Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Supartono JW 
Pengamat
Kamis 11 Oktober 2018 07:09 WIB
Dibaca (8105)
Komentar (0)

BBM Naik, Pembela Rakyat Diam

indonesiana-20181011_071529.png

Tahun lalu, 2017, saat Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, ratusan mahasiswa dari badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), IMM, LMND dan lainnya, menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Gladag, pada Senin pagi (9/1/2017). Dalam orasinya,  mereka menolak kebijakan pemerintah menaikkan BBM dan listrik serta biaya tarif penerbitan STNK/BPKB. 

Mereka membawa sejumlah spanduk dan poster berisi kecaman atas kebijakan pemerintah dan tuntutan agar kenaikan dibatalkan. Spanduk tersebut antara lain berbunyi

'Mahasiswa bergerak menolak tunduk bangkit melawan!!!',

'Pemerintah dibutakan kekuasaan, Rakyat kecil tak dihiraukan',

Derita sudah naik seleher' dan lainnya.

"BBM naik, pajak naik, listrik naik, berarti ada yang harus turun. Siapa teman-teman ?"

Pernyataan sikap dalam orasi tersebut adalah kepada pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo.

Pertama, menuntut pemerintah mencabut kenaikan harga BBM, listrik, dan biaya tarif penerbitan STNK dan BPKB.

Kedua, pihaknya meminta pemerintah untuk membatalkan kenaikan BBM nonsubsidi yang memicu kenaikan harga pokok.

Ketiga, menuntut pemerintah untuk mengembalikan subsidi listrik.

Keempat, menuntut pemerintah Indonesia, Polri, Kemenkeu dan instansi pemerintah terkait untuk bersikap tegas dan berhenti lempar tangan terhadap kebijakan yang menyangkut hajat dan kesejahteraan rakyat Indonesia serta menuntut pemerintah agar hadir sebagai solusi terhadap permasalahan yang ada dan menetapkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

 

Minimnya sosialisasi dan pemerintah yang terkesan lempar tangan membuat rakyat semakin tercekik dan sesak nafas.

 

Itulah secuplik kisah saat mahasiswa membela rakyat. Sebelum-sebelumnya, aksi serupa juga selalu terjadi bila persoalan hajat hidup orang banyak disentuh oleh pemerintah dan memberatkan rakyat.

Kini, PT Pertamina (Persero) akhirnya menaikkan BBM di SPBU. Sebabnya, setelah cukup lama menahan kenaikan harga BBM di tengah melambungnya harga minyak dunia, maka

harga BBM dinaikkan, yaitu jenis pertamax series dan dex series, serta biosolar non PSO.

Penyesuaian harga telah digulirkan sejak Rabu (10/10) dan berlaku di seluruh Indonesia pukul 11.00 WIB.

Sedangkan harga BBM premium, biosolar PSO dan pertalite tidak naik. Khusus harga BBM untuk daerah yang terkena bencana alam di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah untuk sementara ini tidak mengalami kenaikan.

Penyesuaian harga BBM jenis pertamax, pertamax turbo, dexlite, pertamina dex, dan biosolar non PSO merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik. Saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus US$ 80 dolar per barel

Pertamina pun mengikuti aturan terkait penyesuaian harga sesuai Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Beruntung, pemerintah membatalkan kenaikan harga premium. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa kenaikan harga BBM, bukan ditetapkan oleh pemerintah, namun oleh PT Pertamina?

BBM adalah komoditas strategis, karena menyangkut hajat hidup orang banyak sesuai Pasal 33 UUD 1945. Haruskah pemerintah menyerahkan kepemilikan dan penguasaan kepada sektor privat karena tidak sesuai Pasal 33? Dan, tidak membela hajat hidup orang banyak.

Bila boleh memutar sejarah, saat pemerintahan Soeharto, kenaikkan BBM itu diumumkan langsung oleh Presiden Soeharto, menjelang tengah malam. Lalu, berpidato menjelaskan mengapa BBM harus naik. Dijelaskan dengan sangat detil, karena menyangkut hajat hidup orang banyak, rakyat.

Kini, seringnya kenaikan harga BBM, bahkan boleh dibilang dengan cara diam-diam. Pembela rakyat yang bernama mahasiswa pun kini tak terlihat memihak rakyat kecil, adem ayem. Padahal di Indonesia kini sedang berlangsung pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali.

 

Yang pasti, adanya kenaikan harga dolar, dan kini harga BBM juga dinaikkan, menjadikan tanda-tanda adanya masalah ekonomi di negeri ini. Beruntung, harga BBM Premium ditundanya kenaikannya, meski bisa jadi akan tetap dinaikkan.

Mengapa BBM naik bukan diumumkan oleh Pemerintah? Mengapa BBM naik, para pembela rakyat diam saja? Mengapa? Mengapa? Ke mana mereka?




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.