Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Putu Suasta 
Politisi Demokrat
Kamis 08 Maret 2018 20:45 WIB
Dibaca (1544)
Komentar (0)

AHY, The Rising Star Politik Indonesia di Era Milenial

indonesiana-maxres.jpg

Pertemuan Presiden Jokowi dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dua hari lalu semakin menguatkan desas-desus politik tentang ketertarikan kubu Jokowi untuk menggandeng putra sulung Presiden RI ke-6 tersebut dalam Pilpres 2019 mendatang. Lebih dari desas-desus, peluang untuk berpasangan dengan AHY sesungguhnya adalah kesempatan emas yang takkan dilepaskan oleh kubu manapun demi memperbesar peluang memenangkan kontestasi.

Magnet Pemilih Muda

Pemilu 2019 digadang-gadang sejumlah pegiat media akan menjadi pembuktian paling sahih hegemoni pemilih muda (terutama kaum milenial) dalam politik Indonesia. Jejak-jejak kekuatan kelompok ini telah terlihat dalam  Pilpres periode lalu dan sejumlah Pilkada di berbagai tempat. Namun, di tahun 2019 kelompok milenial diprediksi sudah lebih matang dan mantap menyalurkan aspirasi politik mereka dan turut mempengaruhi opini publik lewat berbagai perangkat digital yang mereka kuasai.

Di sejumlah negara penetrasi kaum milenial  di ranah politik memunculkan fenomena baru yakni kemenangan tokoh-tokoh muda. Sebut saja Emmanuel Macron di Perancis, Juri Ratas di Estonia, Groysman di Ukraina dan sejumlah nama lainnya. Mereka sekarang tercatat sebagai Presiden atau Perdana Menteri termuda di negaranya masing-masing bahkan di dunia. Tokoh-tokoh muda ini sebelumnya dipandang sebelah mata oleh para analis politik konvensional dan juga tidak diperhitungkan sebagai saingan yang berarti oleh para politisi senior. Tapi kemampuan pemilih muda terutama mereka yang diasosiakan sebagai digital natives dalam menggalang dukungan, menjungkirbalikkan prediksi para pengamat konvesional dan mengejutkan para politisi senior.

Berkaca pada tren di atas dan dengan mempertimbangkan populasi pemilih muda di Indonesia sekitar 60 %, siapapun yang akan berlaga di Pilpres 2019 nanti mesti menemukan cara paling efektif untuk menarik simpati kelompok ini. Berpasangan dengan tokoh muda atau tokoh yang menjadi idola kaum muda merupakan cara terbaik. Dalam konteks inilah opsi berpasangan dengan AHY menjadi pilihan sine qua non (syarat tanpa kata tidak) bagi kubu manapun. Dengan profilnya sebagai tokoh muda, ganteng, disertai pemikiran dan ide-ide yang dinamis dan fresh, AHY kini diasosiasikan para milenial sebagai alternatif terbaik dari tokoh-tokoh politik lama. Data-data dari sejumlah survey yang menempatkan AHY dalam top ranking bursa Cawapres membuktikan tesis ini. Dengan mempertimbangkan jam terbangnya yang relatif masih sangat pendek di dunia politik, kita semakin yakin popularitas dan elektabilitas AHY meroket cepat sebagian besar karena preferensi kaum milenial terhadap tokoh ini.

Infrastruktur Politik

Kita tentu tidak bisa mengandaikan begitu saja bahwa AHY merupakan satu-satunya tokoh muda yang berhasil mencuri hati kaum milenial. Ada beberapa tokoh muda yang sering menghiasi diskusi-diskusi politik di lini masa media sosial. Tapi tokoh-tokoh muda ini relatif kurang mendapat sorotan radar politik praktis karena minimnya infrastruktur.  Dalam kaitan ini, AHY memiliki kelebihan dibandingkan tokoh muda manapun. Dia adalah putra sulung dari pendiri sekaligus Ketua Umum sebuah partai besar yang telah memiliki infrastruktur politik lengkap dan solid. Di bawah kepemimpinan ayahnya Partai Demokrat telah bangkit secara signifikan dari badai yang sempat menimpa akibat ulah beberapa kadernya di masa lalu. Indikator terbaru: pada Pilkada 2017, partai berlambang mercy ini berada di urutan ketiga dalam urutan partai pemenang. Demokrat berhasil menang di 45 daerah, hanya kalah dari Nasdem (47 daerah) dan Golkar (54 daerah).

Dengan dukungan penuh Partai Demokrat, AHY akan lebih mudah memperbesar elektabilitas, membangunan jaringan-jaringan pendukung di seluruh Indonesia dan menarik tokoh-tokoh masyarakat untuk bergabung dengan jaringan politiknya.

Daerah Basis

Selain dukungan mesin partai yang solid, AHY juga akan memperbesar peluang kemenangan secara signifikan berkat basis massa loyal yang telah memenangkan ayahnya (SBY) dalam dua kali Pilpres. AHY cukup populer di kalangan pemilih di Pulau Jawa sebagai basis pemilih terbesar di Indonesia dan di Jakarta sebagai basis pemilih terbeslar kedua. AHY yang lahir di Bandung akan lebih muda diasosiakan masyarakatnya sebagai bagian dari mereka. Jawa Timur pernah bangga karena salah satu putra terbaiknya  merupakan pemimpin tertinggi negeri ini melalui pemilihan langsung selama dua periode (SBY). Tentu mereka akan berusaha mengembalikan kebanggaan itu melalui putra sulung dari tokoh yang dulu mereka banggakan. Sementara di Jakarta, AHY telah memiliki basis massa berkat keikutsertaannya dalam Pilkada Jakarta tahun lalu.

Dua faktor di atas, akan membantu AHY secara  signifikan mampu mengkonversi dukungan masif dari generasi milenial menjadi kemenganan dalam kontestasi politik. Maka tidak berlebihan rasanya kalau menyebut AHY sekarang sebagai the rising star politik Indonesia di era milenial ini. Wajar saja kalau semua kubu sekarang mendekat padanya.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.