Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Handoko
Handoko  Widagdo
Rabu 05 September 2018 08:00 WIB
Dibaca (257)
Komentar (0)

Tanah Air yang Hilang

indonesiana-Tanah_Air_yang_Hilang.jpg

Judul: Tanah Air yang Hilang

Penulis: Martin Aleida

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tebal: xviii + 325

ISBN: 978-602-412-287-4


Saya suka cara Martin Aleida mengungkapkan hasil wawancana dengan para eksil ini apa adanya. Bahkan dengan mencantumkan pertanyaan yang ia ajukan kepada para eksil. Format tanya jawab yang dipakai oleh Martin membuat saya menikmati (dan membayangkan) suasana dan psikologi para eksil yang diwawancarai. Berbeda jika buku ini ditampilan dengan menggunakan teks naratif. Teks naratif pasti menghilangkan diksi, suasana dan psikologi para penuturnya. Karena teks naratif tentu telah menjadi sewarna dengan sang penulis. Kesenangan saya bertambah-tambah karena Martin juga menyampaikan bagaimana situasinya saat ia menemui para eksil ini sebelum wawancara. Ia melukiskan bagaimana perjuangannya mengunjungi para narasumbernya dibawah rintih gerimis, atau menggunakan bus antarnegara yang toiletnya macet dan sebagainya.

Buku ini adalah tentang 17 orang eksil dan 2 keturunan eksil yang diwawancarai oleh Martin Aleida di berbagai negara di Eropa. Kecuali dua anak keturunan eksil, rata-rata pencerita telah berumur 70 tahun lebih, dan bahkan ada yang sudah berusia lebih dari 90 tahun.

Ada tiga kelompok orang Indonesia yang akhirnya menjadi eksil yang muncul dalam buku ini. Ketiga kelompok itu adalah mereka yang diutus oleh negara untuk belajar, mereka yang bekerja sebagai tenaga profesional atau sedang bertugas sebagai profesional (misalnya wartawan) dan mereka yang menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun Partai Komunis China tanggal 1 Oktober 1965 sebagai utusan resmi negara. Namun kebanyakan yang diwawancarai dalam buku ini adalah dari kelompok pertama. Dari kelompok kedua, ada beberapa mantan wartawan dan anak Sobron Aidit yang mewakili generasi anak para eksil. Dari kelompok ketiga, yaitu mereka yang menghadiri perayaan Harlah PKC lebih banyak disebut, tetapi tidak terwakili sebagai pihak yang diwawancarai, semisal Yusuf Ajitorop.

Karena asal-usul yang berbeda-beda tersebut, maka tidak semua orang eksil adalah pengikut PKI. Sebagian dari mereka bahkan tidak terlibat dalam partai politik. Mereka keluar negeri karena ditugaskan untuk belajar. Setelah belajar diharapkan mereka pulang untuk menyumbangkan pengetahuannya kepada negeri tercinta. Pilihan mereka untuk tidak ikut pulang adalah karena mereka merasa ditugaskan oleh Sukarno.

Mereka mengalami penderitaan ketika memilih untuk tidak pulang ke Indonesia. Meski dianggap sebagai tamu di Uni Soviet dan di China, ternyata mereka harus hidup seadanya. Itulah sebabnya mereka memutuskan untuk meninggalkan China dan Soviet dan menuju ke Barat. Mereka mencari suaka di Jerman, Perancis dan Belanda. Sementara mereka yang bertugas belajar di Cekoslowakia dan Bulgaria sebagian memilih menetap di kedua negara Eropa Timur tersebut.

Ketika memutuskan untuk pidah ke Eropa, mereka harus melakukan perjalanan tanpa paspor. Sebab paspor mereka ada yang disita, ada pula yang tidak diperpanjang. Namun mereka mendapat kemudahan dalam mengurus ijin tinggal di Belanda dan Perancis.

Sebagian besar dari mereka memutuskan untuk menerima kewarganegaraan di mana mereka tinggal. Adalah sangat berat bagi mereka yang merasa bahwa Belanda adalah negeri penjajah, sementara mereka harus menjadi warganegara Belanda yang dulu menjajahnya. Ini sebuah pendritaan batin.

Dari segi kehidupan, rata-rata mereka bisa hidup dengan baik, meski pas-pasan. Dengan jaminan sosial dan jaminan pensiun mereka bisa mengurus dirinya sendiri. Bahkan beberapa dari mereka memiliki usaha dan pekerjaan yang memungkinkan hidup baik.

Apakah mereka ingin pulang? Sebagian dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak lagi ingin tinggal di Indonesia. Alasannya adalah mereka tidak tahu bagaimana harus hidup di Indonesia saat usianya sudah uzur. Namun apakah mereka masih cinta Indonesia? Semua yang diwawancarai oleh Martin menyatakan bahwa mereka masih sangat cinta Indonesia. Bahkan mereka tak surut mengikuti berita-berita tentang Indonesia.

Presiden Abdurrahman Wahid telah memulai untuk mengakui mereka sebagai warga negara Indonesia yang sah. Namun proses selanjutnya seakan mandek. Padahal pengakuan negara terhadap mereka akan mengurangi beban mereka selama ini yang “dibuang.” Semoga suatu hari nanti negara yang dicintai oleh para eksil ini mau mengakui kembali bahwa mereka-mereka ini adalah bagian dari Indonesia. Semoga mereka-mereka yang masih hidup sekarang ini bisa meninggal dengan menggenggam paspor berwarna hijau bergambar Garuda Pancasila.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.