Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Amran 
Rabu 10 Oktober 2018 10:55 WIB
Dibaca (10615)
Komentar (0)

Restore(korup)si, Akankah NasDem Bubar?

indonesiana-partai_nasdem.jpg

Pada Juni 2013, Ketua Umum Nasdem Surya Paloh pernah berkata, "kalau kadernya korupsi, Partai Nasdem lebih baik bubar," tegasnya.

Partai Nasdem diresmikan pada tanggal 26 Juli 2011, di Hotel Mercure, Jakarta Utara. Meski baru berumur jagung, Nasdem bisa menembus persyaratan untuk menjadi peserta pemilu tahun 2014. Hal tersebut tidak lepas dari strategi Nasdem yang diawalnya hanya merupakan organisasi kemasyarakatan (ormas) nasional.

Semangat pendirian ormas Nasdem gegap gempita di seluruh seantaro Indonesia. Misi gerakan perubahan menjadi salah satu banyaknya masyarakat yang bergabung. Ditambah lagi dengan pemberitaan Metro TV, maka makin masif gerakan tersebut.

Namun, perjalanan pendirian ormas Nasdem dinilai banyak pihak hanya sekedar jalan pintas untuk dapat memenuhi persyaratan kuota mengikuti Pemilu 2014. Polemik mulai terjadi, sejumlah kader ormas satu persatu mulai mundur. Bahkan Harry Tanoesudibjo yang sebelumnya bergabung dengan Nasdem menarik diri keluar.

Isu "gerakan perubahan" dan restorasi Indonesia yang menjadi jargon Partai Nasdem terbukti ampuh membawa Nasdem menjadi salah satu partai yang diperhitungkan di Indonesia. Apalagi semangat menolak korupsi dan koruptor yang digaungkan menjadi salah satu magnet yang menarik masyarakat memilih partai besutan bos Media Group ini. Pada pemilu 2014, Nasdem sukses meraih 6,72 persen suara dan 35 dari 560 kursi di DPR RI.

Sayang, raihan gemilang dan janji Nasdem pada pemilu 2014 kini tinggal angin surga. Semangat restorasi Indonesia yang memulihkan, mengembalikan, serta memajukan fungsi pemerintahan sesuai cita-cita Proklamasi 1945 kini malah berbalik arah menjadi "restore korupsi".

Restorasi Indonesia yang digaungkan Nasdem kini menjadi batu sandungan. Kader-kader partai Nasdem kini tengah bergelut dengan kasus korupsi layaknya zaman orba. Apakah semangata restorasi (mengembalikan) budaya korupsi zaman orba juga jadi salah satu gerakan Nasdem?

Tentu pertanyaan kritis ini harus mampu di jawab Nasdem di tengah maraknya Nasdem "membajak" kader partai politik lain yang nyata-nyata diduga terlibat kasus korupsi. Contohnya Syahrul Yasin Limpo kader senior Golkar yang pindah ke Nasdem diduga tersandung korupsi CGI. Ada lagi nama Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan (kader PDIP) yang diduga LBH Gerimis mengaminkan praktek korupsi dijajaran pemerintahan Papua Barat.

Kader oposisi pemerintah juga tidak luput dari bajakan. Kader Gerindra yang juga Bupati Minahasa Vonny Anneke Panambunan diduga tersandung kasus dugaan korupsi pemecah ombak juga pindah ke Nasdem. Seteru terbaru, pindahnya kader Partai Demokrat yang juga terlilit kasus dugaan korupsi dana banjir, yaitu Wali Kota Manado Vicky Lumentut.

Tudingan bahwa Nasdem menjadikan Jaksa Agung sebagai alat politik menyeruak kepublik. Hal tersebut disuarakan keras oleh politisi partai Demokrat Andi Arif. Diketahui posisi Jaksa Agung dipegang oleh politisi Nasdem, M Prasetyo.

Nasdem yang dulu berkomitmen akan membubarkan diri jika partainya dijadikan alat korupsi bagi kadernya tergigit ludah. Partai yang dulu mengusung restorasi Indonesia malah menjadi partai restore (mengembalikan) korupsi. Ini tantangan sekaligus kritikan bagi Nasdem untuk memperbaiki diri, atau bisa jadi jalan bagi Nasdem untuk memenuhi janji membubarkan partainya.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.