Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Kamis 11 Januari 2018 23:46 WIB
Dibaca (383)
Komentar (0)

Empat Kesalahan Umum Manajer

indonesiana-624606

Banyak manajer dihadapkan pada persoalan serupa: karyawan bersikap acuh tak acuh dalam bekerja. Mereka memang sudah bekerja, tapi para manajer ini melihat bahwa sebagian besar karyawan mereka seperti bekerja pas bandrol. Kurang antusias. Malas mengutarakan gagasan. Miskin inisiatif. Lebih suka disuapi: “Tolong kerjakan ini, ya.” “Kamu seharusnya melakukannya seperti ini.”

Bukan berarti karyawan itu tidak mampu atau tidak memiliki potensi, kapasitas, maupun kapabilitas, tapi ini lebih menyangkut perkara antusiasme. Tidak cukup tersedia hasrat untuk terlibat dalam upaya-upaya mengembangkan bisnis, memikirkan produk baru, cara pemasaran yang berbeda, dan sejenisnya. Mereka enggan mencurahkan kemampuan terbaik meskipun mungkin memilikinya, sedangkan para manajer kebingungan menemukan caranya.

Dengan meminjam pandangan Martha I. Finney dalam bukunya, Engagement, kita dapat menyusuri alasan-alasan mengapa karyawan enggan terlibat aktif dalam proses-proses bisnis. Pertama, sebagai manusia, karyawan ingin ‘dimanusiakan’—walaupun hal ini seringkali tidak mereka ucapkan. Mereka mungkin berbisik-bisik di balik pintu.

Para manajer kerap lupa bahwa mereka memimpin karyawan yang ingin diperlakukan manusiawi—dihargai pendapatnya (meskipun mungkin keliru), diapresiasi kontribusinya (walaupun kecil), dan tidak dianggap hanya sebagai orang yang membutuhkan pekerjaan demi memperoleh penghasilan. Sebagian besar karyawan menginginkan apresiasi lebih dari sekedar gaji dan insentif. Ucapan terima kasih yang segera disampaikan sangat berharga bagi karyawan, sayangnya banyak manajer sukar mengucapkan perkataan ini.

Kedua, banyak karyawan ditempatkan pada bidang-bidang pekerjaan yang tidak mereka sukai. Dalam situasi seperti ini, karyawan cenderung bekerja dengan terpaksa. Sebagian karyawan yang merasa memiliki bakat kreatif akan kesal bila hanya mengerjakaan tugas yang itu-itu saja. Mereka membutuhkan dan menyukai tantangan yang menstimulasi daya kreatif mereka. Sayangnya, banyak manajer kerap melupakan unsur ‘kesenangan’ yang ingin dirasakan oleh karyawan dalam bekerja.

Ketiga, banyak manajer yang merasa dapat memimpin anak buah karena pintar, cakap, cerdas dalam bidang tertentu. Mereka lupa bahwa karyawan juga mengharapkan pemimpin tim yang jujur, apresiatif kepada anak buah, membimbing (coaching) bukan hanya memerintah, serta obyektif—bersikap adil terhadap semua anggota tim.

Keempat, karena merasa sebagai pemimpin tim (bagian, unit, departemen, direktorat), banyak manajer ingin dan senang diperlakukan sebagai bos—mendadak maunya serba dilayani, memutuskan sendiri tanpa mendengarkan suara anggota tim, dan sejenisnya. Manajer seperti ini kerap lupa bahwa sekalipun ia memimpin tim, ia juga bagian dari tim. Cara seorang manajer menempatkan diri di dalam timnya akan memengaruhi bagaimana anggota tim memandang dirinya. Selanjutnya, ini akan menjadi stimulan atau bukan bagi keterlibatan anggota tim dalam proses-proses bisnis yang mereka kerjakan. Karena bos merasa serba tahu, anggota tim enggan mengeluarkan pendapat, sebab akhirnya semua keputusan berdasarkan kemauan bos.

Uang bukanlah satu-satunya alasan, bahkan di banyak tempat bukan alasan utama, bagi karyawan dalam bekerja. Mereka lebih menghendaki pengakuan bahwa kehadiran mereka di lingkungan perusahaan sangat berharga. Bila para manajer mampu membidik hati karyawan terkait soal ini, keterlibatan karyawan dalam berbagai proses bisnis akan lebih cepat terwujud. Emosi positif karena merasa kehadirannya bermanfaat bagi organisasi akan cenderung mendorong karyawan untuk memberi kontribusi terbaik mereka. ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.