Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Budaya
indonesiana-tempoid-default
Yuli Ria
Senin 09 April 2018 14:50 WIB
Dibaca (417)
Komentar (0)

Ketika Joki Cilik Lebih Memilih Kuda daripada Sekolah

indonesiana-20180321_1044271.jpg

“Pernah ngalamin luka atau jatuh, ga waktu ikutan pacu kuda?” tanya saya.

“Pernah, lima kali jatuh, trus ketimpa kuda. Penyet,” jawabnya sambil tertawa.

Usianya baru lima belas tahun, tingginya sekitar 130 cm, dan beratnya baru mencapai 35 kg. Menurut saya perawakan tubuhnya tergolong ringkih. Tapi, siapa sangka kalau ternyata ia sudah mampu menaklukan kuda-kuda pacu yang memiliki tinggi rata-rata160cm. Namanya Aris. Ia dikenal sebagai salah satu joki berbakat di Aceh Tengah. Tak terhitung berapa perlombaan pacu kuda yang pernah ia ikuti sejak usia tiga belas tahun. 

Joki Cilik di Pegasingan, Aceh Tengah

Kabupaten Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang masih melestarikan pacu kuda tradisional. Tradisi ini dilakukan oleh suku Gayo, suku tertua yang mendiami dataran tinggi di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, saat menanti panen padi. Walaupun kenyataannya saat ini kuda-kuda yang ikut dalam pacuan sudah bukan seratus persen kuda lokal. Pada tahun 1990-an pemerintah setempat mendatangkan kuda-kuda dari Australia lalu melakukan kawin silang dengan kuda lokal. Kuda lokal Aceh Tengah dikenal dengan sebutan kuda Gayo. Tinggi rata-rata kuda ini adalah 120 cm. Kuda-kuda hasil perkawinan silang tersebut diberi nama kuda AstaGa, Australia-Gayo. Para joki dalam pacu kuda tradisional ini umumnya anak-anak dan tidak memakai pelana dan pelindung kepala.  

Kuda hasil perkawinan silang kuda Australia - Gayo

Saya bertemu dengan Aris pada 21 Maret 2018 untuk wawancara sebuah program televisi. Ia masih terlihat malu-malu ketika saya ajak berbicara dan tidak mau melepaskan topinya. Pada perayaan HUT Aceh Tengah pada 11 Maret 2018, Aris menjadi juara pertama, seingat saya untuk kategori B Tua. Saya tidak begitu ingat kriteria kuda dan joki dalam setiap kategori perlombaan pacu kuda di sini. Aris mengaku sudah beberapa kali mendapat juara pertama dalam berbagai perlombaan pacu kuda, baik yang ada di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Hadiah terbesar yang pernah ia terima sebesar Rp 15 juta. “Uangnya buat jalan-jalan sama kasih orang tua.”

Aris mengaku sudah mengenal tradisi pacu kuda tradisional di Aceh Tengah sejak kanak-kanak. Awalnya ia ikut lomba pacu kuda hanya iseng dan diajak oleh teman. Lama-lama Aris semakin tertarik hingga akhirnya ia memilih tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA. “Enak jadi joki aja,” katanya. Walaupun Aris tidak melanjutkan sekolah lagi, ia masih menyimpan cita-cita besar. Aris bercita-cita menjadi polisi. Kalau tidak berhasil jadi polisi, ia ingin menjadi guru SD. Menurut Aris menjadi seorang guru SD itu menyenangkan karena bisa mengajar anak-anak. Tapi, kalau sekolahnya tidak dilanjutkan, ga bisa, dong jadi polisi atau guru? Aris hanya tersenyum malu sambil terus menarik-narik rumput di hadapannya ketika saya tanyakan soal realisasi cita-citanya itu. Lalu, saya tanyakan lagi niatnya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, jawaban Aris tidak berubah. Tapi, tidak semua joki cilik di Aceh Tengah mengorbankan sekolah demi menjadi joki. Saya juga sempat bertemu dengan joki cilik di Kecamatan Bintang, Aceh Tengah yang masih sekolah. Kalian yang tertarik menyaksikan pacu kuda tradisional di Aceh Tengah ini bisa datang saat perayaan HUT Aceh Tengah pada bulan Februari dan perayaan HUT RI. 

