Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-syarifuddin
Syarifuddin Abdullah
Senin 14 Mei 2018 00:51 WIB
Dibaca (1311)
Komentar (0)

Edan Sungguh, Pelaku Bom Surabaya dari Satu Keluarga

indonesiana-2018-05-14_Pelaku_Bom_Surabaya_Satu_Keluarga.jpg

Jika adik-kakak yang telah dewasa terlibat dalam satu aksi pengeboman, sudah sering terjadi. Beberapa kasus lainnya melibatkan seseorang bersama iparnya, seseorang bersama menantunya, seseorang bersama mertuanya, seseorang bersama suaminya atau seseorang bersama istrinya.

Namun keterangan yang menyebutkan bahwa pelaku bom kembar tiga di Surabaya pada 13 Mei 2018 melibatkan satu keluarga yang terdiri dari 6 orang (ayah-ibu dan empat anak kandung) sungguh di luar jangkauan nalar yang paling radikal sekalipun.

Sangat sulit bahkan mungkin mustahil menemukan alasan keagamaan atau justifikasi rasional tentang bagaimana mungkin seorang ayah rela melibatkan dan mengorbankan istri dan anak-anaknya, atau seorang ibu rela mengorbankan anak-anaknya, khususnya jika anak-anak itu belum mencapai usia balig yang sempurna. Lalu bagaimana bisa seorang anak yang baru berusia 12 tahun dapat terlibat atau melibatkan diri (atau mungkin dipaksa) dalam sebuah aksi pengeboman.

Berdasarkan data awal, aksi bom pertama (pukul 07.33 WIB); disusul ledakan kedua (07.53 WIB), kemudian ledakan ketiga (08.01 WIB). Saya membayangkan bahwa kemungkinan pelaku bom pertama adalah sang anak lelaki; pelaku bom kedua adalah istri bersama anaknya; dan bom ketiga akan dilakukan oleh sang ayah. Dengan asumsi bahwa sang ayah akan memastikan lebih dahulu istri dan anak-anaknya telah mengeksekusi target, sebelum akhirnya si ayah sendiri mengeksekusi target dan dirinya sendiri.

Sungguh edan. Saya belum pernah – mohon dikoreksi jika salah – menemukan atau membaca kisah-kisah heroik para mujahid muslim dalam catatan sejarah Islam, yang melakukan aksi jihad normal (pertempuran) dengan melibatkan sekaligus satu keluarga, khususnya melibatkan anak-anak.

Saya membayangkan cara dan proses indoktrinasi dalam keluarga R Dita Oepriarto berlangsung sangat intens. Bahkan seorang teolog radikalisme sekelas Amman Abdurrahman atau Abu Bakar Ba’asyir mungkin sekali akan geleng-geleng kepala, dan bertanya-tanya: kok bisa? Proses indoktrinasi apa gerangan yang menjadi acuannya?

Mengulas dan menganalisa kasus keluarga pelaku bom di Surabaya tak cukup lagi cuma sekedar mengacu pada teori-teori lawas. Semua aksi peledakan yang menyasar korban tak bersalah adalah perilaku irasional.

Kesimpulan sementara saya: tidak satupun pisau analisis atau teori atau bahkan sekedar basis teori ataupun peristiwa historis, yang dapat dijadikan acuan untuk mengulasnya. Dan poin inilah yang membuat kasus peledakan bom kembar tiga di Surabaya menjadi sangat dahsyat.

Syarifuddin Abdullah | 14 Mei 2018 / 28 Sya’ban 1439H




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.