Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Mohamad Cholid 
Senin 10 September 2018 05:45 WIB
Dibaca (441)
Komentar (0)

#SeninCoaching: Karakter Penting untuk Mengendalikan Transisi

indonesiana-Last_Samurai.jpg

#Leadership Growth: Ability to Navigate the Transition

 

Mohamad Cholid

Practicing Certified Executive and Leadership Coach.

 

“Ability may get you to the top, but it takes character to keep you there.” --

John Wooden

 

Dari Kepulauan Nusantara menuju Madagascar diperkirakan delapan ribu kilometer jauhnya. Jarak itu kira-kira 1.000 tahun silam diarungi para pelaut Nusantara, konon banyak dari Banjar, untuk membangun kehidupan baru. Madagascar di seberang Zimbabwe, sisi timur Afrika. Menurut hasil penelitian yang dipimpin Murray Cox, ahli biologi molekuler Universitas Massey Selandia Baru, sebagaimana disebutkan dalam jurnal Proceeding of the Royal Society B, Maret 2012, mayoritas warga Madagascar adalah keturunan Indonesia.

Katanya, di antara pelaut Nusantara yang mendarat di Madagascar ada 30 perempuan. Itu hasil penelitian DNA 2.745 orang Indonesia dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari tiga etnis di Madagascar, yaitu Mikea, Vezo, dan Andriana Merina.

Menurut S. Tasrif dalam Pasang Surut Kerajaan Merina, “Mereka kemungkinan campuran dari ras Sumatra, Jawa, Madura, Sulawesi, atau orang-orang Indonesia Timur. Di sana mereka berbaur membangun kebudayaan Malagasi. Para pendatang itu kemudian dominan di Madagaskar, karena penduduk aslinya sangat sedikit. Di kemudian hari, datang pendatang baru dari Arab, Pakistan, India, dan orang-orang Prancis yang membawa buruh-buruh Afrika hitam.”

Denys Lombard dalam Nusa Jawa menyebutkan, intelektual pertama yang membahas hubungan Nusantara dan Madagascar adalah Moh. Nazif, yang menulis disertasi De Val van het Rijk Merina pada 1928 di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia.

Bayangkan, 1.000 tahun silam, dengan kapal layar bercadik, tanpa perkakas GPS, orang-orang Nusantara menempuh ribuan kilometer, menghadapi (mungkin saja) ratusan badai, gempuran ombak besar, dan tantangan alam lainnya.

Sebagaimana para pelaut tradisional, mereka berpegang pada petunjuk bintang-bintang, tanda-tanda alam, dan iman – keyakinan adanya Sang Penuntun. Para sejarawan, termasuk Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford Inggris, mengatakan, dahulu Nusantara dihuni para pemberani.

Apa yang dapat kita interpretasikan dari riwayat para pelaut Nusantara (yang sebagiannya perempuan itu) dalam perjalanan mereka ke Madagascar?

Anda dapat menghayati kembali sepenggal sejarah manusia Nusantara tersebut sesuai perspektif pilihan sendiri. Bagaimana pergulatan batin mereka, determinasi, courage (keberanaian memasuki wilayah fisik dan batin baru), mental endurance, dan karakter mereka. Tanpa karakter yang kuat, rasanya mustahil mereka berhasil mencapai Madagascar dan membangun kehidupan baru di sana.

Bisa jadi, karakter dan determinasi seperti itu pula yang membentuk para pejuang dan perintis kemerdekaan Indonesia. Sehingga mereka rela berkorban nyawa. Padahal ketika itu Indonesia masih berupa gagasan yang tengah berproses.

Dalam konteks sekarang, para atlet peraih medali di Asian Games kemaren kemungkinan juga memiliki karakter dan determinasi sebagaimana para pelaut Nusantara itu. Sebagian dari atlet peraih medali tersebut tumbuh dari lingkungan dengan kondisi sosial ekonomi memprihatinkan. Peralatan latihan juga terbatas.

Para eksekutif yang tengah berperan sebagai leader di organisasi, seperti Anda misalnya, layak belajar dari para atlet peraih medali. Mereka membuktikan gigih menjadi the best they can be – lebih dari the best they can do – dalam kondisi apa pun. Tetap konsisten membangun momentum prestasi dalam keterbatasan.

