Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Handoko
Handoko  Widagdo
Kamis 09 Agustus 2018 21:18 WIB
Dibaca (109)
Komentar (0)

Mite Sisifus

indonesiana-Mite_Sisifus.jpg

Judul: Mite Sisifus – Pergulatan Dengan Absurditas

Penulis: Albert Camus

Penterjemah: Apsanti D.

Tahun Terbit: 1999 (cetakan kedua)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                           

Tebal: xv + 180

ISBN: 979-655-329-5

 

Apakah yang harus dilakukan jika hidup manusia di dunia ini tidak memiliki makna alias absurd? Apakah kita harus bunuh diri, seperti yang ditanyakan oleh Dostoyevsky? Apakah kita masih bisa hidup dengan bahagia? Buku ini mendiskusikan gagasan Camus tentang absurditas hidup manusia.

Camus menggunakan legenda Yunani, yaitu tentang sosok Sisifus yang dihukum oleh dewa untuk mengangkat batu ke puncak gunung dan setelahnya batu tersebut akan jatuh menggelinding kembali ke bawah. Sisifus harus mengangkatnya kembali ke puncak. Begitu terus-menerus sepanjang hidup Sisifus yang dikutuk dewa. Sisifus adalah sang pahlawan absurd, baik karena nafsunya maupun karena kegelisahannya. Sikapnya yang meremehkan terhadap pada dewa, penghinaannya terhadap kematian dan nafsunya terhdapat kehidupan, harus dibayarnya dengan siksaan tak terperikan dengan mengerahkan seluruh dirinya untuk tidak menyelesaikan apapun (hal. 155). Demikianlah sesungguhnya nasib manusia.

Menurut Bertrand Poirot-Delpech, Camus bukanlah penemu absurditas (hal. xii). Sudah banyak penulis lainnya yang mengungkapkan absurditas. Dalam buku ini Camus menderetkan beberapa nama yang dia sebut telah menggeluti tema absurditas hidup manusia. Diantaranya adalah Dostoyevsky, Nietzsche, Kafka, Jaspers, Kierkegaard, Chetov dan Husserl. Camus menyampaikan bahwa semua penulis yang menggeluti tema absurditas memberikan pemecahan dengan melakukan loncatan. Husserl, Kafka, Jaspers dan Kierkegaard meloncat kepada hal supranatural atau transendensi. Tuhan. Dostoyevsky meloncat ke bunuh diri. Nietzsche meski membunuh tuhan, mengabaikan supranatural, meloncat kepada manusia super yang mampu memerintah manusia lainnya. Alih-alih melompat, Camus menyarankan manusia untuk menerima absurditasnya dan menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan kegembiraan. Dalam Bahasa Camus, cara hidup semacam itu adalah pemberontakan. Bunuh diri bukanlah jalan keluar dari absurditas (hal. 3-11). Sebab bagi Camus, absurditas bukanlah sebuah kesimpulan, melainkan sebuah permulaan (hal. 2). Kesadaran akan absurditas adalah titik mulai untuk menjalani hidup sebagai manusia.

Ia menguraikan berbagai upaya para filsuf dan penulis lain yang menggumuli tema eksistensi manusia. Ia membahas tentang mereka yang menelaah tentang nalar, moral, budi pekerti, dan harapan. Ia menemukan bahwa kesimpulannya, tidak ada satupun dari hal-hal tersebut yang tidak sampai kepada sebuah kesimpulan kekacau-balauan. Manusia tidak bisa mengandalkan dirinya kepada nalar. Sebab nalar itu ada batasnya dan kontradiktif. Upaya nalar untuk mencari kebenaran satu-satunya tidak tercapai. Setiap kali nalar menyampaikan sebuah kebenaran, pada saat yang sama ada ketidakbenaran di dalamnya (hal. 63). Demikian pun dengan harapan, moralitas dan budi pekerti.

Camus kemudian menjelaskan tentang cara menghadapi kesadaran tentang absurditas, yaitu melalui pemberontakan. Pemberontakan adalah konfrontasi abadi antara manusia dan kegelapannya sendiri. Dia adalah tuntutan tentang kejernihan yang mustahil. Dia mempertanyakan kembali dunia pada setiap detik. Pemberontakan adalah kehadiran konstan manusia terhadap dirinya sendiri (hal. 67). Pemberontakan adalah cara yang bertanggung jawab untuk menjalani hidup yang absurd.

Apakah kemudian kesadaran akan absurditas berarti bisa melakukan apa saja, termasuk kejahatan? Dalam hal ini Camus menyampaikan bahwa absurditas tidak memberi wewenang untuk berbuat apa saja. Segalanya boleh dilakukan tidak berarti bahwa tidak ada suatu pun yang dilarang. Absurditas hanya memberi kesamaan nilai kepada akibat-akibat dari tindakan-tindakannya. Moralitas ditegakkan atas dasar gagasan bawha suatu tindakan mempunyai konsekuensi yang mensahkannya atau menghapuskannya (hal. 85). Artinya manusia yang absurd tetap harus memikirkan akibat-akibat dari tindakannya.

Sisifus menghadapi hukumannya. Namun dalam menjalani hukuman tersebut, Sisifus melakukannya dengan sadar. Ia tidak mengharapkan akan keberhasilan memindahkan batu ke puncak gunung dan batu tersebut tidak menggelinding ke bawah lagi. Ia sadar bahwa upayanya adalah sebuah kesia-siaan. Ia dengan gembira mengangkat kembali batu tersebut dan membawanya ke puncak. Itulah kemenangan Sisifus terhadap absurditas yang dihadapinya. Demikianlah seharusnya manusia menghadapi eksistensinya. Tidak perlu melakukan lompatan apapun.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.