Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Alam
indonesiana-Nia S Amira
Nia S Amira 
Selasa 16 Januari 2018 21:58 WIB
Dibaca (3011)
Komentar (0)

Garut, Switzerland dari Jawa

indonesiana-garut.jpg

Garut terletak sekitar 75 km kearah tenggara ibukota propinsi Jawa Barat, nama Garut digunakan sebagai nama kota dan juga kabupaten. Sejarah modern Garut dimulai saat kabupaten Limbangan dipindahkan oleh Gubernur Jendral Daendels pada tahun 1811 karena menurunnya hasil produksi kopi yang menjadi andalan daerah tersebut dan pada 16 Februari 1813, kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut di bawah pemerintahan Letnan Gubernur Stamford Raffles dan sejak itu lah, masyarakat setempat merayakan Hari Jadi kabupaten Garut setiap tanggal 16 Februari. Tahun ini akan ada perayaan besar dalam rangka memperingati Hari Jadi kabupaten Garut yang ke-205.

Kembali ke masa lalu, saat Garut dikenal sebagai Swiss dari Jawa karena keindahan alamnya yang dikelilingi oleh empat Gunung yaitu Gunung Guntur (2249 m), sebagai Gunung yang masih aktif yang terletak di bagian barat, kemudian Gunung Papandayan (2665 m), Gunung Karacak (1838 m) dan Gunung Cikurai (2821 m) sebagai Gunung berapi tertinggi di wilayah Garut.

Pembukaan lahan perkebunan di Garut telah dimulai terutama setelah K.F. Holle membawa benih kacang merah untuk ditanam di negeri penghasil dodol ini, yang diupayakan untuk meningkatkan hasil pertanian di wilayah tersebut pada tahun 1870. Setelah itu diikuti dengan pembangunan hotel-hotel pada tahun 1917 dan sejak tahun 1920-an banyak orang penting dari berbagai belahan dunia mengunjungi Garut, termasuk Perdana Menteri Perancis, George Clemenceau, Charlie Chaplin yang bahkan mengujungi Garut sebanyak dua kali yaitu tahun 1927 dan tahun 1935, kemudian C.J. Scneider yang datang ke Garut saat ia masih berusia 7 tahun, pada tahun 1939 dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka tinggal di Villa Dolce, Hotel Ngamplang di Cilawu, atauHotel Cisurupan di kecamatan Cisurupan.

Garut terkenal hingga ke seluruh dunia, terutama di Eropa oleh panorama dan udaranya yang sejuk mirip musim semi di benua Eropa dan karena topografinya, Garut disebut sebagai Switzerland dari Jawa.Garut memang benar-benar tempat yang menyenangkan untuk “lari” dari hiruk-pikuknya Metropolitan meski hanya untuk waktu yang singkat. Cuacanya yang sangat baik di mana kita dapat merasakan udara segar yang datang dari pegunungan saat kita berada di puncak Samarang. Rasakan hembusan angin yang semilir saat bersampan di Green Kamojang,di tengah-tengah danau buatan yang dikelilingi villa-villa cantik, yang dibangun dibawah kerindangan pohon bambu. Kemudian berpiknik sambil menikmati makansiang di atas rumput hijau yang terhampar bagaikan permadani di dekat kali kecil yang sengaja dibuat untuk mengaliri air pegunungan melalui pipa-pipa kecil yang berakhir di sebuah cerukan. Pemandangan magis yang berasal dari asap kawah yang berada tidak jauh serta bau belerang akan terhirup saat mencapai lokasi kawah Kamojang,salah satu aktivitas geothermal yang masih aktif di Jawa Barat.

Sekitar 15 menit berkendaraan dari Kamojang, kita akan dibuat terpana oleh kecantikan hamparan bunga yang indah yang berada di taman seluas 5 hektar,seolah-oleh sedang berada di Surga. Taman Mawar ini merupakan taman buatan dan meski disebut Taman Mawar, namun di dalamnya terdapat berbagai jenis bunga. Taman ini dibagi menjadi beberapa zona misalnya zona bunga mawar, azalea, begonia, kana, zona tumbuh-tumbuhan air, bahkan zona tanaman kaktus raksasa dan ilalang yang ditata mirip Savana. Kebanyakan dari bunga-bunga tersebut merupakan bunga khas Eropa. Taman yang luas ini dibangun diatas ketinggian 1,150 meter di atas permukaan laut. Terdapat bungalow-bungalow cantik yang dibangun di sudut area untuk melengkapi keindahan panorama sekitarnya. Taman Bunga dibuka untuk umum dengan harga tiket masuk yang terjangkau. Di toko cinderamata, ada berbagai produk dengan tema bunga mawar seperti mug bunga mawar, gantungan kunci bunga mawar, dan masih banyak lagi yang pantas dijadikan oleh-oleh.

Untuk mengakhiri perjalanan pada hari itu, setelah melakukan perjalanan selama 4 jam dari Jakarta, mandi berendam air panas di daerah Cipanas akan menjadi terapi yang menyegarkan sekaligus menyehatkan bagi tubuh. Ada banyak hotel dan penginapan yang menawarkan mandi air panas di kamar-kamar pribadi yang dirawat dengan baik selama 20-30 menit. Pilihan lain adalah berenang di kolam Olimpik bersama keluarga atau teman-teman.

