Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Handoko
Handoko  Widagdo
Selasa 27 Februari 2018 07:33 WIB
Dibaca (1246)
Komentar (0)

Jejak Literasi Relawan Nusantara

indonesiana-Jejak_Literasi_Relawan_Nusantara.jpg

Judul: Jejak Literasi Relawan Nusantara

Penulis: Eko Cahyono, dkk.

Editor: Teguh W. Utomo

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: TBM RB MEP Jombang

Tebal: xx + 213

ISBN: 979-602-7510-14-2

 

Buku ini adalah hasil dari Program Residensi Pegiat Literasi (RPL) tahun 2017 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program Residensi dilakukan di tiga tempat, yaitu di Padang, Jombang dan Jogjakarta. Buku pertama yang dihasilkan dari para peserta RPL di Padang diberi judul “Ketika Sesuatu Harus Dituliskan.” Buku kedua yang dihasilkan oleh para pegiat literasi yang nyantrik di Jombang diberi judul “Jejak Literasi Relawan Nusantara” dan buku ketiga yang ditulis oleh para peserta RPL di Jogjakarta diberi judul “Satu Taman Banyak Cerita.”

Jika ingin mempelajari Taman Bacaan Masyarakat (TBM), bacalah ketiga buku tersebut. Sebab ketiga buku di atas mengungkapkan bagaimana TBM dikelola, siapa pengelolanya, bagaimana mendanainya, bagaimana mereka membangun jaringan dan mencari mitra, dan apa saja kegiatan yang dilakukannya. Para penulisnya pun adalah para pelaku itu sendiri. Para aktifis dengan segala kesukarelaannya.

Buku kedua ini adalah hasil karya para relawan peserta kegiatan Residensi di TBM Nusantara Kampung Literasi Menturo Sumobito Jombang. Berbeda dengan buku pertama “Ketika Sesuatu Harus Dituliskan” karya para peserta residensi di Padang, karya para relawan dari Jombang ini lebih banyak bercerita tentang pengalamannya sendiri mengelola TBM. Meski hampir semua dari mereka menuliskan pengalamannya mengelola TBM, namun Teguh W. Utomo sangat berhasil membingkai tulisan-tulisan tersebut dalam empat frame. Memang tidak sempurna, karena menyatukan gaya menulis bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi proses menulisnya dan editingnya dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas. Terima kasih Mas Teguh W. Utomo yang sudah berupaya keras sehingga buku ini enak dinikmati frame by frame.

Bagian pertama ini memuat tulisan dari Eko Cahyono, Sugeng Haryadi, Andriyatna, Faizal Fadilla dan R. Prawangsa Jayaningrat. Eko Cahyono mengawali frame pertama. Ia mengisahkan bagaimana ia tertarik pada dunia baca-membaca dan tulis-menulis sampai akhirnya mendirikan TBM Anak Bangsa. Salah satu kegiatan TBM Anak Bangsa adalah “Gerakan Ayo Menulis.” Ia memilih tema kegiatan menulis sesuai dengan hari besar. Pada Hari Ibu ia mengajak peserta untuk menulis apa saja tentang Ibu. Saat Hari Pahlawan ia mengajak peserta untuk menulis tentang pahlawan (hal. 8).

Pengalaman Sugeng lain lagi (hal. 11-23). Sebagai seorang anak miskin tapi suka membaca, Sugeng seperti balas dendam saat mendirikan “Armada Pustaka” di Lampung. Pemuda Ponorogo yang lulus D2 Kepustkaaan ini merantau ke Lampung dan bekerja di bengkel motor. Bermodal motor GL Max rongsokan dan buku yang dibelinya dari pengumpul kertas bekas, Sugeng mulai membawa buku ke desa-desa di sekitar tempat kerjanya. Kegigihannya ini menarik berbagai pihak untuk ikut bergabung sebagai relawan di Armada Pustaka.

