Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-Acep Iwan Saidi
Acep Iwan Saidi 
Jumat 14 September 2018 10:28 WIB
Dibaca (939)
Komentar (0)

Kode Semiosis Pertemuan Prabowo dan SBY

indonesiana-Prabowo-SBY.jpg

Pertemuan Calon Presiden Prabowo Subiyanto dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 12/9/18 berlangsung tertutup. Publik tidak tahu persis apa yang dibicarakan kedua tokoh tersebut. Satu-satunya acuan adalah konfrensi pers setelah pertemuan tersebut. Tapi, konpers ini pun tidak berlangsung normal. Soalnya, SBY tidak hadir. Dalam memberikan keterangan kepada wartawan, Prabowo hanya ditemani Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan beberapa petinggi Partai Demokrat. Sebab itu, konpers  tidak memberikan penjelasan. Pertemuan itu pun menyisakan semacam “ketegangan” tanda.

Kode semiotika  “yang lima” dari Roland Barthes kiranya dapat digunakan untuk membaca gugus tanda politik tersebut. Dari perspektif ini, rangkaian atau sistem tanda yang terbentuk dari pertemuan itu mengirim kode-kode menarik, yang dalam beberapa hal sebetulnya menegaskan apa yang sejauh ini diduga publik terkait persoalan yang berkelindan dalam hubungan “koalisi politik” di kubu oposisi, wabil khusus tentang posisi Partai Demokrat (SBY).

Pertama, pertemuan ini dilakukan di tempat SBY, bukan sebaliknya (di kediaman Prabowo), juga bukan di tempat netral. Ini saja sudah mengirim pesan semiosis. Ini sebuah kode proeritik yang merujuk pada narasi empirik tentang hubungan antara satu titik ordinat dengan subordinat. Di dalam koalisi, Prabowo jelas adalah sentral (ordinat), sedangkan SBY adalah satu titik di antara titik-titik lain (partai politik lain) sebagai subordinat. SBY adalah satu mata pada rantai yang  mengelilingi titik ordinat. Ketika ordinat mendatangi subnya—dan hanya satu sub saja yang dikunjungi—jelas merupakan peritiwa yang berada di luar “narasi empirik” tadi.  Dapat dipastikan bahwa terdapat masalah pada subordinat itu. Ini menegaskan dugaan publik bahwa posisi Partai Demokrat di dalam koalisi memang belum “genap”. Halnya menjadi semakin tampak sebab Prabowo tidak datang sendirian, tetapi sekaligus dengan Sandiaga Uno, cawapresnya. Tampak betapa penting dan genting masalah tersebut di satu sisi dan pada sisi lain betapa penting posisi SBY dalam koalisi.

Kedua, SBY tidak hadir pada konpers. Ini tanda yang paling menarik. Sekilas ini dapat dikatakan sebagai kode hermenetik, semacam teka-teki yang mengirim ketegangan (enigmatik). Tapi, ia sekaligus dapat dibaca sebagai kode proeiritik, menunjuk pada narasi empirik sekaligus karakteristik SBY sebagai “Sang Tokoh”. Merujuk pada kode tersebut, segera kita menemukan negasinya. Ini di luar kebiasaan SBY. Ruhut Sitompul menyimpulkan bahwa ketidakhadiran SBY menujukkan kekecewaannya, lebih jauh merepresentasikan bahwa SBY masih sakit hati. Ruhut boleh saja benar. Tapi, jika masalahnya hanya kecewa dan sakit hati, terlalu naif buat tokoh sekaliber SBY. Ini bukan perkara kekecewaan, ini masalah peran yang sedang dimainkan sang tokoh. Dengan kata lain, ketidakhadiran SBY tidak merujuk pada peristiwa yang telah lewat, melainkan pada sesuatu yang belum terjadi, sekaligus sebagai sesuatu yang diinginkan SBY. SBY tahu persis posisinya yang penting dalam koalisi oposisi. Walhasil, dua pesan dapat ditemukan dari ketidakhadiran SBY dalam konpers tersebut: 1) pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan apapun, 2) ketidaksepakatan terjadi karena SBY memberi syarat yang belum bisa dipenuhi Prabowo.

Ketiga, berangkat dari pembacaan atas poin kedua di atas, kehadiran AHY pada konpers tidak pada posisi mewakili SBY dalam konteks pertemuan malam itu. AHY dihadirkan dalam fungsinya sebagai wakil dari posisi Partai Demokrat sebagai anggota koalisi yang memang sudah terbangun sejak awal. Itu sebabnya AHY menolak ketika diminta menambahkan keterangan oleh Prabowo. AHY memang menjawab pertanyaan wartawan, tapi pertanyaan tersebut bukan topik yang berkaitan dengan pertemuan, melainkan yang berhubungan dengan  posisi Partai Demokrat dalam koalisi, yang diisukan telah melakukan “politik dua kaki”. AHY memang juga menegaskan bahwa Partai Demokrat akan tetap bersama Prabowo dan Sandiaga Uno sampai keduanya berhasil memenangkan pilpres. Tapi, sekali lagi, ini jawaban dalam kontek koalisi, bukan tentang kesepakatan dalam pertemuan. Menjadi semakin  jelas di situ bahwa kehadiran AHY bukan mensubsitusi SBY, melainkan justru menegaskan ketidakhadirannya. Artinya, sekali lagi, pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan apapun. AHY hadir untuk menyampaikan pesan bahwa tidak ada pesan dari SBY. Dengan ini maka kehadiran AHY menggeser kode proaretik yang dikirim SBY di atas menjadi kode semantik. Prabowo boleh saja memberikan penjelasan. Namun, sifatnya menjadi hanya sebagai keterangan dari sebelah pihak.

Keempat, di sisi lain, ketidakhadiran SBY pada konpers sebenarnya juga menegaskan bahwa Partai Demokrat memang sedang memainkan “politik dua kaki”. Bukankah kaki utama (ordinat) Partai Demokrat adalah SBY itu sendiri, sedangkan petinggi Demokrat lain hanyalah kaki “pembantu” (subordinat). Pada konpers tersebut, bukankah hanya “kaki pembantu” itu yang hadir. Meminjam apa yang disampaikan AHY sendiri bahwa “berjalan dengan satu kaki tentu pincang”,  malam itu Partai Demokrat, tanpa kehadiran SBY, sebenarnya sedang membiarkan dirinya terlihat pincang. Dan perhatikan pula, dalam konpers koalisi tersebut, AHY memakai batik berwarna biru***

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.