi musik. Insting dan sensitifitas peendengaran mereka langsung bekerja, ketika sebuah alat musik memperdengarkan sebuah lagu. Misalnya, bila salah satu teman memulai bagian lagu tertentu, teman Tunanetra lain langsung sambung menyambung meneruskan irama berikutnya, kadang mereka menambah aransamen seenaknya. Kegiatan ini sempat membuat saya terkagum kagum. Mereka dapat memainkan lagu apapun seperti naik sepeda saja, begitu lancar, mengalir  dan santai.

 

Kemudahan bermusik teman teman Tunanetra tidak serta merta didapatkan begitu saja. Mereka mengakui, tetap belajar dan berlatih musik setiap saat. Bahkan beberapa teman Tunanetra yang sangat lancar memainkan alat musik, bercerita, di Sekolah Luar Biasa A (SLB untuk Tunanetra) alat musik menjadi inventaris penting di sekolah. Alat musik yang disediakan tidak sebatas alat musik yang dipakai kolektif seperti angklung atau gitar. Ada piano, biola, hingga orgen kuno yang sangat besar.

 

Karena fasilitas bermusik disediakan sangat lengkap, maka kebiasaan para siswa SLB A untuk bermusik pun terbentuk dengan sendirinya. Bila di sekolah umum, saat jam istirahat atau jam bebas siswanya memilih bermain sepak bola atau voli, maka di SLB A, alat musiklah yang diserbu. Karena itu, tak heran, bila banyak teman teman Tunanetra yang lulus SLB A atau asrama Tunanetra berkarir sebagai pemusik. Sebab, bermusik di SLB A, seperti ekstrakulikuler yang dipilih oleh siswa umum di sekolahnya.

 

Walau banyak yang tidak meragukan kemampuan bermusik teman teman Tunanetra, ada satu kelemahan bermusik Tunanetra yang dapat terlihat bila disandingkan dengan pemusik dari kalangan umum. “Pemusik dari kalangan Tunanetra agak kesulitan bila diharuskan memainkan lagu klasik,” ujarsalah satu pemusik Tunanetra, Suryo Pramono. “Setahu saya, hanya ada beberapa pemusik Tunanetra yangbisa memainkan musik klasik dengan baik,”tambah Suryo.

 

Kesulitan ini karena, musik klasik memerlukan notasi dan partitur nada. Sangat jarang musik klasik  yang dapat dimainkan hanya dengan mengandalkan sensitifitas pendengaran dan pengenalan nada. “Musik klasik perubahan nadanya sangat sulit diperkirakan, kadang ada nada yang lompat lompat dalam satu rentang oktaf, iramanya pun kadang sulit diidentifikasi,” ujar Oki. Terkadang tempo yang cepat di bagian lagu tertentu, menyulitkan teman Tunanatra mengenali jenis nadanya.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.