Joki cilik memandikan kuda di tepi Danau Lut Tawar, Bintang, Aceh Tengah

Aris tinggal bersama saudaranya di sekitar lapangan pacu kuda H.M Hasan Gayo, Pegasing, Aceh Tengah. Sehari-hari ia bertugas merawat dan melatih kuda milik orang. Aris dan kebanyakan joki cilik di Aceh Tengah umumnya tidak memiliki kuda. Dalam setiap perlombaan, mereka membawa kuda-kuda milik orang lain. Ketika Aris memenangi suatu perlombaan, semua uang hadiah akan diserahkan dulu ke si pemilik kuda lalu kemudian dibagi dua. Berdasarkan penuturan Aris, jumlah pembagian tidak sama rata. Si pemilik kuda tetap mendapat jumlah yang lebih besar. Di usianya yang masih anak-anak, Aris sepertinya tidak merasa keberatan dengan pembagian hadiah yang tidak seimbang itu.

Joki cilik melatih kuda di lapangan H.M Hasan Gayo, Aceh Tengah

Aris terlihat begitu menikmati setiap momen lomba pacu kuda yang ia ikuti. Ia pun termasuk rajin memposting foto-foto saat tanding atau pun latihan di akun facebooknya. Saya jadi ngeri sendiri ketika membayangkan bocah dengan badan kecil dan kurus itu seandainya jatuh dari kuda. Dan ternyata, sudah lebih dari lima kali ia jatuh dari kuda yang ditungganginya. Momen jatuh yang paling ia ingat adalah ditimpa kuda sesaat setelah keluar dari gerbang start. Saat itu usianya masih tiga belas tahun. Sulit membayangkan bagaimana anak dengan bobot sekitar 30kg ditimpa kuda yang bobotnya lebih dari 200kg itu? Tapi, Aris sama sekali tidak kelihatan trauma! “Sempat pingsan, terus dibawa ke rumah sakit, terus dikusuk habis itu ga papa lagi.” Salah seorang pelatih kuda yang mengenal Aris membenarkan cerita tersebut. Hanya saja Aris tidak seketika itu juga ditimpa kuda. Ada sedikit rongga antara tubuh kuda dan tubuh Aris sehingga Aris bisa segera dilarikan ke rumah sakit. Tetap saja menurut saya, peristiwa itu cukup mengerikan untuk dialami seorang anak kecil.

Dalam pacu kuda professional yang kita sering saksikan baik di media massa maupun secara langsung, para joki wajib menggunakan pelana dan atribut pengaman diri. Akan tetapi, bagi Aris menggunakan pelana adalah masalah karena menurutnya risiko kaki tersangkut lebih besar. Bocah ini lebih senang menunggang kuda tanpa pelana dan atribut lainnya. Enggak sakit nunggang kuda tanpa pelana? “Kalau kuda lokal gak terlalu sakit. Kalau kuda besar (kuda AstaGa) biasanya sakit. Kuda besar memang harus pakai pelana,” jawab Aris.  Biasanya selepas lomba Aris merasakan bagian bawah perutnya sakit. Kata Aris cukup dengan dikusuk atau dipijat maka hilanglah rasa sakit itu. Saya pun menanyakan pendapat Aris terkait bahaya lomba pacu kuda yang melibatkan anak-anak dan tanpa pengaman itu. Aris menolak jika lomba pacu kuda tradisional disebut berbahaya. “Mana ada bahaya. Ini namanya hobi. Hobi mana bisa ditahan-tahan walau bahaya,” jawab Aris sembari tersenyum

Sayangnya, di usianya yang masih belia Aris tergolong perokok aktif. Saya perhatikan ia setiap berbicara, terlihat gigi depannya mulai muncul garis-garis hitam kekuningan. Selepas wawancara saya melihat ia bersama teman-teman yang bukan sebayanya asyik menghisap rokok. Akh, Aris.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.