Rasanya lebih nikmat lahir batin, jika kita dapat meraih hasil berangkat dari bekal minimal (bahasa resminya efisien) atau kondisi biasa-biasa saja. Saya bisa mengatakan demikian karena sudah membuktikan sendiri, ketika menjalani karir profesional, saat menjalankan usaha dagang, dan dalam kehidupan -- tentu saya sangat berterima kasih kepada atasan, mentor, dan chairman di grup usaha, serta orang-orang di sekitar saya, yang berperan penting dalam semua proses tersebut.

Para eksekutif di level Anda, saat menghadapi lingkungan kerja yang belum sesuai harapan, umpamanya, rasanya perlu mawas diri jika belum berprestasi. Sesungguhnya, setiap tahap ketidaknyamanan adalah ujian karakter bagi siapa saja -- apalagi bagi yang sudah memperoleh kendaraan dinas/operasional keren dan sehari-hari hidup dengan kondisi di atas rata-rata orang Indonesia.

Berbahagialah orang-orang yang berkarakter terpuji, selalu memilih memposisikan diri sebagai pemenang -- memiliki ownership tinggi, accountable, dan responsible; bukan membiarkan diri jadi korban keadaan. Ciri-ciri bermental korban umumnya sering blaming, banyak excuses, dan denial.

Sebagaimana kita ketahui, karakter merupakan hasil penjumlahan total dari pilihan-pilihan action kita setiap hari. Sebelum action muncul, lazimnya ada tujuan yang diutarakan, didorong niat baik yang ditumbuhkan dari keindahan kalbu – bukankah hati ini memiliki semacam GPS dan bahwa Tuhan “menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (QS At-Tin [95]:4).

Jika di antara kita ada yang senang menempatkan diri sebagai korban keadaan, ada indikasi telah mendegradasi -- atau berpaling dari -- keistimewaan yang diberikan oleh Pencipta Alam Semesta. Maka karakter itu penting. Kata Martin Luther King, Jr: “Cowardice asks the question: Is it safe? Consensus asks the question: Is it popular? Character asks the question: Is it right?

Karakter adalah kunci penting untuk membangun momentum kepemimpinan, agar dapat bersikap lebih baik dalam memberikan positive impact bagi banyak orang. Karakter melahirkan trust. “Momentum is developed when the followers trust their leader. Momentum is drained when the followers distrust their leader,” kata John C. Maxwell. “Momentum is developed when change helps growth.”

Sudahkah Anda membangun momentum untuk mengembangkan efektivitas kepemimpinan? Leadership growth menjadi lebih mudah dijalani dengan “leadership GPS”, berupa informasi dan data dari para stakeholders memperlihatkan posisi pemimpin, sehingga dapat menentukan arah maju.

Para eksekutif dan leaders yang telah dan tengah mengikuti program pengembangan efektivitas kepemimpinan berbasis Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC) menyadari benefit yang mereka dapat.

Karena secara periodik, tiga atau lima bulan sekali, efektivitas mereka diukur melalui Leadership Growth Progress Review (LGPR) melibatkan stakeholders. Mereka jadi lebih akuntabel dan mengetahui sejauh mana perubahan yang sudah mereka lakukan. Sehingga tidak perlu repot menduga-duga efektivitas kepemimpinan masing-masing dalam upaya berkembang bersama tim.  

Besar atau kecil perubahan yang dicapai tidak perlu dipersoalkan, karena selalu ada peluang untuk terus menjadi lebih hebat. Hal yang lebih utama adalah kemampuan navigasi setiap leader mengarungi lautan transisi, berbasis pada feedback dan feedforward para stakeholders untuk follow up, menentukan action berikutnya. Fokus ke depan, tidak perlu sering melihat kaca spion atau hal-hal yang sudah lewat. Pendakian menuju next stage kepemimpinan siapa pun akan lebih ringan jika tidak digayuti beban masa lalu.

 

Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

n  Certified Marshall Goldsmith Global Leader Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(http://sccoaching.com/coach/mcholid1).  

 

 

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.