Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Kurniawan Agus 
Senin 09 April 2018 09:23 WIB
Dibaca (490)
Komentar (0)

Apotehosis

indonesiana-apoth.jpg

Apotheosis

Di dalam novel karya Dan Brown yang berjudul The Lost Symbol, sang tokoh utama yaitu Robert Langdon menerangkan tentang lukisan karya Brumidi di kubah gedung Capitol Amerika Serikat yang dinamai Apotheosis, yang menurut Wikipedia arti dari Apotheosis adalah perubahan manusia biasa menjadi dewa, sehingga layak disembah. Di dalam lukisan itu yang berubah menjadi dewa adalah bapak Negara itu sendiri yaitu George Washington yang di dalam lukisan itu di dikelilingi oleh bermacam dewa-dewi beserta para tokoh besar lain seperti Benjamin Franklin, Morse, dan Robert Fulton. Pertanyaannya, mengapa Washington bisa sampai pada titik itu yaitu dielu-elukan bak dewa oleh masyarakat kala itu?

Kita ingat bahwa Presiden pertama Amerika serikat ini adalah tokoh penting dalam berdirinya Amerika Serikat sebagai Negara merdeka, tentu saja tujuannya adalah untuk membebaskan rakyat Amerika dari pasung kolonial Inggris kala itu. Kita dapatkan satu kata kunci yaitu “membebaskan”, dan inilah yang membuat Washington layak untuk dilukis dalam perubahan menjadi dewa dan memang setelah berdirinya, Amerika melesat sebagai Negara super power penguasa dan pemimpin segala-semua di muka bumi ini, hingga sekarang. Ini berarti Washington telah berhasil dalam upaya untuk memberdayakan rakyatnya hingga menjadi negara paling disegani, dan kita dapatkan kata kunci berikutnya yaitu “memberdayakan”. Lihat, Washington makin layak untuk menjadi dewa bahkan lebih dari dewa itu sendiri, bukan? Dan di negara ini Apotheosis pun terjadi belakangan ini, namun dengan cara dan sebab yang berbeda sama sekali.

Di era yang serba canggih ini yang boleh dibilang sebagai puncak peradaban manusia yang sedari dulu dirintis oleh para pemikir dan penemu, juga di mana pendidikan dapat dikatakan merata, ternyata tak dibarengi dengan kemampuan sebagian golongan untuk berpikir kritis, namun boleh dikatakan evolusi cara berpikir tengah mundur ke pola berpikir “kultus” kepada seseorang—yang menurut hemat penulis lebih cocok untuk masyarakat tak terpelajar, macam rakyat negara ini yang “memasrahkan” diri pada bapak pendiri bangsa yang terpelajar pada masa awal-awal kemerdekaan dahulu.

Belakangan ini kita kerap melihat di media sosial betapa cepatnya sebagian golongan tersulut oleh percikan provokasi. Padahal kebanyakan yang bermain di media sosial itu adalah mereka yang mempunyai dasar pendidikan yang cukup—apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang hidup di masa awal-awal kemerdekaan. Sulutan itu bakal menghebat jika yang memantik adalah dia yang diagung-agungkan sebagai yang secara tak sadar mereka menganggap dia mustahil untuk keliru, maka tanpa proses rasionalisasi, apapun yang dikatakan olehnya sudah seperti sebuah titah mutlak.

Padahal jika direnungkan (barangkali sebagian masyarakat di negara ini tak meluangkan untuk merenung), ternyata dia yang diagung-agungkan di masa ini tak memberi sedikitpun manfaat bagi siapa yang mengagungkan itu, malah sebaliknya: popularitas dan posisi tawar dia-yang-diagungkan melesat, bak dewa. Bisakah ini disebut lucu? Karena di saat kita hidup di puncak peradaban ini ternyata Apotheosis terjadi dengan  cara dan sebab yang terbalik dengan masa di mana Washington hidup, jika Washington berubah menjadi dewa lantaran “membebaskan”, di negara ini dia-yang-diagungkan berubah menjadi dewa lantaran “memasung” karena tak ada kesempatan untuk pengikutnya berpikir mendalam, yang pada akhirnya tak peduli pada kenyataan bahwa rata-rata pengikutnya adalah mereka kaum terpelajar, dia-yang-diagungkan telah dapat untuk “memanfaatkan” mereka dan berubah menjadi dewa, yang di masa dulu Washington berubah menjadi dewa dengan cara “memberdayakan.” Bisakah ini dibilang lucu?




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.