Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Putra Batubara
staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Seneng Nulis
Minggu 03 Juni 2018 19:10 WIB
Dibaca (644)
Komentar (0)

Zulkifli Hasan Dan Pentingnya Penguasaan Ilmu Yang Lengkap

indonesiana-kopi_zulhas.jpg

Peringatan yang disampaikan Ketua MPR Zulkifli Hasan berikut ini sangat relevan dan semestinya menjadi perhatian bersama semua umat Islam. Terlebih saat ini bulan Ramadhan, bulunan Nuzulul Al-Quran, turunnya Quran. Karena Ayat pertama yang diturunkan atau perintah pertama adalah iqra', yaitu perintah untuk membaca.

Karena saat mengisi ceramah pada Shalawat Tarawih di Masjid Al Lathif, Cipahit, Bandung, pada Minggu malam lalu, Zulkifli Hasan mengingatkan dan mendorong umat Islam untuk menguasai ilmu secara lengkap. Tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu lainnya politik, ekonomi, teknologi dan lainnya. Apalagi di dunia modern saat ini, umat Islam harus mampu mengembangkan potensi diri agar memenangkan kompetisi.

"Dengan ilmu yang lengkap, umat Islam dapat menjadi pemimpin nasional serta dunia yang sasarannya dapat meningkatkan derajat dan kesejahteraan umat," demikian motivasi Zulkifli Hasan seperti dilansir republika.co.id.

Umat Islam semestinya tidak ketinggalan dalam dunia ilmu pengetahuan dari umat-umat lainnya. Karena Islam sangat mendorong umatnya untuk belajar, mencari serta menggali ilmu pengetahuan. Karena itulah, seperti disampaikan di atas, perintah pertama adalah iqra. Namun disayangkan, umat Islam saat ini masih tertinggal, terutama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itulah, pada momentum Nuzul Al-Quran yang diperingati setiap bulan Ramadhan, para penceramah, ustaz dan muballigh harus menekankan kembali pentingnya untuk menguasai ilmu pengetahuan. Perintah iqra' harus ditekankan merupakan sebuah kewajiban yang tak boleh ditinggalkan. Nabi Muhammad SAW dalam Hadistnya mengatakan menuntut ilmu kewajiban umat Islam laki atau perempuan.

Dosen Pasca-Sarjana UIN Jakarta dan UMJ, Muhbib Abdul Wahab, lewat artikelnya Alquran Inspirasi Peradaban di HU Republika edisi 31 Mei 2018 menjelaskan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sejatinya menginstruksikan pentingnya pengembangan budaya literasi sebagai basis membangun perdaban. Karena etos iqra, katanya menambahkan, adalah membaca, berpikir kritis dan kreatif, meneliti dan mengembangkan sains dan teknologi merupakan sendi tegaknya peradaban.

Dengan demikian menurut saya, umat Islam tidak cukup hanya belajar yang terkait dengan agama atau metafisika tapi juga fisika. Apalagi kalau kita baca Al Quran sangat banyak perintah untuk memperhatikan bagaimana penciptaan alam semesta, turunnya air dari langit lalu menghidupkan tumbuhan, serta pergantian siang dan malam. Karena Allah mengatakan, itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Namun harus diingatkan, mempelajari alam semesta dan semua yang terkandung di bumi ini bukan untuk menguasai apalagi mengeksploitasi dengan serakah sebagaimana paradigma dan yang dijalankan Barat. Karena itu pasti akan mendatangkan mudharat dan kehancuran, sebagaimana diingatkan dalam QS Ar-Rum ayat 41. Kita memang boleh mengambil manfaat dari bumi, tapi jangan dengan cara fasad. Karena manusia juga bertugas untuk memelihara bumi ini (QS, Hud: 61).

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa alam semesta dan segala isinya ini adalah ayat atau tanda-tanda Allah. Karena itu mempelajarinya juga dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, sebagai penciptanya. Makanya mempelajari fenomena alam yang menjadi objek ilmu umum, kita juga sekaligus mendapatkan nilai-nilai agama.

Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa ilahi. Karena seperti dikatakan penyair-filsuf, Mohammad Iqbal, fenomena alam merupakan medan kreatif Tuhan sehingga mempelajari alam akan berarti mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan di alam semesta (Mulyadi Kartanegara, Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik: 2005).

Dengan demikian, jelas Mulyadi menambahkan, penelitian alam semesta dapat mendorong kita untuk mengenal Tuhan dan menambah keyakinan kepada-Nya. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi di Barat ketika para ilmuan cenderung menolak Tuhan justru setelah mempelajari alam secara seksama.

Pentingnya pengetahuan umum dikuasai agar umat Islam kembali maju juga sudah disampaikan Proklamator RI Sukarno jauh-jauh hari. Dalam surat bertarikh 22 April 1936 dari pengasingan di Ende kepada A. Hassan, dia menegaskan orang tak dapat benar-benar memahami Al-Quran kalau tak memiliki pengetahuan umum.

"Misalnya, bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala barang sesuatu itu dibikin oleh-Nya "berjodoh-jodohan" kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif negatif dan negatif, tak mengetahui aksi dan reaksi," tulisnya.

Sukarno juga mengungkap firman Allah tentang gunung yang bergerak seperti awan, langit dan bumi bersatu lalu dipisahkan, serta semua yang hidup diciptakan dari air. Menurutnya, bagaimana mengetahui maksud firman-firman Allah tersebut kalau tidak mengetahui sedikit ilmu astronomi.

Ada banyak contoh lain yang disinggungnya untuk mendorong umat Islam, khususnya pesantren yang dibangun A. Hassan saat itu, agar mengajarkan ilmu umum. "Bagi saya antitaqlidisme itu berarti: Bukan saja kembali kepada Al-Quran dan Hadits, tetapi kembali kepada Al-Quran dan Hadits dengan mengendarai kenderaannya pengetahuan umum," tulis Bung Karno.

Karena itulah, peringatan yang disampaikan Zulkifli Hasan, Bung Karno, dan para cendekiawan muslim, agar umat Islam juga menguasai ilmu-ilmu umum harus kita sambut baik dan jalankan. Karena hanya cara demikian, kemajuan dan kejayaan Islam bisa diraih kembali. Kita patut bersyukur, sudah banyak lembaga pendidikan Islam mengajarkan ilmu secara integral, secara lengkap atau tidak lagi membeda-bedakan pengetahuan agama dan umum.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.