Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-Nugrohoali
Nugrohoali 
Senin 26 Februari 2018 22:06 WIB
Dibaca (983)
Komentar (0)

Pentingnya Menggaet Milenial di Pilbup Jabar

indonesiana-graduation_silhouette.jpg

Dalam pilgub di Jawa Barat, kaum milenial jadi rebutan para kandidat politik. Suara mereka sangat menentukan. Komisioner KPU Jawa Barat, Endun Abdul Haq, menyebut jumlah mereka adalah sekitar 30 persen (jabar.kpu.go.id).

Siapa pemilih milenial? Milenial, atau dikenal juga dengan sebutan generasi Y, singkatnya adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Disebut ‘milenial sebab satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini dihembuskan oleh Karl Manheim, ‘The Problem of Generation’ (1923) (tirto.id).

Terkait tahun-tahun lahirnya milenial, terdapat banyak versi. Iconoclast, sebuah firma riset konsumen, menyebut milenial pertama lahir tahun 1978. Sebuah majalah berita mingguan di Amerika menyebut gen milenial lahir antara 1977-1994. New York Times menyebut antara 1976-1990 dan 1978-1998. Sedangkan tulisan di majalah ‘Time’ menyebut milenial antara 1980 – 2000 (whatis.techtarget.com).

Beberapa studi riset di Amerika, seperti dilakukan oleh Pew Research Center (2010) dan Boston Consulting Group (2011) menyimpulkan ciri-ciri ‘milenial’ sebagai berikut: (1) Millennial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah; (2) Millennial lebih memilih ponsel dibanding TV; (3) Millennial wajib punya media sosial; (4) Millennial kurang suka membaca secara konvensional; (5) Millennial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka; (5) Millennial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif; dan (6) Millennial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless (student.cnnindonesia.com).

Selain itu, berdasarkan statistik bersumber Pew Research, 50 persen dari milenial mengaku tidak memiliki afiliasi secara politik. Di Jawa Barat, seperti disampaikan salah satu kandidat Jawa Barat, pemilih milenial masih memandang politik sebagai ‘kebisingan’, dipenuhi informasi tertangkapnya pejabat oleh aparat atau KPK, perdebatan, kritikan dan bully yang tidak menyenangkan. Itu sebabnya angka 30 persen pemilih milenial di Jawa Barat (data KPU Jabar) bisa sia-sia apabila para kandidat tidak berhasil mendekati mereka.

Lalu bagaimana strategi masing-masing kandidat merebut hati milenial agar mereka mau berpartisipasi dalam pilgub Jabar dan terutama mau memberikan dukungan suaranya kepada masing-masing mereka?

***

Diawali dari pasangan nomor satu: RINDU (Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum. Sejauh ini, pasangan RINDU dianggap lebih dekat dengan gen milenial ketimbang pasangan lainnya. Beberapa fakta lain: (i) usia pasangan RINDU lebih dekat dengan generasi milenial dibandingkan ketiga pasangan lainnya; (ii) Ridwan Kamil adalah sosok yang sangat interaktif dengan milenial terutama melalui medsos.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komaruddin, mengatakan bahwa pemilih milenial – yang jumlahnya 30 persen – kemungkinan besar memilih pasangan RINDU. 

Terlepas dari itu, bagaimana cara RINDU mendekati milenial? “Berbahasalah seperti milenials”, ucap RK (dekrit.com). Pasangan RINDU merangsang partisipasi milenial dengan cara mengenali dan berbaur ke dalam dunia mereka misalnya gaya bahasa mereka. Cara tersebut efektif dalam mengajak mereka berpartisipasi termasuk di dalam politik.

RK mencontohkan: ‘Gunakan demokrasi untuk memenangkan masa depanmu. Cuekmu hari ini adalah deritamu di masa depan’. Contoh lain ketika RK mengimbau agar masyarakat bersedia menjaga kebersihan di Bandung. Dengan himbauan yang humoris ala milenial, dia mengatakan: “Wahai warga milenial Bandung, buanglah sampah pada tempatnya, buanglah mantan pada temannya”.

