Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Nizwar Syafaat 
Senin 16 April 2018 01:08 WIB
Dibaca (865)
Komentar (0)

Kisruh Eggi Versus Istana

indonesiana-DSC_7319_copy_-_Copy.jpg

Kisruh Eggi vs Istana dan partai pendukungnya (PDIP, Go;kar, Nasdem. PPP) merupakan pengulangan kisruh Amien vs Jokowi (Luhut), terjadi karena salah tafsir atas kritik yang dilontarkan oleh Eggi kepada Pemerintahan Jokowi.  Eggi mengkritik bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia merupakan kemiskinan struktural karena kesalahan kebijakan.  Lalu yang membuat miskin siapa: presiden atau Allah?

Saya terpaksa menulis masalah kemiskinan ini karena saya memahami tentang konsep kemiskinan.  Sebagai anggota masyarakat, maka saya wajib menyampaikan hal ini kepada masyarakat agar masyarakat mendapat pencerahan tentang kemiskinan . Mohin maaf apabila penjelasan dalam tulisan ini ada yang tidak berkenan tetapi saya mengungkapkan berdasarkan data objektif.

 

Kritik Eggi

Eggi Sudjana menyebut bahwa ‘Presiden bikin rakyat miskin’ dalam ceramahnya di mesjid.  Selanjutnya pernyataan tersebut dielaborasi sebagai berikut: (seperti yang ditulis dalam media online ww.liwatman.com tanggal 15 April 2018):  “Jadi yang pertama statement saya yang membuat ‘presiden yang membuat rakyat miskin’ itu bersama DPR. Kenapa? Karena menurut UUD ’45 pasal 5 ayat 1, Presiden itu membuat hukum bersama DPR,” ujar Eggi dalam perbincangan. Eggi lalu berbicara mengenai fenomena kemiskinan yang ada di masyarakat. Menurut Eggi, yang terjadi saat ini adalah kemiskinan struktural.“Kemiskinan struktural, karena kebijakan itu terjadi karena secara struktur baik itu Presiden maupun DPR. Itu yang saya pertanyakan,” ujar Eggi, “Dan Presiden itu jangan sensitif cuma Jokowi. Dari Sukarno sampai Jokowi. Itu yang saya maksud Presiden. Pemahaman saya ini didasarkan pada pemikiran hukum berbasis teori ekonomi kemiskinan struktural,” sambung Eggi Eggi kemudian menyoroti fungsi DPR. Menurut Eggi DPR tidak menjalankan fungsinya dengan baik.“Yang tanggung jawab ya presiden dan DPR. Jadi orang DPR jangan ngeles. Mana fungsi itu, fungsi budgeting, pengawasan jalannya pemerintahan? Apakah jalan? Nggak ada yang berani manggil Presiden sampai saat ini,” ujar Eggi.

Pihak istana menjawab kritikan Eggi dengan menunjukkan fakta bahwa terjadi penurunan angka kemiskinan di Inodnesia.  Jadi tidak benar Presiden membuat rakyat jadi miskin. Kondisi sosial ekonomi masyarakat i Indonesia mengarah ke arah yang lebih baik Jawaban itu senada dengan jawaban para politisi pendukung pemerintahan. Kritik Eggi harus pakai data.  Dengan demikian, pihak istana sesungguhnya tidak menjawab kritik Eggi sesuai dengan maknanya yaitu kemiskinan structural.. 

 

Kemiskinan Struktural

Berikut saya jelaskan kemiskinan struktural dengan data.  Pendapatan rata-rata penduduk Indonesia tahun 2016 sebesar Rp 47.96 juta jauh di atas garis kemiskinan sebesar Rp 4.6 juta (BPS, 2017).  Kalau kita mau jujur dengan total pendapatan nasional yang demikian besar mencapai Rp12.406,8 trilliun, seharusnya tidak ada masyarakat miskin lagi di Indonesia. Tetapi mengapa dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 47.96 per kapita per tahun masih ada penduduk miskin sebanyak 26.58 juta orang? Itu terjadi karena ada lapisan masyarakat kelas atas memperoleh kue pendapatan nasional terlalu besar, sedangkan masyarakat bahwa mendapatkan kue pendapatan nasional sangat sangat kecil.  Ketimpangan ekonomi tersebut yang menyebabkan rakyat miskin.  Dan untuk mengentaskan rakyat miskin hanya bisa melalui pengurangan ketimpangan ekonomi dengan berbagai kebijakan ekonomi yang progresif yang revolusioner untuk memperbesar bagian kue masyarakat miskin.

 

Benarkah Presiden Jokowi Membuat Rakyat lebih miskin ?

Selama tiga tahun pemerintahan Jokowi, nilai indek gini mengalami penurunan tapi tidak signikan dari 0.408 menjadi 0.393 (BPS).  Data lain menunjukkan bahwa selama periode yang sama telah terjai peningkatan kekayaan secara signifikan  40 orang terkaya di Indonesia meningkat dari Rp 1.127 trilliun (US$ 86.760) menjadi Rp 1.616 trilliun (US$ 119.720) atau meningkat Rp 163 Trilliun per tahun (forbes).  Berdasarkan dua fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa kebijakan ekonomi selama tiga tahun pemerintahan Jokowi menghasilkan ketimpangan yang stagnan. 

Terjadinya penurunan angka kemiskinan selama periode yang sama lebih banyak disebabkan oleh bantuan sosial dan hasil pengentaskan penduduk miskin tidak bersifat permanen.  Jumlah penduduk miskin selama periode tersebut berfluktuatif.  September 2014 sebanyak 27.73 juta naik pada Maret 2015 menjadi 28.59 juta lalu  turun pada September 2015 menjadi 28.51 juta, turun lagi pada Maret 2016 menjadi 28.01 juta dan turun lagi pada September 2016 menjadi 27.76 juta lalu  naik lagi pada Maret 2017 menjadi 27.77 juta dan turun lagi pada September 2017 menjadi 26,56 juta.  Penurunan jumlah penduduk miskin tidak stabil yang menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan bukan terletak pada bantuan sosial tapi ada pada struktur ketimpangan ekonomi yang belum mampu diturunkan oleh pemerintah,

Dengan demikian, bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia bersifat struktural.  Oleh karena itu penyelesaian melalui perbaikan struktur ketimpangan ekonomi, dan yang bisa menurunkan ketimpangan adalah kebijakan Presiden.

 

Jalan Keluar dan Usulan Program 

          Ini hanya usulan bukan ingin mengajari, sangat baik apabila pihak istana menjawab kritikan Eggi sebagai berikut: “ Ya memang benar apa yang dikatakan Eggi bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia adalah kemiskinan struktural yang disebabkan oleh ketimpangan ekonomi. Pemerintah sedang melakukan pengetasan kemiskinan sekaligus perbaikan ketimpangan ekonomi melalui program MENGGENDONG RAKYAT MISKIN OLEH PARA PENGUSAHA”  

          Program ini dilatarbelakangi keinginan pemerintah untuk mengikutsertakan semua komponen bangsa untuk berpartisipasi dalam pengentasan kemiskinan.  Pengusaha sebagai salah satu lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menggendong rakyat miskin, karena mereka telah banyak membantu perekonomian bangsa ini, sekaligus mereka telah banyak mendapatkan keuntungan, mungkin lebih dari yang seharusnya.

          Dengan jawaban seperti itu, jelas tidak akan menimbulkan kisruh dan saling lempar data. Kegaduhan bisa dihindari.  Skore bisa 1:1 Eggi vs Istana. Adapun   detail Program menggendong rakyat miskin akan diuraikan pada tulisan berikutnya.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.