Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Mohamad Cholid 
Senin 16 April 2018 04:21 WIB
Dibaca (433)
Komentar (0)

#SeninCoaching: Menjaga Keseimbangan Dua Lautan

indonesiana-in_the_conjunction_of_two_seas.jpg

Leadership Growth: In the Conjunction of Two Seas

 

Mohamad Cholid

Practicing Certified Business and Executive Coach.

 

He has let lose the two seas. They meet.

 Between them is a barrier, (which) they do not cross. – The Beneficent (QS 55: 19-20)

 

Hari itu khotbah Musa demikian cemerlang. Usai khotbah di antara hadirin ada yang bertanya, apa ada di dunia ini orang yang lebih pintar darinya dalam pengetahuan tentang anugerah Langit. Musa menjawab, tidak ada. Segera Tuhan menegur Nabi Musa, atau Moses (Bible), mengingatkan: Selalu ada yang mengetahui lebih banyak dibandingkan seseorang, tentang apa pun. Dalam kaitan dengan Musa kali itu, khususnya pengetahuan menyangkut urusan ajaran Tuhan.

Musa kemudian mengikuti “GPS Langit”,  petunjuk Tuhan, pergi mencari lokasi bertemunya dua lautan, untuk menemui orang yang lebih pandai darinya. “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut,…” kata Musa kepada pembantunya (QS 18: 60).

Sebagaimana diriwayatkan, ketika Musa kemudian berhasil ketemu Nabi Khidr dan diterima untuk belajar lebih dalam tentang berbagai dimensi kehidupan dan ajaran Tuhan, syarat utama yang wajib dipenuhi Musa adalah bersikap sabar. Tidak mempertanyakan hal-hal yang dilakukan Khidr, tokoh yang mengetahui dengan baik perilaku orang-orang (yang merasa dirinya) pintar cenderung mempertanyakan hal-hal yang dianggapnya tidak “rasional”.

Ada tiga ujian yang dihadapi Musa. Pertama, Khidr melubangi perahu yang mereka naiki. Musa mempertanyakan itu. Kedua, Khidr membunuh seorang anak yang masih belia, Musa memprotes, karena dianggapnya itu tidak berperikemanusiaan. Ketiga, ketika mereka tiba di suatu kota, Khidr mengajak Musa membantu menegakkan kembali dinding yang hampir roboh di sebuah rumah milik dua anak yatim tanpa bayaran apa pun, sementara warga kota itu tidak juga menjamu mereka. Musa keberatan, kenapa kerja memperbaiki dinding tidak minta ongkos.

Atas perilaku Musa yang tiga kali telah tidak sabar dan menonjolkan rasionalitasnya itu, Khidr memutuskan berpisah. Ia menjelaskan kepada Musa, ketiga tindakannya itu bukan kemauan dirinya, tapi perintah Tuhan.

Kata Khidr, “perahu milik nelayan tersebut aku bikin bocor supaya tidak diambil oleh penguasa di wilayah itu yang suka merampas setiap perahu bagus. Anak belia itu bakal membahayakan orang tuanya, mengajak sesat, maka perlu dihentikan. Di bawah dinding yang hampir roboh tersebut ada harta milik orang tua kedua anak yatim. Orang tua mereka soleh dan simpanan itu dapat mereka manfaatkan saat sudah dewasa.”

Perjalanan Musa, pribadi yang sangat rasional, menemui orang yang lebih pintar darinya, Khidr, yang bertindak berdasarkan ilmu laduni (langsung dari Tuhan) di wilayah “tempat bertemunya dua lautan”, dalam tradisi Islam oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai pentingnya menyeimbangkan syariat dan ma’rifat.

Untuk urusan dunia, kisah Musa dan Khidr dapat diinterpretasikan memberikan pembelajaran dua hal mendasar dalam kepemimpinan organisasi.

Pertama, merasa diri sudah paling pintar bisa menyebabkan sesat. Kecenderungan yang sering tidak dapat dielakkan oleh orang-orang sukses ini ternyata membahayakan banyak pihak.

Menurut perspektif leadership growth berdasarkan Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC), perilaku kepemimpinan semacam itu dapat merugikan diri eksekutif yang bersangkutan dan membahayakan organisasi yang dipimpinnya. Utamanya dapat menghambat upaya-upaya perbaikan kinerja. Sehingga organisasi kehilangan orientasi.

Kata seorang CEO salah satu perusahaan di list Fortune 100, yang sudah mengalami rollercoaster kehidupan dalam bisnis, “Success can lead to arrogance. When we become arrogant we quit listening. When we quit listening we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (I am Successful, MGSCC).

Pernyataan lugas dari seseorang yang sudah mengalami jatuh bangun dalam bisnis itu tentunya layak dicamkan. Bersikap rendah hati menerima masukan dan feedforward dari para stakeholders menjadi kebutuhan wajib untuk mengembangkan efektivitas kepemimpinan setiap eksekutif, di pelbagai level.

Dari pengalaman Marshall Goldsmith di banyak organisasi di pelbagai negara  membantu para eksekutif agar menjadi lebih efektif, ada saja orang yang merasa paling pintar dan menolak berubah sesuai saran dan masukan stakeholders (keluarga, atasan, bawahan, dan kolega). Satu diantaranya sebut saja Harry.

