Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Rofiq Al Fikri 
Selasa 04 September 2018 18:00 WIB
Dibaca (460)
Komentar (0)

Paradoks Prabowo - Edisi Kemiskinan Rakyat

indonesiana-Dialog-Kebangsaan-Aptisi-stiami(16).png

Ceramah Ekonomi Prabowo : Menyeru Rakyat Untuk Tidak Memilih Dirinya
 
Kemarin, saya dikirimi tulisan dari teman saya tentang ceramah ekonomi Prabowo di Hotel Sahid, Sabtu (1/8/2018). Setelah saya baca dan sandingkan dengan fakta dan data terkait apa yang dikatakan Prabowo, sebenarnya Prabowo itu justru mengajak rakyat Indonesia untuk tidak memilihnya.
 
Prabowo mengatakan, “Seorang ibu melihat kekayaan negara dicuri, anak cucu melarat. Indonesia paradox karena negara yang begitu kaya tetapi rakyatnya banyak miskin.”
 
Faktanya : Siapa yang mencuri? Apakah orang kaya Indonesia yang justru hartanya diparkir di luar negeri agar terhindar kewajiban pajak? Jadi pajak yang harusnya dinikmati anak ibu pertiwi dicuri ke luar negeri? Kalau itu maksudnya maka Prabowo lah salah satunya.
 
Nama Prabowo dan calon wakilnya Sandiaga Uno tercantum dalam Panama Papers, laporan dari International Consortium of Investigative Journalist tahun 2017 tentang pengusaha dan politisi dari berbagai negara di dunia yang melarikan investasi dalam negerinya ke Bermuda (Panama) agar bisa lari dari kewajiban membayar pajak di negaranya.
 
Prabowo tercatat sebagai konglomerat pemimpin perusahaan Nusantara Energy Resources, sementara Sandi tercatat sebagai konglomerat pemimpin N.T.I Resources. Keduanya “mencuri” hak rakyat Indonesia untuk lari dari pajak.
 
Penduduk Miskin? Selain dua orang itu yang membuat rakyat miskin, fakta tidak bisa dibohongi. Nyatanya di era kepemimpinan Jokowi angka kemiskinan terus menurun, data resmi BPS bahkan menjelaskan angka kemiskinan 2018 mencapai titik terendahnya sepanjang sejarah dengan 9,82 persen (satu digit) dari seluruh masyarakat Indonesia.
 
Sebelumnya, jumlah penduduk miskin selalu di atas 10 persen. Jadi, memang seolah Prabowo menyuruh rakyat memilih Jokowi karena Jokowi terbukti mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan.
 
Prabowo mengatakan, “Pertumbuhan ekonomi tidak naik. Indonesia terancam menjadi negara miskin selamanya”.

Faktanya : Data resmi BPS beberapa waktu lalu menampilkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen. Bahkan, pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2017 yang sebesar 5,01 persen. Jadi, Prabowo berkata bohong kalau bilang ekonomi tidak naik, dia juga sangat pesimis bahwa Indonesia akan jadi negara miskin selamanya.

 
Saya tidak tahu ungkapan apalagi yang cocok selain “konyol” menanggapi pesimisme Prabowo karena data resminya saat ini PDB sudah menyentuh angka 1 triliun dollar AS per tahun. Itu menempatkan Indonesia di posisi ke-15 sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
 
Selain itu, lembaga pemeriksa bank internasional PWC memprediksi di 2030 Indonesia akan menempati posisi ke-5 negara terkaya di dunia di bawah China, AS, India, dan Jepang. Prabowo sangat pesimis melihat Indonesia ke depan, jadi seolah dia berpesan ke rakyat kalau mau Indonesia tidak miskin, ya pilihlah Jokowi yang sudah terbukti kinerjanya.
 
Rofiq Al Fikri

Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.