Itulah yang dimaksud memenangkan hati milenial dengan mengenali dunia mereka. Dengan mendalami dunia milenial, Pasangan RINDU juga bisa mengenali persoalan milenial: bagaimana mendapat pekerjaan dan perjodohan. Selain itu, pejabat politik harus self-introspection dan menyadari bahwa milenial memerlukan pemahaman yang baik atas politik. Partai politik harus menjadi corong bagi edukasi politik: bahwa politik tidak hanya perebutan kekuasaan melainkan juga menyangkut layanan publik.

***

Pasangan nomor urut dua, 'asyik' (Sudrajat-Ahmad Saikhu) masih menyembunyikan perihal strategi pendekatan mereka dalam menggaet pemilih pemula kalangan muda milenial. Dengan rendah hati, cagub ‘asyik’, Sudrajat mengakui bahwa dirinya belum memahami dunia aktifitas kaum muda milenial yang serba digital. Dia hanya menyebut dirinya sebagai orang tua milenial.

Tetapi dia menyadari dan menegaskan pentingnya bonus demografi kaum muda milenial. Keberadaan mereka harus mendapat perhatian betul dan diarahkan agar menjadi lebih produktif. Dia memandang bahwa adalah sebuah persoalan jika mereka terikat dengan gadget tetapi tidak menguasai teknologi. Oleh sebab itu, mereka tidak boleh dibiarkan begitu saja terikat dengan gadget. Mereka harus menguasai teknologi bukan sekedar jadi pengguna saja.

Kesadaran itu membawa Sudrajat untuk turut memikirkan bagaimana mengupayakan agar keberadaan milenial Jawa Barat menjadi lebih baik. Dia menyebut dia memiliki tim khusus untuk memberdayakan gaya dan kebiasaan anak muda menjadi lebih baik.

Sedangkan pasangan nomor urut empat, Deddy-Dedi, menyatakan pentingnya sosialisasi seluas-luasnya dari KPU, partai hingga komunitas kepada masyarakat. Sebagaimana pasangan 'Asyik', 'Deddy-Dedi' juga belum menyebutkan siasat atau strategi khusus dalam mendekati 'milenial'. Dedy Mizwar – dalam acara #KandidatJabarDiRosi yang disiarkan oleh saluran Kompas TV – bahkan mengatakan tidak ada masalah dengan milenial. Itu sebabnya dia belum memikirkan strategi khusus.

Tetapi cawagub 'Deddy-Dedi', Dedi Mulyadi, memberi pandangannya tentang milenial. Dia mengatakan bahwa dunia mode kaum milenial erat kaitannya dengan berkembangnya teknologi. Sementara dia melihat problem bangsa adalah soal kepemilikan tanah, pertanian hingga usaha nelayan yang tertinggal. Dengan itu, Dedi hendak mengubah semangat selfie kaum muda menjadi semangat produktif. Mereka harus diarahkan pada pengembangan teknologi pertanian dan kesesuaian kurikulum yang produktif.

Sedangkan pasangan ‘Hasanah’ (TB. Hasanuddin – Anton Charliyan) benar-benar belum memberikan keterangan mengenai pandangan dan strategi khusus menggaet milenial. Pasangan ini tidak hadir di dalam acara #KandidatJabarDiRosi sehingga melewatkan pertanyaan penting dari Rosi Silalahi soal pandangan dan strategi khusus menggaet milenial.

Tetapi mengingat pentingnya isu milenial di Jawa Barat dan jumlahnya yang tinggi, yakni 30 persen, tentu saja pasangan ini tidak mungkin melewatkan segmen pemilih ini. Ada kemungkinan, pasangan ini beserta timnya tentu mempertimbangkan keberadaan milenial.

Alhasil menarik ditunggu keseriusan dan langkah-langkah yang lebih  spesifik lagi dari keempat pasangan kandidat Jabar ini. Kelihaian meracik strategi mendekati milenial adalah sangat penting bagi peluang kemenangan mereka.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.