Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 03 Februari 2018 19:40 WIB
Dibaca (2200)
Komentar (0)

Sejarah Sains dan Antusiasme Ibrahim Sabra

indonesiana-Sabra_A_Ibrahim.jpg

 

Dalam ranah sejarah sains Muslim, nama Abdelhamid Ibrahim Sabra memiliki tempat khusus. Ia memperoleh tempat terhormat di antara sarjana sejarah sains dunia berkat pengabdiannya yang tekun dan kontrobusinya yang berbobot dalam sejarah sains Islam. Kendati sudah pensiun sebagai guru besar sejak 1996, kontribusi Sabra masih diperlukan di Harvard University sebagai profesor emiritus hingga ia meninggal lima tahun yang lampau.

Minat Sabra pada sejarah sains sudah muncul sejak ia berusia muda. Pada 1950, di usia 26 tahun, pemerintah Mesir mengirim Sabra untuk belajar di London School of Economics. Di kampus terkemuka ini, Sabra mengerjakan disertasinya dalam filsafat sains di bawah bimbingan sosok yang dihormati di bidang ini, Karl Raimund Popper—filsuf sains paling berpengaruh pada abad ke-20 yang dikenal dengan teori falsifikasinya maupun karyanya The Open Society and Its Enemies dan The Poverty of Historicism. Disertasi Sabra, yang diterbitkan dengan judul Theories of Light from Descartes to Newton, dipuji sebagai telah membuka wawasan baru mengenai kontribusi ilmuwan Muslim terhadap perkembangan sains.

Kendati tidak pernah kehilangan minat pada sains modern di awal perkembangannya, Sabra sangat mashur oleh kontribusinya pada studi sains Muslim di abad pertengahan. Secara khusus, Sabra memberi perhatian besar pada optika dan karya ibn al-Haytham, yang dianggap sebagai scientific thinker terbesar dalam tradisi keilmuan Islam. Ia menulis ulasan yang tekun mengenai karya terbaik ibn al-Haytham, Kitab al-Manazir atau Kitab Optik, menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan memberi komentar.

Telaah Sabra terhadap berbagai teks ilmiah penting yang dihasilkan para sarjana dan ilmuwan sepanjang sejarah Islam telah membukakan wawasan mengenai kontribusi para ilmuwan ini. Sabra mempertanyakan cara pendekatan Barat yang Eurosentris dalam membaca sejarah intelektual Muslim dan mengungkapkan kontribusi penting para sarjana Muslim abad pertengahan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Sabra tidak setuju dengan pemahaman Pierre Duhem yang menyebutkan bahwa para sarjana Muslim hanya mentransfer ilmu pengetahuan Yunani kuno. Sabra menunjukkan bukti-bukti bahwa sarjana Muslim selain menerjemahkan juga mengritik karya Yunani serta memberi kontribusi orisinal—pemikiran Sabra ini berpengaruh besar pada kajian selanjutnya dan dikenal sebagai tesis Sabra.

Secara khusus Sabra menyoroti sumbangan ibn al-Haytham di bidang optik maupun dalam pendekatan eksperimentasi yang dilakukan ibn al-Haytham dalam mengonstruksi pengetahuan alam—bukan hanya teoritis, terlebih lagi bukan spekulatif seperti dipraktikkan oleh pemikir Yunani pada umumnya. Pengabdiannya di bidang sejarah sains yang tidak pernah berhenti membuat Sabra dianugerahi George Sarton Medal oleh History of Science Society, sepuluh tahun setelah ia pensiun sebagai guru besar di Harvard.

Karya-karyanya yang membuka horison telah meninggalkan pengaruh bukan saja dalam pemahaman para sarjana mengenai isu-isu sejarah sains tapi juga sejarah intelektual Muslim pada umumnya. Studi mengenai sejarah sains Muslim menjadi jauh lebih menarik berkat kontribusi Sabra, yang memperlihatkan bahwa ia bukan hanya seorang akademisi yang profesional melainkan seorang pecinta sejarah sains yang antusias. Karena itu, bukan hanya karya ilmiah yang berpengaruh, tapi antusiasme Sabra yang luar biasa juga menular pada sarjana-sarjana lain yang memiliki minat pada sejarah sains. (Foto: Ibrahim Sabra; sumber: muslimheritage.com) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.