Nyanyian burung-burung membangunkan dari tidur lelap di pagi yang tenang itu. Setelah sarapan dengan menu khas, tur dimulai dengan mengunjungi pusat Batik khas Garut yang biasa disebut Batik Garutan. Tidak ada data yang pasti mengenai sejarah Batik di kabupaten Garut, namun Batik sudah dibuat oleh penduduk Garut sejak abad ke-17 hingga saat ini. Karel Frederik Holle, yang namanya diabadikan sebagai nama jenis kacang merah karena kesuksesannya membawa benih tersebut dan mengembangkannya di Garut adalah seorang Administrator Perkebunan Teh di Cikajang yang mencintai Seni & Budaya Sunda dan mendorong masyarakat Garut untuk membatik dengan membuat kain-kain Batik yang indah di komplek perkebunan di waktu senggang mereka setelah bekerja. Kerja keras Holle mencapai hasil yang gemilang dan rakyat Garut menyukainya.

Menuju ke pusat produksi kulit adalah sesuatu yang wajib jika mengunjungi Garut dan berita tentang kualitas terbaik dari hasil kerajinan kulit Garut ini sudah tersebar hingga ke seluruh Asia dan di masa datang akan menjadi salah satu sentra pasar produksi kulit yang terbaik di dunia, tentunya dengan dukungan penuh dari pemerintah setempat. Berbagai hasil produk kulit yang sangat baik dapat dijumpai di Sukaregang, mulai dari dompet kecil dalam berbagai motif dan warna yang kebanyakan dibuat dari kulit sapi. Banyak yang terkejut saat penjaga toko mengatakan bahwa dompet yang bermotif kulit ular itu ternyata terbuat dari kulit sapi. Setiap model yang ada mengikuti tren yang sedang berkembang di dunia fashion dan harganya sangat terjangkau, jauh dari harga yang ditawarkan oleh toko-toko yang ada di kota-kota besar mau pun luar negeri dan tentusaja sangat baik untuk koleksi anda.

Matahari tepat di atas kepala, namun berada di Garut tidak akan berkeringat,udaranya sangat ramah, seramah penduduknya yang kerap tersenyum dan memberi salam saat bertemu dengan seseorang di jalan sekali pun. Coba lah makan di restoran setempat yang terkenal dengan sambal Cibiuknya. Restoran yang menyajikan menu khas Garut ini sudah ada cabangnya di beberapa kota besar, namun untuk mencicipi keorisinilan rasa, tentunya makan di tempat asalnya akan lebih berbeda. Makan gaya Rijstafel Sunda di mana seluruh menu dihidangkan di atas meja,kebanyakan adalah menu ikan, termasuk ikan asin, berbagai macam masakan khas Garut yang hanya memakai bahan-bahan yang segar dan tentu saja tidak ketinggalan lalapan.

Kombinasi ikan goreng segar atau ikan pepes (baca: pepes ikan mas) yang dimakan bersama lalapan dan sambal serta ditemani alunan degung musik Sunda dari perangkat CD membuat makan siang menjadi komplit.

Sebelum kembali ke Jakarta, mengunjungi candi Hindu yang dibangun pada abad ke-8 yang ditemukan di Jawa Barat akan menambah pengetahuan sejarah masa lalu. Candi Hindu yang disebut juga sebagai candi Cangkuang itu terletak di desa Kampung Pulo, Cangkuang, Leles, kabupaten Garut. Seperti candi-candi Hindu lainnya, candi Cangkuang dibuat dari batu-batu andesit.Gaya arsitekturnya mirip dengan candi-candi Hindu yang ada di Jawa Tengah, satu masa dengan candi Dieng dan Prambanan. Sekitar tiga meter kearah Selatan dari candi, terdapat makam Arief Muhammad, yang dipercaya penduduk sebagai sesepuh masyarakat di desa Cangkuang pada masa Islamisasi orang-orang Sunda di abad ke-17.

Getek bambu adalah alat transportasi yang digunakan untuk menyebrangi danau sebelum sampai ke candi Cangkuang. Getek ini merupakan alat transportasi yang dilestarikan dan sudah dipakai sejak jaman dahulu.

Garut terkenal dengan berbagai jenis cemilan, dan saat ini banyak turis domestik mau pun mancanegara yang berburu Chocodot, yaitu cokelat yang diisi dengan dodol yang sudah menjadi trade mark Garut sejak lama. Beberapa bungkus kulit sapi atau kulit kerbau yang disebut Dorodok atau Kerupuk kulit selalu menjadi oleh-oleh favoritsiapapun yang berkunjung ke Garut. Ada banyak tempat wisata yang patut dikunjungi di Garut dan tidak lah cukup jika hanya tinggal selama dua hari. Baik bapak Budi Gan Gan, SH., M.Si., kepala dinas pariwisata dan budaya kabupaten Garut mau pun bapakMamun, S.Pd., M.Pd., kepala bidang pariwisatamenyarankan kepada para pelancong yang ingin mengunjungi Garut agar tinggal lebih lama lagi sehingga banyak yang dapat dilihat di tanah yang sarat sejarah ini, pantainya yang indah, kebun jeruk Garut, air terjun yang menawan dan masih banyak objek wisata alam yang mempesona dan akhirnya setiap orang akan tahu mengapa Garut disebut sebagai Switzerland dari Jawa.

Oleh: Nia S. Amira

Penulis, jurnalis dan linguis dari Indonesia. Ia menulis tentang budaya, hubungan internasional, multi-kulturism dan masalah-masalah religius. Artikelnya sudah dipublikasikan di lebih dari 30 media yang terbit di Eropa, Asia dan Amerika Serikat.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.