Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Rofiq Al Fikri 
Kamis 09 Agustus 2018 15:14 WIB
Dibaca (7320)
Komentar (0)

Jenderal Kardus vs Baper dan Penipu Rakyat Sebenarnya

indonesiana-750xauto-prabowo-dan-sby-koalisi-ini-7-foto-kenangan-mereka-saat-masih-di-tni-180802y.jpg

Kecewa, Lantas Saling Hujat. Pertunjukkan Elit Politik yang Sangat Tidak Mendidik Rakyat

 

Sejak Rabu malam hingga pagi hari ini, Kamis (9/8/2018) media sosial dan media nasional dibanjiri oleh kosakata Jenderal Kardus dan Jenderal Baper yang dilontarkan oleh “Duo Arief”. Ya, Jenderal Kardus dialamatkan kepada Prabowo Subianto oleh Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief, sementara Jenderal Baper (Bawa Perasaan) dialamatkan kepada SBY oleh Waketum Partai Gerindra Arief Puyuono. Semua itu terjadi, karena gagalnya kedua partai itu bersepakat menggaet cawapres pendamping Prabowo di Pilpres 2019, cukup memuakkan.

Seperti yang kita ketahui, belum genap sebulan tepatnya 24 Juli 2018, kedua pemimpin partai saling memuji, kini keduanya saling “bertengkar”. Saat itu, masih ingat kita Prabowo memuji SBY yang dianggap “sukses” memimpin Indonesia selama 10 tahun (walau pada 2009 prabowo maju sebagai cawapres penantang SBY dan berteriak kencang menghujat kegagalan SBY dalam memimpin). Prabowo pun mengutarakan, membutuhkan pemimpin muda yang dekat dengan millenial menjadi pemimpinnya. Saat itu angin jelas mengarah ke AHY.

Sementara itu, SBY menyanjung Prabowo sebagai seniornya di TNI yang perlu dihormati. Bahkan, di hadapan media, SBY mengatakan Prabowo adalah capresnya dan menyerahkan sepenuhnya cawapres kepada Prabowo. SBY dengan tegas mengatakan, ia tidak mengharuskan Prabowo menjadikan anaknya AHY menjadi cawapresnya sebagai syarat koalisi.

Di kalangan elit politik, SBY sudah lama dikenal kerap bersikap berbeda dengan apa yang diutarakannya di publik. Di Pilkada DKI misalnya, SBY mengatakan tidak harus AHY jadi cagub, tetapi ketika disodorkan nama lain selain AHY oleh partai koalisi, ia selalu menolak. Pun demikian saat ini, di hadapan koalisi mana pun, SBY pasang AHY sebagai cawapres sebagai harga mati untuk syarat koalisi. SBY lantas dijuluki sebuah peribahasa “lain di bibir, lain di perbuatan”.

Semua itu menjadi benar adanya, saat tadi malam Andi Arief menghujat habis Prabowo sebagai Jenderal Kardus, yang bila diterjemahkan artinya IngKAR dan DUSta. Kardus pun dapat diartikan sebagai “wadah” uang, karena dikatakan Andi Arief Prabowo berubah keputusan karena diguyur uang Rp 500 milyar oleh Wagub DKI yang juga kader Partai Gerindra Sandiaga Uno. Kata Jenderal Kardus bermakna Prabowo dusta dan mata duitan.

Ya, janji dan keputusan Prabowo akan menggaet AHY sebagai wapres seolah sirna karena tawaran menggiurkan dari Sandi. SBY pun terbukti lain di bibir lain di perbuatan, karena walau menegaskan menyerahkan nama cawapres ke Prabowo, kini ia sangat tidak terima saat AHY tidak menjadi cawapres.

Tidak hanya itu, Andi Arief mengatakan PKS dan PAN (sekutu sejati Gerindra yang selalu menggembar-gemborkan mewakili umat muslim) pun menerima Sandi (yang seorang pebisnis kelas kakap dan sama sekali bukan ulama) karena masing-masing partai digelontorkan Rp 500 milyar oleh Sandi. Sebuah politik transaksional yang juga bertentangan oleh UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Kekayaan Sandi memang tidak perlu diragukan, ia merupakan pendiri Saratoga Group, perusahaan yang membawahi PT Tower Bersama Infrastucture, PT Adaro Energy (perusahaan batu bara), hingga PT Mitra Pinasthika Mustika. Pada 2017 saja, Saratoga Group mencatatkan, laba bersih Rp 2,5 triliun. Asetnya pun mencapai Rp 27 triliun. Jadi, untuk membeli dua partai bukan lah hal sulit bagi seorang Sandi. Hari ini pun, saham Saratoga melesat karena nama Sandiaga santer disebut sebagai calon kuat pendamping Prabowo.

Adapun Arief Puyuono, menuding balik SBY sebagai Jenderal Baper yang juga berbohong. Ia mengungkit, SBY yang katanya menyerahkan sepenuhnya cawapres ke Prabowo, namun ketika AHY tidak dipilih, Demokrat berang. Demokrat juga dicap sebagai partai yang terbukti banyak melahirkan koruptor.

Dari sini, seharusnya masyarakat dapat melihat dengan jelas siapa penipu rakyat yang sebenarnya. Jokowi selama ini oleh oposisi (Demokrat, Gerindra, PKS, dan PAN) dicap “tukang ngibul”. Padahal Jokowi tak pernah berbohong, pembangunan di luar Jawa sudah dilakukan, BBM satu harga diterapkan, dan aset negara yang dikuasai asing (Freeport, Blok Rokan) pun dikembalikan.

Justru, oposisi yang sangat bangga mempertunjukkan pembohongan publik. Di lihat dari “lain di bibir dan lain di perbuatannya” sang dua jenderal (Prabowo dan SBY) yang kini malah saling “cakar” demi kekuasaan.

Apalagi, jika melihat Prabowo dan PKS sekutu setianya yang selalu mencatut nama “umat Islam dan ulama” yang dikatakan mendasari keputusannya (ijtima ulama versi mereka pun tidak mengeluarkan nama Sandi). Dengan majunya Sandi sebagai cawapres Prabowo yang sama sekali bukan ulama, maka siapa sebenarnya penipu rakyat yang sejati? Menarik menunggu komentar PKS.

Warga Indonesia, sadarlah, pilihan kalian saat ini hanya dua. Pemimpin yang selalu difitnah namun tetap bekerja dengan tulus, atau pemimpin yang selalu mencatut nama ulama dan Islam, namun sebenar-benarnya penipu.

???????? ????????? ????????? ????????? ??? ??????????? ???????? ?????? ???????????? ???? ?????????????

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl [16]: 105).

 

_Rofiq Al Fikri_

_Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu (JAMMAL)_

 

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.