Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Luhur Pambudi
Jumat 05 Oktober 2018 22:57 WIB
Dibaca (176)
Komentar (0)

Trauma Lombok, Rasa Takut Palu dan Kehilangan Donggala Bagian Satu

indonesiana-_103642131_e8c43142-d271-4202-aa5b-e0ad6c13ee96.jpg

Membaca, Menemani dan Merasakan Rasa Sakit Si Korban

Setelah Lombok. Kini Palu, Sigi dan Donggala. Apakah pernah ada sebuah bencana yang bisa kita sebut tidak begitu dahsyat. Mungkin bisa kita juluki; bencana kecil, bencana remeh, bencana enteng, bencana ringan, bencana kacangan, bencana anak bawang, bencana tak menyakitkan. Apakah bisa kita menyebut demikian pada beberapa bencana tertentu?

Semua bencana pastilah terbilang dahsyat, cuma dengan dasar pertimbangan yang terukur kita bisa mengetahuinya. Seperti; seberapa parah dampak kerusakan, berapa banyak jumlah korban yang berjatuhan, dan seluas apa radius wilayah terjadinya bencana. Kesemua itu bisa menjadi indikator terbilang tidaknyanya sebuah bencana disebut sebagai suatu peristiwa dahsyat.

Pernahkah kita menganggap dahsyat tidaknya bencana berdasarkan pemaknaan yang diperoleh manusia; tak membutuhkan indikator kuantitatif kebencanaan yang lazim dilansir oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Cukup mengandalkan; seberapa bermakna bencana itu bagi spiritualitas dan mentalitas hidup manusia? Seberapa kuat membentuk karakter positif dalam mentalitas diri manusia? Maka, bencana terbesar, terberat dan terdahsyat yang dimaksud adalah dicabutnya satu persatu orang-orang yang berilmu, pemimpin bijaksana dan pemuka agama alim dari muka bumi.

Sepertinya bencana jenis itu sedang terjadi ditengah-tengah kita, tanpa henti, tanpa kita sadari selama ini kita tak pernah menemukan pemaknaan atas bencana jenis ini, yang sebenarnya lebih dahsyat dibanding tsunami, gempa bumi atau gunung meletus sekalipun. Yakni bencana kebodohan. Karena kebodohan adalah wabah penyakit yang mematikan umat manusia, dan dari masa kemasa wabah tersebut tak pernah menurun angkanya.

Apakah hanya jenis bencana macam ini yang luput dari kesadaran kita setiap hari? Sepertinya ada ribuan jenis bencana sejenis ini yang tak kalah muram memicu duka disekeliling kita.

Sebagai korban. Apa cara berfikir, tafsir pemaknaan yang muncul dipikiran sesaat setelah bencana memporak-porandakan pekarangan rumah, kampung halaman, mengubur ternak juga orang orang tersayang tanpa sempat berpamitan? Sebuah pemaknaan yang bersifat normatif, akan membuahkan suatu pemahaman bahwa bencana tidak lebih sebagai cobaan dan ujian bagi manusia. Bahwa Tuhan dimungkinkan memiliki maksud baik yang tersembunyi dibalik kegetiran yang disebabkan bencana. Entah sebagai pelajaran, bahwa ada suatu hal buruk yang patut dirubah, dan munculnya bencana menjadi salah satu bentuk pembelajaran bagi umat manusia. Atau bisa juga dimaknai sebagai uji ketangguhan kualitas diri manusia sebagai insan menghadapi takdir dan nasibnya.

Adapun pemaknaan lain yang bersifat kritis. Kemunculan bencana, dianggap sebagai jenis hukuman yang dimaksudkan  untuk membuat jera. Pemaknaan kritis macam ini jika intensitasnya sering muncul dipikiran korban, dapat dipastikan akan terbentuk sikap pesmistik, inferior, minder atau rendah diri. Dengan menganggap bahwa realitas bencana murni diartikan sebagai hukuman untuk membuat jera bagi mereka yang berbuat hal buruk atau negatif. Tentunya pemaknaan kritis ini tidak akan mengantarkan para korban untuk tiba pada suatu dorongan untuk merekonstruksi dan merekonsiliasi kembali mental mereka yang baru ambruk oleh becana untuk digantikan dengan mental yang lebih baik.

Keadaan fisik yang lemah paska bencana, yang berdampak pula pada kemunduran mentalitas yang akut karena traumatik sindrom; perasaan shock karena begitu parahnya bencana, perasaan sedih karena kehilangan sanak keluarga, rasa tak terima dan tak percaya lenyapnya harta benda dan tempat tinggal, akan mudah sekali memicu kemunculan jenis pemaknaan bencana yang bersifat kritis. Korban cenderung pesimis menghadapi hidup paska bencana, karena menganggap tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selama hidup diatas reruntuhan bangunan yang terdampak akibat bencana, dan diperparah kemudian hilangnya semangat dan motivasi hidup setelah ditinggal pergi sanak keluarga yang menjadi korban jiwa.

Namun cara pemaknaan kritis semacam itu, sebenarnya lambat laun akan menghantarkan para korban untuk tiba di ujung logika berfikir “akan sampai mana dan kapan mereka akan terus merasa dalam kesedihan, duka dan luka”. Ujung logika berfikir yang membuahkan cara berfikir baru ini akan memberikan dampak perubahan dalam diri korban, salah satunya adalah epifani yakni pembalikan makna atas realitas yang sedang dialami manusia. Sebuah titik balik yang membuat atau memaksa manusia memutuskan untuk kembali atau menemukan jalan baru yang positif dalam hidupnya saat menghadapi realitas yang begitu kompleks; sarat akan masalah.

Bila korban sampai pada epifani ini, tidak akan sulit bagi kita untuk melakukan rekonsiliasi fisik maupun psikis paska bencana. Karena dalam pikiran korban telah tersusun modal argumen positivistik yang mampu memantik energi untuk memotivasi hidup yang lebih baik, dengan optimisme sebagai jalan satu-satunya untuk menghadapi situasi, masalah atau realitas saat ini, tanpa terlalu disibukkan dengan ekspektasi pencapaian hasil; yang memuaskan atau berbuah kegagalan. Optimisme yang dipastikan muncul dalam diri korban bencana adalah bentuk dialektika yang memantik kesadaran diri jika terdapat suatu hal yang salah atau keliru, untuk sesegera mungkin diperbaiki, tanpa perlu berlarut-larut dengan rasa sakitnya, rasa kesalnya, rasa letihnya maupun dampak negatifnya. Namun jika terdapat suatu hal yang positif, maka akan tetap dipertahankan untuk menjadi modal, energi dan kekuatan mempertahankan agar tetap stabil.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.