Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-wiji
Wiji Al Jawi
Jumat 09 Maret 2018 04:00 WIB
Dibaca (1074)
Komentar (0)

Orang Tua dan Buzzer Sosial Media, Modal Utama Politisi Muda

indonesiana-legislator.jpg

DPR RI 2014-2019 diisi beberapa politisi muda. Nama besar orang tua berperan mengantarkan mereka ke Senayan.

 

Sebut saja Prananda Paloh (lahir September 1988) anak dari ketua umum Partai Nasdem, Surya Paloh. Kemudian Amrullah Amri Tuasikal (lahir Maret 1988) anak dari mantan Bupati Maluku Tenggara, Abdullah Tuasikal. Juga Karolin Margret Natasa (lahir Maret 1982) anak dari Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis.

 

Namun usia muda dan nama besar orang tua tidak serta merta membuat mereka mampu mendongkrak kinerja parlemen. Tidak terdengar gebrakan mereka, misalnya, terkait kinerja DPR yang tak pernah mencapai 50 persen dari target legislasi.

 

Publik malah baru mendengar kabar politisi muda Senayan saat mereka terkena berita miring, seperti saat terjadi kasus video “mirip” Karolin Margret Natasa di tahun 2012 (saat itu dia menjadi anggota DPR periode 2009-2014) atau panas dingin hubungan Amrullah Amri Tuasikal dengan pedangdut Cita Citata.

 

Buzzer Media Sosial Sebagai Modal Politik

 

Memasuki pemilu 2019, nama Tsamara berkibar di antara politisi muda yang bertekad maju ke Senayan. Kiprahnya bermula di media sosial (medsos), sekira tahun 2014, saat dimana Jokowi berhasil memenangkan pemilihan Presiden.

 

Kegigihan membela Jokowi di medsos telah menabalkan gelar buzzer di awal karir politik Tsamara. Namun statusnya sebagai perempuan berdarah Arab, membuat Tsamara memiliki nilai strategis bagi poros politik Jokowi-Ahok, poros politik bermodal besar yang mampu mengorbitkan seseorang melalui polesan citra media.

 

Modal inilah yang membuat Tsamara mudah naik kelas, meninggalkan level buzzer yang bersifat keroyokan, dan mulai dikenal sebagai individu. Pada 2015, Tsamara diundang Jokowi ke Istana sebagai pegiat medsos. Tahun 2016, Tsamara diangkat menjadi staf magang Ahok.

 

Namun usia muda dan kekuatan publisitas tidak menjamin Tsamara akan lebih baik dari politisi muda lainnya di Senayan. Karena rekam jejak Tsamara selama ini lebih banyak berkutat di dunia medsos.

 

Mencari Caleg Yang Tidak Mengandalkan Orang Tua dan Cuap-cuap di Medsos

 

Karena itulah publik dan media alternatif perlu mencari caleg dengan rekam jejak advokasi yang jelas. Politisi muda yang berkualitas dan berintegritas, namun luput dari perhatian karena lebih suka bekerja daripada mencari popularitas.

 

Caleg muda ini harus bebas dari utang kepada kaum pemodal. Utang yang akan menghambat tugas advokasi mereka. Meskipun pemodal tersebut mampu menyediakan kekuatan buzzer dan polesan citra media.

 

Caleg muda ini juga harus bebas dari utang kepada dinasti politik. Utang yang akan menghambat distribusi sumber daya ekonomi secara demokratis. Karena dinasti politik cenderung memutar sumber daya ekonomi berdasarkan hubungan kekerabatan.

 

Caleg muda ini ada, walau tidak terliput media arus utama dan terselip di antara keriuhan buzzer. Mereka adalah harapan yang tersisa. Mereka membutuhkan dukungan kita.

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.