Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Keluarga
indonesiana-tempoid-default
Deas Markustianto 
Senin 28 Mei 2018 12:36 WIB
Dibaca (2698)
Komentar (0)

Membentuk Anak Menjadi Perwujudan Gotong Royong Masa Kini

indonesiana-gambar-4-kerukunan-di-masyarakat.jpg

Gotong royong merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Gotong royong adalah sikap melakukan secara bersama-sama suatu pekerjaan fisik yang awalnya berat menjadi ringan dan mudah demi mencapai hasil yang maksimal.

Dalam era modern ini, kegiatan atau pendidikan gotong royong jarang sekali ditemukan khususnya di daerah perkotaan. Kemajuan teknologi dan arus globalisasi menjadikan kebanyakan masyarakat perkotaan tumbuh dan menjadi individualis. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat desa, yang realitanya masih melaksanakan gotong royong dalam beberapa hari tertentu. Kegiatan-kegiatannya meliputi kebersihan desa, pembangunan infrastruktur desa, panen desa, lomba desa dan masih banyak lagi lainnya. Walaupun seperti itu, masyarakat kota maupun desa memiliki konsep gotong royong yang tidak sama.

Sebagaimana dinyatakan oleh Ir. Soekarno bahwa, “gotong royong adalah proses pembantingan tulang secara bersama-sama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu membantu bersama. Amal buat kepentingan semua, keringat buat kebahagiaan semua.  holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama.”

Kemudian prinsip gotong royong pun merupakan salah satu ciri khas atau karakteristik dari bangsa Indonesia sesuai dengan Pancasila yaitu sila “Persatuan Indonesia”. Di samping itu, Perilaku gotong royong juga dapat diekspresikan dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat saat ini. Maka bukan berarti sesuatu yang mudah untuk senantiasa melestarikannya. Adanya pergeseran atau mulai minimnya perilaku gotong royong dalam masyarakat ditimbulkan karena kurangnya kesadaran warga tentang pentingnya gotong royong dan peran serta dari elemen atau lapisan masyarakat itu sendiri.

Maka dari itu, perlu sekali sejak usia dini menanamkan sikap gotong royong demi meningkatkan kesadaran tersebut. Tidak lupa, dibutuhkan juga peranan masyarakat dan keluarga dengan mencoba memulai melibatkan partisipasi anak terhadap kegiatan gotong royong.

Menurut Data Pusat Statistik Anak dan Pemuda Indonesia Tahun 2015 anak-anak usia dini dan mereka yang tergolong anak muda sebesar 81,97 persen mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Apabila dilihat menurut tipe daerah, pemuda yang tinggal di perdesaan memiliki partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan perkotaan (86,94 berbanding 77,49 persen). Namun dari beberapa kegiatan sosial, kebanyakan dari mereka sangat jarang mengikuti gotong royong atau kerja bakti.

Alasan dari mereka, sebesar 73 persen tidak mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan karena tidak punya waktu dan alasan lainnya. Kemudian sisanya adalah malas dan memang tidak ada atau tidak mengetahui adanya kegiatan sosial dalam lingkungan masyarakat mereka.

Hal tersebut membuktikan bahwa peran anak semakin terus berkurang dalam kegiatan sosial dan lingkungannya, salah satunya adalah gotong royong. Maka dari itu, keluarga dengan diwakili orang tua dan masyarakat sekitar dapat berkolaborasi untuk menumbuhkembangkan sikap gotong royong dengan mengajak dan mengajari mereka dengan hal-hal sederhana terlebih dahulu misalnya yang pertama, mengajarkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Dimulai dari pengajaran di rumah dan di masyarakat, orang tua dan warga membiasakan anak untuk hidup bersih dan sehat sejak dini agar dewasa nanti anak akan terbiasa dengan pola tersebut. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan atau setelah membuang sampah. Kemudian menyediakan tong sampah, himbauan membuang sampah pada tempatnya dan membiasakan mereka untuk mengikuti kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan.

Kedua, mengurangi penggunaan TV dan gadget, dan mengajak mereka mengikuti dan mengerti pentingnya kegiatan sosial dan keadaan diluar. Warga dalam kegiatan sosial, perlu menyediakan waktu dan ruang bagi anak untuk mereka berekspresi. Ketiga, mengajari anak untuk menghemat air dan membersihkan barang-barang atau mainan mereka sendiri.

Keempat, mengajak anak untuk berkebun, menanam pohon serta mengajari mereka daur ulang suatu barang dan menyumbangkan barang-barang bekas yang masih dapat digunakan. Kelima, mengajak anak untuk rekreasi ke alam. Jika lantaran keterbatasan waktu yang tidak memungkinkan, keluarga dan warga dapat mengadakan kegiatan jalan-jalan di sekitaran daerah untuk mengenalkan lingkungan yang asri kepada mereka.

Keenam, mengajarkan anak untuk tidak membunuh flora dan fauna. Pengenalan dini akan flora dan fauna untuk anak, akan membantu mereka mengenal Ekologi secara lebih cepat dan dapat melatih kepedulian mereka atas keseimbangan ekosistem. Ketujuh, membiasakan anak untuk membawa makanan dan minuman sendiri serta tas saat berbelanja. Hal ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik apabila mereka jajan makanan di luar rumah dan menciptakan kebiasaan “anti kantomg plastik” sebagai bentuk cinta pada lingkungan.

Beberapa hal diatas merupakan kegiatan yang sangat baik untuk menanamkan pada anak sikap pentingnya gotong royong dan peduli terhadap lingkungan. Dengan mulai melibatkan dan mengajak anak pada kegiatan sosial dan lingkungannya, melatih mereka untuk berkembang dan tidak canggung terhadap keadaan serta orang-orang disekitarnya. Jika anak sudah terbiasa aktif dan bersosialisasi, maka mereka dengan mudah akan melebur dan siap untuk bahu-membahu dengan siapa pun dan dimana pun mereka berada. Kolaborasi keluarga dan masyarakat yang kuat, akan melahirkan dan mewujudkan anak sebagai generasi gotong royong masa kini.  




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.