Dalam pertemuan-pertemuan sebelum coaching engagement mulai, ketika Marshall Goldsmith menyodorkan pendapat para stakeholders-nya, hasil asesmen 360 derajat, Harry memperlihatkan superioritasnya, menganggap dirinya telah dikelilingi orang-orang bingung, termasuk istri dan anak-anaknya. Sebagai sarjana psikologi, Harry menganalisis bahwa merekalah yang harus berubah, sambil menyorongkan pembenaran diri, perilakunya yang tidak efektif adalah justified

Apa yang terjadi kemudian? Harry, chief operating officer yang selama ini dikenal kerja keras, cerdas, dan menghasilkan revenue mengesankan, akhirnya diminta mengundurkan diri oleh perusahaan. “Evidently the CEO had concluded that an individual who actively resist help has maxed out professionally and personally,” kata Marshall Goldsmith (Triggers, 2015). Orang yang keukeuh menolak masukan dan bantuan biasanya memang akan menjadi beban organisasi. Karirnya mentok.

Bagi Anda, utamanya yang sungguh-sungguh ingin jadi lebih hebat, sebaiknya melakukan evaluasi diri dengan mendalam, mau berhenti tumbuh di level sekarang atau cukup rendah hati memanfaatkan peluang menjadi lebih berprestasi dengan berterima kasih pada para stakeholders yang memberikan masukan jujur, lantas segera ambil langkah nyata untuk berubah.

Tidak perlu banyak excuses. Jangan sampai Anda jadi “a reasonable person” dan berhenti berkembang karena selalu memberikan reasons saat diajak menjemput peluang menjadi pribadi yang lebih baik, pemimpin yang lebih efektif.  

Pembelajaran kedua dari kisah Musa dan Khidr adalah pentingnya keseimbangan antara rasionalitas dan faith (keyakinan), ibarat dua lautan yang bertemu, saling melengkapi.

Dalam banyak hal, termasuk saat membuat business plan, keseimbangan kerja otak dan kejernihan hati, “rasa”, ternyata menentukan keberhasilannya. Business plan tradisional biasanya sangat head-centered, penuh data statistik, dan segala yang logic lainnya. Kata-kata “kami sudah membuat perencanaan bisnis dengan perhitungan matang” umumnya membuat kalangan eksekutif sudah nyaman, terlena – lalu melakukan segala hal sama seperti dulu, doing business as usual.

Dalam praktik dan sesuai pengalaman di pelbagai industri, pembuatan rencana bisnis dengan pendekatan tradisional yang sangat head-centered, rasional, dan rigid tersebut cenderung tidak membuahkan hasil positif. Karena umumnya disiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan normatif organisasi.

Business plan yang terbukti efektif, terutama dalam menghadapi dinamika Abad 21, memerlukan keseimbangan hasil kerja yang sangat rasional dan kekayaan hati, melibatkan keyakinan, nilai-nilai, yang diperjuangkan bersama oleh tim dan pemimpinnya. Business plan yang membuahkan hasil siginfikan ibarat “mahluk hidup”, dapat menggugah seluruh tim untuk fully engaged, memiliki fleksibilitas.

Sikap kepemimpinan dan keterlibatan hati para leaders sangat menentukan untuk “menghidupkan” sebuah business plan.

Tantangan para eksekutif dan leaders adalah menjaga gelombang “dua lautan yang bertaut” dalam perilaku kepemimpinan masing-masing. Menjaga keseimbangan kepentingan jangka panjang yang visioner dengan langkah-langkah efektif berdasarkan realitas saat ini. Mengelola life purpose organisasi agar diterjemahkan dengan baik ke dalam how to run the show.

Penting sekali untuk mengenali dengan mendalam level of commitment setiap anggota tim dan tingkat kompetensi masing-masing dalam setiap tugas, sebelum Anda mendelegasikan tugas tersebut kepada mereka. Ini perlu ditekankan karena masih sering terdengar kalimat normatif dari kalangan eksekutif kepada timnya begini: “Pendelegasian sesuai tugas dan fungsi masing-masing ya …”.

Kalimat yang bernada instruktif tersebut mungkin bisa membuat si eksekutif merasa sudah menjalankan tugasnya. Lalu selesai di situ. Dia sama sekali tidak melakukan observasi mendalam bagaimana tingkat komitmen dan kompetensi masing-masing anggota timnya dalam menjalankan tugas. Bahkan dia keukeuh menolak masukan dari koleganya.

Anda, sebagai orang yang berkualifikasi menjadi leader yang efektif, tentunya setuju bahwa sikap eksekutif dalam kasus diatas sangat merugikan semua pihak, termasuk membahayakan karir eksekutif bersangkutan.

Menjaga keseimbangan level of commitment dan tingkat kompetensi setiap anggota tim untuk tugas-tugas spesifik dengan pendekatan kepemimpinan yang fit untuk masing-masing, akan membuat kita memimpin lebih efektif. Setiap anggota tim memiliki tingkat kesiapan berbeda untuk tugas masing-masing. Kewajiban pemimpin adalah mengelola dengan baik kekuatan setiap anggota timnya untuk dioptimalkan menghasilkan prestasi.    

 

Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

n  Certified Marshall Goldsmith Global Leader Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(www.nextstageconsulting.co.id)  

 

 

 

    




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.