Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 24 September 2018 20:32 WIB
Dibaca (1570)
Komentar (6)

Memuja Bola

indonesiana-Sepakbola_Persib_Persija_September_2018.jpg

 

Meskipun belum ada survei, dapat diduga bahwa sepakbola merupakan olahraga paling banyak digemari di dunia. Para penggemar bola pada umumnya memiliki loyalitas yang sangat tinggi kepada klub tertentu. Demikian tinggi kesetiaan ini hingga penggemar klub sepakbola akan sanggup melakukan apa saja demi ‘menjunjung tinggi’ nama klub—walau dengan cara dan perilaku yang salah.

Kematian Haringga Sirila di usia yang sangat muda menunjukkan bahwa bagi sebagian orang kebanggaan kepada klub melampaui penghargaan mereka terhadap jiwa manusia. Pemujaan terhadap klub sepak bola telah membutakan rasa welas asih kepada sesama manusia. Kegelapan mata yang bersifat masal itu memperlihatkan betapa sebagian orang sangat merendahkan jiwa yang diciptakan Allah yang Rahman.

Banyak orang lupa bahwa sepak bola, sebagaimana olah raga lainnya, diciptakan untuk mengasah semangat kemanusiaan: kejujuran (menghindari dopping misalnya), kerjasama, sportivitas, saling meghargai, dan banyak lagi. Olahragawan sejati bukanlah yang selalu memenangi pertandingan, melainkan yang dengan sikap perwira menghargai kawan berkompetisi yang lebih unggul dan tidak merendahkan yang tertinggal. Olahragawan sejati akan memahami bahwa olahraga hanyalah jalan untuk mengenal diri sendiri, menguasai diri, dan bukan jalan untuk menaklukkan dan mempermalukan orang lain.

Tapi permainan ini (yang banyak orang juga lupa bahwa olahraga hanyalah permainan) telah dijadikan simbol bagi martabat kelompok. Keperkasaan dan kalah-menang klub dianggap sebagai urusan harga diri. Dan bagi para penganiaya Haringga, harga diri itu melampaui nilai jiwa manusia. Kompetisi antarklub dapat berubah menjadi permusuhan antar penggemar klub. Untuk apa?

Kematian Haringga mengingatkan kita bahwa untuk sebagian penggemar klub, loyalitas mereka telah mencapai taraf yang mencemaskan dan menakutkan. Mereka sanggup melakukan kekerasan, sedangkan sportivitas dan permainan tidak dianggap penting lagi.

Kesetiaan mereka kepada klub bahkan melampaui kesetiaan para pemain klub itu sendiri, maupun manajer klub. Lihatlah, betapa para pemain sepakbola begitu mudah masuk sebuah klub dan kemudian segera berpindah ke klub lain yang menawarkan honor lebih tinggi dan bonus serta fasilitas yang lebih menarik. Sementara itu, para penggemar akan merasa malu berpindah hati ke lain klub. Berpindah kegemaran pada klub lain dianggap sebagai tabu yang harus dihindari.

Di manapun, pemujaan kepada klub telah menyihir banyak orang hingga mereka lupa bahwa penggemar klub lain adalah juga sama-sama manusia, bahkan mungkin masih memiliki pertalian darah yang dekat. Terlalu berharga jiwa manusia dikorbankan hanya untuk membela nama sebuah klub—betapapun hebat klub itu. (Foto: Persib - Persija/tempo.co) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.

0
0
2018-10-04 03:47:17
1
0
0
2018-10-04 03:47:12
1
0
0
2018-10-04 03:47:08
1
0
0
2018-10-04 03:47:06
1
0
0
2018-10-04 03:46:56
1
0
0
2018-10-04 04:35:17
1
0
0
2018-10-04 03:59:37
1
0
0
2018-10-04 03:59:34
1