Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-SYAHIRUL ALIM
SYAHIRUL ALIM 
Menulis, Mengajar dan Mengaji
Kamis 31 Mei 2018 14:27 WIB
Dibaca (1370)
Komentar (0)

Ngabalin dan Staquf di lingkaran Istana, Pertanda Apa?

indonesiana-yahya_staquf.jpg

Mungkin tak ada yang dapat dipersepsikan terhadap Istana Kepresidenan belakangan ini, kecuali tampak ekspresi kekhawatiran yang entah terhadap siapa atau kekuatan politik mana. Setelah Presiden Joko Widodo menunjuk Ali Mochtar Ngabalin sebagai staf presiden yang diberi tugas menjembatani antara pemerintah dengan jaringan pesantren dan organisasi kemasyarakatan Islam, kini Istana kembali merekrut salah satu tokoh ormas Islam terbesar NU, duduk dalam lingkarannya. Tak tanggung-tanggung, Yahya Cholil Tsaquf yang saat ini masih menjabat Wakil Katib Aam PBNU ditunjuk Presiden Jokowi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (watimpres).

Bagi saya, penunjukkan kedua tokoh dari kalangan muslim dengan perbedaan latar belakang yang cukup mencolok ini, memperlihatkan ada sesuatu yang harus segera dilakukan Istana. Rentan waktu yang cukup dekat antara penunjukkan Ngabalin dan Staquf seperti meneguhkan adanya kekhawatiran tersebut. Penguatan kalangan Islam masuk Istana, rasa-rasanya tampak lebih menguat belakangan ini. Kalangan Islam politik yang sedikit “keras” seperti Ngabalin hingga tokoh yang mewakili kalangan Islam moderat, seperti ketokohan yang melekat pada diri Staquf, ketika masuk dalam lingkungan Istana, tak bisa dianggap sebagai hal biasa.

Menariknya, Staquf pernah menjadi jubir Presiden Keempat, KH Abdurrahman Wahid, yang sempat didaulat untuk membacakan Dekrit Presiden pada tahun 2003. Kini, setelah 15 tahun, Staquf kembali ke Istana atas permintaan Jokowi. Pengalamannya menjadi jubir Presiden Abdurrahman Wahid, barangkali yang menjadi pertimbangan Jokowi, selain karena Staquf secara kebetulan dapat mewakili ormas Islam terbesar NU. Mungkin saja kekosongan salah satu kursi watimpres, yang sebelumnya diisi oleh almarhum KH Hasyim Muzadi yang juga representasi kalangan NU karena ia sendiri pernah menjabat sebagai ketua umum PBNU.

Memasukkan Staquf dalam jajaran penasehat di Istana Presiden, paling tidak memberikan kehormatan yang besar pada ormas Islam NU yang selama ini dirasa dekat dengan Jokowi. Siapa lagi kandidat yang pernah berpengalaman bersama presiden di Istana selain Staquf di jajaran elite NU? Penunjukkan Yahya Chalil Staquf dinilai tepat disaat suasana kepolitikan jelang pemilu ini tampak semakin menghangat, terutama yang muncul dari berbagai gerakan Islam politik karena  menginginkan bergulirnya suatu perubahan. NU bisa saja dimanfaatkan Jokowi sebagai pendukung setia kalangan Islam untuk penopang suaranya nanti, walaupun tak sepenuhnya suara NU manut pada suasana “status quo” seperti yang telah berjalan selama ini.

Lalu, bagaimana dengan Ngabalin? Keberadaannya di Istana sebenarnya cukup mengagetkan, karena Ngabalin dikenal berseberangan secara politik dengan pemerintahan saat ini. Sangat naif kiranya, jika kemudian ada yang menyebut Ngabalin insyaf dan menyesal karena dulu berseberangan dengan pemerintah. Dalam politik tak ada kawan atau lawan abadi, keduanya dapat saling menggantikan yang tentu saja seorang politisi lebih tahu, kapan dirinya menjadi kawan dan kapan menjadi lawan. Keberadaan Ngabalin di Istana saat ini, memang tampak dipersiapkan untuk merebut simpati kalangan Islam yang disinyalir “garis keras”. Bukan apa-apa, surban yang senantiasa melilit di kepalanya adalah “simbol” yang lebih diterima oleh kalangan Islam tertentu.

Bukan suatu kebetulan, Istana sepertinya mulai sibuk memasang tokoh-tokoh yang menjadi representasi beragam kalangan Islam, dari mulai yang “lunak”, “sedikit keras”, bahkan “garis keras”. Mendikotomisasikan kalangan muslim seperti ini bukan berarti bahwa umat muslim di negeri ini tampak saling bertentangan, tetapi karena sedemikian kayanya perbedaan-perbedaan politik tak ubahnya dengan ragam budaya dan adat di negeri ini yang juga sangat kaya. Saya kira, bukan hal yang aneh ketika Istana juga turut andil untuk mempersiapkan langkah-langkah politik yang akan mengawal Jokowi hingga ke pelaminan Pipres 2019.

Melihat fenomena peta kekuatan politik Islam dalam pilpres 2019 nanti rasanya akan lebih menarik dibanding pilpres 5 tahun sebelumnya. Jika dulu kekuatan Islam tak diperhitungkan, maka di pilpres kali ini, Islam politik seakan “ditakuti” oleh kekuasaan, sehingga banyak cara yang kemudian dilakukan penguasa agar Islam politik tak ditakuti sebagaimana mestinya. Termasuk membuat suasana lingkaran politik Istana tampak “dihidupkan” oleh beragam representasi kekuatan politik Islam yang ada.

Diakui ataupun tidak, Istana tentu saja khawatir dengan berbagai gerakan Islam politik yang saat ini kian menguat akan berpengaruh terhadap citra politik Jokowi jelang pilpres nanti. Sulit untuk menjelaskan secara sederhana, ketika pihak Istana mulai menggeler berbagai pertemuan dengan seluruh kekuatan ormas Islam, baik yang pro maupun kontra. Istana seperti menjadi ajang perhelatan terbesar sepanjang sejarah bagi umat Islam, karena seluruh komponennya pernah diundang dan diajak duduk bersama, tak terkecuali. Seluruh perwakilan ormas Islam, akademisi, politisi, bahkan hingga mubalig sepertinya semakin dimanjakan dan diistimewakan pihak Istana.

Tak ada rasanya kekuatan politik yang saat ini paling dikhawatirkan Istana, kecuali kalangan Islam yang terkadang sulit diajak bekerjasama. Maka, perlu dibangun komunikasi politik secara lebih intensif agar dapat menyamakan persepsi antara pihak penguasa dan kalangan umat Islam. Maka, disini pentingnya kemudian pihak Istana menempatkan tokoh-tokoh yang dapat menjadi representasi dari berbaga kalangan Islam politik. Mereka akan terus melakukan komunikasi dan menjaring berbagai aspirasi politik yang dapat diserap dari berbagai kalangan Islam. Jadi, jika muncul wajah-wajah baru di Istana lalu dikaitkan sebagai representasi kalangan Islam, ini tentu saja pertanda perhelatan politik nasional semakin dekat dan Istana sudah mulai siap-siap.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.