Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Putu Suasta 
Politisi Demokrat
Rabu 10 Oktober 2018 11:02 WIB
Dibaca (312)
Komentar (0)

Membawa Dunia ke Bali

indonesiana-IMF-WB.jpg

Bali dalam beberapa hari ke depan akan menjadi sorotan dunia. Pertemuan IMF-World Bank di pulau dewata ini terlalu penting untuk dilewatkan atau diabaikan oleh para pelaku ekonomi di seluruh dunia. Maka cukup disayangkan, di dalam negeri topik ini dijadikan bahan gunjingan dan menjadi bahan bully di media sosial. Semestinya semua elemen di negeri ini bersatu untuk meraup mamfaat sebesar-besarnya dari event internasional tersebut, terutama dalam menghadapi ancaman pelemahan ekonomi yang datang dari berbagai lini akhir-akhir ini.

Mamfaat Berlipat Ganda

Sidang tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) digilir setiap tiga tahun di pelbagai kota di luar Washington DC yang secara tradisional menjadi kantor pusat dan penyelenggara dua sidang tahunan Bank Dunia/IMF secara berurutan. Indonesia akan dikenang sebagai negara ke-11 di Asia yang berhasil menjadi tuan rumah hajatan besar tersebut. Proposal menjadi tuan rumah diajukan dan diperjuangkan Indonesia pada tahun 2014 di bawah pemerintahan Presiden SBY. Tentu ada banyak negara yang berjuang mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumah karena menyadari manfaat berlipatganda dari perhelatan tersebut.

Diperkirakan 34.000 peserta dan ratusan tamu negara, ekonom, serta investor dari 189 negara hadir dalam acara tersebut (Kompas 8/10/2018). Kehadiran tokoh-tokoh ekonomi penting di dunia, tentu akan membuat acara ini menjadi sarana promosi yang luar biasa bagi Indonesia. Apalagi, bagi Bali yang kini memiliki ikon baru, yakni Garuda Wisnu Kencana. Promosi tersebut bagus untuk memperkenalkan Indonesia ke kancah dunia, terutama di sektor pariwisata.

Keuntungan yang akan diperoleh Bali tersebut tentu wajar. Pasalnya, pemerintah juga telah mengeluarkan dana besar guna suksesnya perhelatan akbar tersebut. Memang, jika hanya dihitung dari biaya perhelatan relatif kecil, hanya sekitar Rp 566 miliar. Itu pun pemerintah masih mengklaim sekitar Rp 100 miliar akan kembali lagi ke pemerintah melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Artinya, jika hanya dibandingkan antara biaya perhelatan dan manfaat ekonomi yang diterima, Bali masih surplus. Pemerintah memperkirakan sektor hotel dan akomodasi akan berkontribusi Rp 900 miliar, sementara sektor perdagangan Rp 800 miliar. Hitungan tersebut dengan asumsi lama rata-rata tamu tinggal di Bali  sembilan hari karena peserta hadir sebelum dan setelah 8-14 Oktober 2018.

Diperkirakan akan menambah ribuan kesempatan kerja untuk melayani berbagai keperluan peserta. Apalagi, jika hotel dapat bermitra dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk membuka berbagai gerai produk lokal dan membuat paket wisata, tentu efek penggandanya akan lebih besar lagi (Kompas 9/10/2018).

Akan tetapi, jika dihitung secara total, setidaknya investasi guna mempersolek Bali melalui berbagai perbaikan infrastruktur menelan sekitar Rp 4,5 triliun, di antaranya, pembangunan terowongan (underpass) Simpang Tugu Ngurah Rai, perluasan apron Bandara I Gusti Ngurah Rai, serta peningkatan kapasitas Pelabuhan Benoa, dan penyelesaian proyek patung Garuda Wisnu Kencana (Bali Post 8/10/2018). Investasi di sektor infrastruktur ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi Bali karena fasilitas-fasilitas itu dapat dinikmati hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

Memacu Ekonomi Nasional

Peningkatan pendapatan dari sektor pariwisata berkat perhelatan internasional tersebut menjadi momentum memperbaiki defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia yang menjadi salah biang keladi pelemahan rupiah terhadap dollar dalam beberapa bulan terakhir. Dalam skala ekonomi global, pertemuan itu akan meningkatkan keyakinan investor dan regulator keuangan global terhadap situasi ekonomi dan politik Indonesia yang kondusif. Hal ini akan membangun persepsi positif terhadap Indonesia. Sementara untuk kepentingan jangka panjang, pertemuan tahunan ini menjadi ruang transfer ilmu bagi perbankan di Tanah Air dengan bank-bank dunia. Ajang ini akan menjadi sarana tukar informasi antar pengelola bank di dunia.

Karena itu, semua elemen bangsa mesti bersatu bukan sekedar menjadi tuan rumah yang baik, tetapi juga harus mampu memetik manfaat maksimal dari pertemuan ini. Selain mengangkat pamor dan ajang promosi, pertemuan ini diharapkan membawa dampak ekonomi baik skala lokal maupun nasional. Baik dari sisi pariwisata, dicapainya kesepakatan kerja sama pembiayaan berbagai proyek infrastruktur dan ekonomi digital, transfer ilmu dan berbagai mamfaat ekonomi lainnya mesti mampu dimamfaatkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.