Andriyanta mengisahkan bagaimana ia bersama para pengurus TBM Kuncup Mekar membangun kembali TBM-nya paska gempa Yogyakarta. Faizal Fadilla menceritakan kegelisahannya sehingga terdampar di Rafe’I Ali Institute di Banten. Banten yang telah melahirkan novel terkenal “Max Havelaar” tersebut ternyata kini adem dari kegiatan intelektual, membaca, diskusi dan menulis. Melalui Rafe’I Ali Institute diharapkan gairah intelektual di Banten kembali tumbuh. Sedangkan R. Prawangsa Jayaningrat mengisahkan betapa susahnya membangun budaya baca di antara para perempuan di Lombok.

 

Pada frame kedua tampil tulisan Cici, Rohani, Rere, Ine Yuniar S. dan Adhita. Cici berkisah tentang Project Sophia di Poso pasca konflik. Literasi dipakai sebagai sebuah pendekatan untuk menyembuhkan trauma. Project Shopia sangat kaya dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak. Dalam kegiatan membaca, kegiatan mengorganisir peredaran buku di antara anak-anak selalu melibatkan mereka dalam perancangan, pemilihan buku bacaan dan pelaksanaannya. Bahkan sampai dengan evaluasinya (hal. 53-65). Sedangkan Rohani mengisahkan bagaimana ia merintis pengembangan budaya baca di Sumbawa. Melalui TBM Durian ia melakukan berbagai cara untuk menarik anak-anak datang membaca buku.

Rere menuturkan pengalamannya menggunakan pendekatan personal untuk membangun kemitraan dengan TBM Berau Coal, sebuah perusahaan pertambangan batubara. Ine Yuniar mengisahkan pengalamannya bersama TBM Al-Hidayah yang dipayungi oleh Yayasan Jabal Rohmad. Ia menceritakan tentang program-program TBM Al-Hidayah dan bagaimana ia membangun jejaring dengan Dinas Pendidikan (hal. 75). Adhita memberikan tips-tips mengelola TBM.

 

Frame ketiga memuat tulisan Rini Nur Azizah, Nining, Komang Sukayasa, Rusni dan Widyawati Prayitno. Azizah mengisahkan Sanggar Kepenulisan Pena Ananda dari sejak berdirinya, program-programnya dan bagaimana sanggar ini membangun kerelawanan (hal. 85). Nining bertutur tentang TBM di Kaliwungu-Kendal. Bagaimana TBM tersebut membangun minat baca para anak di sekitar TBM dan bagaimana membangun kemitraan dengan berbagai pihak; pemerintah dan swasta (hal. 93). Bahkan TBM ini pernah diminta untuk mengajukan anggaran ke APBN!

TBM Widya Santhi Mandiri berkiprah di desa terluar Pulau Bali. Komang Sukayasa membeberkan kegiatan-kegiatan TBM ini serta suka dukanya bergerak di wilayah terluar. Komang berkisah tentang bagaimana TBM mendanai operasionalnya melalui usaha-usaha seperti ternak ayam dan ternak babi (hal. 105). Berbeda dari penulis yang lain, Rusni dan Widyawati bercerita tentang perangkat daerah yang juga berperan dalam pendidikan masyarakat. Rusni bererita tentang Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) untuk membelajarkan masyarakat di Gorontalo. Widyawati Prayitno berkisah tentang integrase literasi dengan budaya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

 

Frame keempat diisi oleh Ahmad Ikhwan Susilo, Saiful Jamil, Purgiwati, Rozikul Anam dan Septiana. Ahmad Ikhwan Susilo membagikan pengalamannya ndarus bersama remaja di Kediri. Saiful Jamil berkisah tentang TBM Bukit Pintar di Ogan Kmering Ulu, Sumatra Selatan. Purgiwati membagikan strategi pengembangan minat baca termasuk kendala-kendalanya. Rozikul Anam berbagi pengalamannya bergelut dengan TMB Surau yang mendekatkan buku kepada anak dan Septiana berkisah tentang TBM Tunas Harapan.

Melihat pengalaman-pengalaman para relawan mengelola dan mengembangkan TBM kita patut berbangga. Sebab tidak semua dari mereka menikmati pendidikan tinggi. Namun mereka adalah intelektual yang secara sadar dan giat ingin membangun bangsanya. Pengalaman-pengalaman yang dibagikan ini bisa menjadi inspirasi bagi pegiat lain dan pihak-pihak yang tertarik untuk ikut serta meningkatkan literasi anak bangsa.

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.