Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-Adjat
Adjat  R. Sudradjat
Minggu 09 September 2018 07:24 WIB
Dibaca (985)
Komentar (0)

Kentut Politik

indonesiana-pepnews.jpg

Memasuki tahun politik, kehidupan di negeri ini  semakin tidak jelas arahnya. Dari tingkat elit hingga wong cilik, lidah mereka semakin tajam saja.

Sebagaimana yang biasa terjadi jelang pemilihan, para kandidat memu-muji dirinya setinggi langit. Begitu juga para pendukungnya, entah karena saking kebelet ingin kebagian ‘nasi bungkus’ entah karena sudah terkena ‘pelet’ sang kandidat, mereka mengelu-elukannya setengah mati, dan membela mati-matian panutannya itu bila ada yang mencelanya hingga jungkir-balik.

Sebaliknya sikap mereka terhadap lawan politiknya, selalu saja mencari-cari kelemahannya. Untuk menjatuhkannya, tentu saja. Kalaupun tidak mereka temukan kekurangan yang dimiliki pihak yang menjadi musuhnya, maka cara licik pun bukan lagi halangan untuk mereka jadikan senjata yang ampuh demi membuat musuhnya terkapar jatuh.

Sehingga kosakata fitnah, hoax, sampai umpatan dan hujatan pun berhamburan, berjelal memenuhi setiap ruang. Apa boleh buat. Demi sebuah kemenangan dalam meraih kekuasaan, apa pun dilakukan memang. Politik selalu saja penuh dengan intrik, tipu-daya, dan kemunafikan adalah hal yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Maka tak syak lagi jika politik pun sudah melenceng jauh dari makna yang sesungguhnya. Sebagaimana termaktub dalam buku pegangan para calon cendikiawan. Bahkan mereka yang sudah khatam dari menara gading pun, mengangagap segala kitab yang dulu wajib hukumnya untuk dibaca, saat malang-melintang di dunia perpolitikan malah melemparkannya ke tempat sampah.

Oleh karena itu, suka maupun tidak, politik bagi para elit dan pemujanya tak lebih serupa kentut belaka. Tatkala terjadi metabolisme di dalam perut usai menyantap segala asupan yang diperoleh dari ketidakpatutan, tanpa ragu lagi dari duburnya keluar udara yang membuat tak nyaman orang lain yang menciumnya, dan dibarengi bunyi yang tak sedap terdengar di telinga.

Lalu di saat orang di sekitar bertanya-tanya siapa yang sudah menyebar aroma bau busuk itu, yang bersangkutan pun justru ikut-ikutan bertanya pula tanpa merasa sudah membuat orang lain tersiksa karena ulahnya.

Sebagaimana misalnya, sudah tahu korupsi itu jelas-jelas perbuatan tercela. Akan tetapi demi sebuah prestasi dan harga diri, apa boleh buat, selalu saja bebagai dalih pun mereka cari. Karena bisa jadi urat malu di wajahnya sudah hilang sama sekali.

Begitulah. Begitulah keriuhan politik para elit di jaman sekarang ini. Serupa orang kentut saja laiknya. Dan hanya membikin orang yang masih mampu berfikir waras geleng-geleng kepala saja karenanya. ***

Sumber foto: pepnews.com




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.