Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-kang
Kang Nasir
-
Minggu 04 Maret 2018 12:31 WIB
Dibaca (1121)
Komentar (0)

Anis Baswedan dan Beban Asmara

indonesiana-ANIS.jpg

Janganlah aku dirayu

Janganlah aku kau goda

Tak senggup kumenahan

Beban kasih asmara

Beban kasih asmara

 

Barangkali penggalan syair lagu lawas dengan judul "Beban kasih asmara"  diatas, cocok untuk menggambarkan tentang  sikap yang harus diambil oleh Anies Baswedan  terkait banyaknya spekulasi, simulasi  maupun hasil survey  dalam rangka menghadapi Pemilihan Presiden 2019.

Saat ini banyak berseliweran pendapat soal kemungkinan jika Anis Baswedan ikut dalam kontestasi Pilpres 2019 baik sebagai Presiden maupun wakil Presiden. Alvara Research misalnya, telah merilis hasil survey dengan menyatakan bahwa Anis Baswedan paling disetujui responden untuk mendampingi Prabowo Subiyanto, angkanya mencapai 60% (Kompas.com 23/02/2018).

Anggap saja semua itu sebagai kembang dari dinamika politik di Indonesia, sebaiknya Anis Baswedan bernyanyi saja, "Janganlah aku dirayu, Janganlah aku kau goda, Tak sanggup kumenahan,Beban kasih asmara''.

Syair  itu bisa menggambarkan soal bagaimana harus Istiqomah, jika yang dimaksud oleh lagu itu soal perjalanan cinta (asmara), maka dalam konteks ini saya maksudkan sebagai bentuk Istiqomah dalam soal politik dan kepemimpinan lantaran masih ada tanggung jawab besar yang harus diselesaikan.

Kita tahu bahwa Anis Baswedan adalah pemimpin (Gubernur) DKI, tidak usahlah buru buru untuk mencalonkan sebagai Presiden Republik Indonesia, menjadi Gubernur DKI sebetulnya Anies sudah menjadi pemimpin Indonesia dalam tanda petik karena DKI adalah miniatur dari Indonesia itu sendiri.

Orang kampung bilang, masalah Indonesia sejatinya ada di Jakarta, yang tidak ada hanya soal "geografis", sedangkan yang lainnya lengkap, seperti soal budaya, ekonomi termasuk soal politik tumplek blek ada di Jakarta.

Intinya sebaiknya Anis menolak soal rayuan dari pihak pihak yang ingin menjadikan sebagai calon Presiden 2019, mengapa?, jawabnya gampang, yakni nyanyikan saja syair "Janganlah aku dirayu".

Anis Baswedan juga seharusnya tidak usah silau oleh godaan apapun termasuk godaan Jabatan yang disodorkan oleh para pialang politik untuk maju ke Pilpres 2019, mudah saja jawabnya, nyanyikan syair "Janganlah aku kau goda".

Penolakan seperti itu sangat wajar dengan alasan bahwa Anis Baswedan masih punya beban. Jika ada yang bertanya beban apakah gerangan yang ada di pundak Anis Baswedan, maka jawabnya sangat gampang, nyanyikan saja syair "Tak sanggup kumenahan,Beban kasih asmara''.

Ya, Anis Baswedan baru beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur DKI, artinya beliau masih punya beban yang harus diselesaikan sesuai dengan janji saat sebelum menjadi Gubernur, beban itu tak lain adalah soal  kasih asmara.

Jika ada yang bertanya apa hubungannya antara Gubernur dengan asmara, jawabnya gampang saja, jangan selalu mengartikan asmara dengan soal cinta, betul jika menurut sang empunya lagu, asmara pasti berhubungan dengan cinta, tetapi dalam konteks ini, asmara  berhubungan dengan persoalan politik dan kepempinan, Anis Baswedan masih punya beban asmara yakni Aspirasi masyarakat Jakarta yang menginginkan Anies Baswedan  bisa membenahi Jakarta, maka dari itu masyarakat Jakarta memilih Anis Baswedan (diluar yang tidak milih) untuk  menjadi Gubernur DKI.

Memang tidak mudah bagi Anis Baswedan untuk mengambil sikap seperti ini, tapi saya menyarankan agar Anis Baswedan kemudian menyanyikan bagian awal dari syair lagu Beban kasih Asmara yang liriknya berbunyi;

Hanya padaMU Yang Maha Kuasa

Kuminta kau sadarkan cinta

Padaku yang diracuni asmara.

Hanya itu yang bisa saya sarankan untuk Anies Baswedan, kata pepatah "tiap masa ada orangnya, tiap orang ada masanya", mungkin Anis bisa mengambil yang terahir, bisa jadi Anies masanya adalah yang akan datang, sekarang biarlah orang lain mengambil masa itu!

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.