Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Rofiq Al Fikri 
Jumat 10 Agustus 2018 19:06 WIB
Dibaca (4741)
Komentar (0)

Pengkhianatan Kepada Ulama, Prabowo, dan Jokowi

indonesiana-ijtima_ulama.jpg

“Bagi Pak Prabowo, pengkhianatan itu adalah hal yang biasa” ujar Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief. Pernyataan yang terdengar kasar, namun dapat dimaklumi terucap dari mulut pimpinan Partai Demokrat yang sampai dua hari sebelum batas akhir pendaftaran sudah dijanjikan oleh Prabowo bahwa AHY akan menjadi cawapresnya. Namun, kata-kata Arief pun ternyata cocok bagi Prabowo melihat bagaimana perlakuan dirinya kepada para ulama pendukungnya selama ini.

 

Ya, bukan saja tidak jadi menggaet kader PD AHY, Prabowo juga sama sekali tidak menggubris saran dari ulama pendukungnya selama ini, yaitu ulama GNPF untuk menggandeng ulama sebagai cawapresnya. Sandiaga Uno, pebisnis yang besar di Amerika dan sama sekali tidak memiliki latar belakang ulama di keluarganya, justru dipilih sebagai cawapres.

 

Semua ulama GNPF (karena memang tidak semua ulama di Indonesia bergabung di sana) sudah diminta Prabowo untuk ber “ijtima”, yaitu bermusyawarah menentukan pilihan politik (sekitar 800 ulama) dan menghasilkan rekomendasi Prabowo sebagai capres dari kalangan nasionalis dan Ustadz Abdul Shomad atau Salim Segaf Jufri sebagai cawapres dari kalangan ulama.

 

Beberapa politisi PKS seperti Hidayat Nur Wahid, Mardani Ali Sera, hingga ulama GNPF seperti Yusuf Martak, Haikal Hassan bahkan sempat mengancam, jika Prabowo tidak memilih dua nama hasil ijtima, maka para ulama beserta umat akan meninggalkannya. Memang, GNPF sudah sangat berjasa kepada Prabowo. Tanpa, GNPF ia tidak akan bisa mendongkel Ahok dari kursi Gubernur DKI. GNPF sudah mati-matian dengan menggelar aksi bela ulama hingga menyeru di berbagai masjid untuk memilih calon dari Partai Gerindra, yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

 

Akan tetapi, seperti yang diutarakan Andi Arief, Prabowo memilih Sandiaga hanya karena gelontoran uang. PKS dan PAN yang sebelumnya “ngotot” pasang harga mati bahwa ulama harus dipilih pun sepakat mengusung Sandiaga karena masing-masing partai disantuni Sandiaga Rp 500 miliar untuk keperluan kampanye pileg.

 

Prabowo yang sudah hampir tidak memiliki uang (karena sudah 4 kali maju di Pilpres dan gagal) pun dengan senang hati menyambut itu. Imbauan Habib Riziq sebagai imam dari ulama GNPF bahwa jangan takut akan logistik (uang), karena kalau ulama dirangkul umat akan bahu membahu membantu pun sama sekali tidak dihiraukan.

 

GNPF ulama melalui Habib Riziq yang masih coba menghargai Prabowo di Kamis malam sempat menawarkan dua nama lagi, yaitu Ustadz Yusuf Mansyur dan Ustadz Arifin Ilham sebagai cawapres, namun hasilnya sama. Prabowo meninggalkan ulama dengan berpedoman “toh mereka bisa dibeli. Kasih uang saja, maka mereka nanti akan menganggap Sandiaga Uno sebagai ulama”. Itu terbukti saat Presiden PKS Sohibul Iman yang menyebut Sandi sebagai Santri modern yang hidup di lingkungan pesantren.

 

Sohibul rasanya tak peduli dengan fakta bahwa Sandiaga besar di SMA Pangudi Luhur Jakarta (Sekolah Katolik) dan kuliah akuntansi di Wichita State University AS dan kuliah jurusan bisnis di The George Washington University AS. Jauh sekali rasanya dari nuansa pesantren, atau kehidupan mahasiswa muslim seperti di Al-Azhar Mesir misalnya.

 

Kata-kata Andi Arief yang menyebut Prabowo biasa berkhianat tentu kasar, namun saya sulit untuk tidak mengamini itu saat melihat fakta ini.

 

Hal yang sebaliknya justru terlihat di kubu Joko Widodo. Ia yang selama ini konsisten menggandeng umat muslim khususnya di kalangan Nahdliyin (NU) di berbagai kebijakannya nyatanya merangkul K.H. Ma’ruf Amin, Ketua MUI sebagai cawapres. (Ma’ruf pada 2017 dibela mati-matian oleh GNPF hingga menggelar aksi #belaulama karena ada anggapan rezim Jokowi tidak pro ulama).

 

Saat tahu Ma’ruf jadi cawapres Jokowi, GNPF bahkan memuji Jokowi dengan mengatakan “Jokowi Lebih Cerdas”. Alih-alih ingin menggunakan isu agama dalam Pilpres, Jokowi justru ingin mempersatukan rakyat untuk tidak mempersoalkan latar belakang agama di Pilpres. Saat Prabowo tidak menggandeng ulama, nyatanya tidak ada serangan berbau SARA kepada kubu Prabowo dari Jokowi.

 

Ma’ruf selain akan diterima GNPF, ia juga diterima di kalangan NU organisasi Islam moderat yang kerap berseberangan secara politik dengan GNPF. Ya, Ma’ruf adalah Rais Aam NU. Organisasi yang konsisten melakukan advokasi kepada minoritas yang mendapatkan persekusi di lingkungannya, itu perlu dicatat.

 

Jelas terlihat, di saat lawannya masih sibuk beradu hujatan tentang hal pengkhianatan. Jokowi justru berusaha merangkul semua kalangan. Ia mempersatukan berbagai kelompok muslim di Indonesia dengan memilih Ma’ruf, itu semata agar tidak terjadi perpecahan kaum muslim. 

 

Untuk kelompok minoritas dan nasionalis, riwayat Jokowi sebagai pemimpin yang adil juga menjadi jawaban yang pasti. Perpaduan Jokowi dan Ma’ruf adalah kombinasi antara pemimpin nasionalis (umara) dan pemimpin agama (ulama). Kombinasi yang juga menghantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan setelah ratusan tahun dijajah kolonial.

 

“Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan” (Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari)

 

 Rofiq Al Fikri

Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu (JAMMAL)

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.