Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Prosa
indonesiana-syarifuddin
Syarifuddin Abdullah
Kamis 11 Januari 2018 23:25 WIB
Dibaca (909)
Komentar (0)

Bertanya dan Mempertanyakan

indonesiana-2018-01-11_Bertanya.jpg

Tiap pertanyaan mengandung keresahan yang dipicu ketidaktahuan dan/atau keinginantahuan sekaligus tanggungjawab.

Dalam dunia akademik yang ilmiah, ada semacam keyakinan intelektual bahwa kehidupan adalah rangkaian pertanyaan-pertanyaan, yang muncul silih berganti dan susul menyusul. Lalu pertanyaan yang terjawablah, yang kemudian membuat hidup dan kehidupan kian berkembang dan makin berkualitas.

Meskipun sarat dengan sentuhan atheisme, namun Steven Hawking, dalam bukunya The Theory of Everything: The Origin and Fate of the Universe, menulis kalimat yang menunjukkan betapa sentralnya pertanyaan dalam memacu sebuah peradaban: “Kualitas paling menonjol pada alam semesta adalah bahwa ia telah menumbuh-kembangkan makhluk yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan”.

Tapi mungkin itu baru separuh kebenaran. Sebab yang sering terjadi: belum utuh jawaban terhadap suatu pertanyaan, muncul lagi pertanyaan susulan. Saat pertanyaan susulan itupun belum juga terjawab, muncul lagi pertanyaan baru, dan begitu seterusnya.

Selain itu, berbagai catatan kronologi peradaban manusia menunjukkan bahwa tak semua pertanyaan menemukan jawaban pada saatnya. Jawaban meyakinkan (jika pun ada) untuk suatu pertanyaaan kadang baru muncul berabad-abad kemudian.

Secara semantik pun, sesungguhnya ada persoalan yang lebih substantif: apakah benar bahwa “bertanya” hanya bisa diungkapkan atau diekspresikan melalui enam kata tanya: apa, siapa, dimana, kapan, kenapa, dan bagaimana? Sebab keenam kata tanya itu lebih untuk sesuatu yang berwujud nyata dan kasat mata.

Apa boleh buat, sejak kecil sampai dewasa-tua, melalui pelajaran di sekolah dasar atau kuliah dan kursus-kursus teknis, keenam kata tanya itu diperkenalkan dan diperlakukan sebagai sesuatu yang baku dan seolah final. Orang yang kursus kewartawanan dasar, misalnya, akan diposisikan profesional jika sudah bisa dengan benar memahami dan mengolah tiap kasus berdasarkan doktrin five double-u plus one ich (5W+1H): what, who, where, when, why and how?

Lantas bagaimana bertanya dan mempertanyakan sesuatu yang abstrak dan tidak kasat mata? Mungkin di sinilah letak kelemahan bahasa dan juga keterbatasan nalar. Para ulama, misalnya, belum tuntas atau belum sampai pada jawaban final tentang apa itu berkah, untuk siapa-kapan-dimana-dan-bagaimana suatu berkah berproses terhadap atau dalam suatu obyek (makhluk hidup atau benda mati).

Menjadi unik karena jawabannya bukan muncul dari ahli syariah, tidak juga dari pakar tafsir, bahasa atau bahkan filosof sekalipun. Tapi dari kaum spiritualis, yang sebenarnya juga tidak menemukan jawabannya, tapi setidaknya menawarkan metode dan cara memperlakukan pertanyaan-pertanyaan abstrak yang tak terjawab.

Dalam praktek dan pengalaman spiritual, seperti pelaku tarikat dan para sufi dalam tradisi Islam, pertanyaan dan jawaban kadang diungkapkan bukan lewat kata dan kalimat, tapi melalui rasa. Bagi mereka, pertanyaan dan jawaban yang disampaikan lewat kata/kalimat menuntut adanya rasionalitas, sementara nalar sering tak mampu atau gagal memahami hal-hal yang bersifat spiritual.

Lalu muncul persoalan susulan: meski keduanya mengandung tanya, tapi ada perbedaan antara “bertanya” dan “mempertanyakan”. “Bertanya” muncul dari ketidaktahuan atau keinginantahuan. Sementara  “mempertanyakan” lebih mengandung keraguan atau sangsi, yang berarti sudah memiliki pengetahuan yang belum utuh tentang sesuatu yang dipertanyakan.

Adalah menarik bahwa dalam bahasa Arab, kata kerja dasar untuk “bertanya” disebut sa-a-la (??????), dengan tiga hurup: sin-alif-lam,  yang berarti meminta dan kadang juga diartikan mengemis. Dari akar kata sa-a-la itu pula, muncul kata mas-u-l (??????????) yang bermakna yang ditanya atau dipertanyakan atau bertanggung jawab atau pejabat.

Setiap pertanyaan, dengan begitu, mengandung konsekuensi. Tiap pertanyaan (baca: permintaan) harus dibarengi kesiapan menanggung konsekuensinya. Jika tidak, atau belum siap menanggung konsekuensinya, ada cara lain: “...Jangan bertanya tentang sesuatu, yang bila dijawab/terjawab justru bisa merepotkan atau membebani kalian” (QS Al-Maidah, ayat 101).

Atau jangan-jangan memang tidak pernah ada yang disebut jawaban tuntas untuk setiap pertanyaan. Agar kita tak gampang terpesona dengan jawaban sendiri. Dengan terus bertanya, hidup dan kehidupan menjadi lebih dinamis dan bergairah, sampai batas yang tak berbatas.

Syarifuddin Abdullah | 11 Januari 2018 / 24 Rabi’ul-tsani1439H.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.