Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Metro  
Balaikota
indonesiana-tempoid-default
Frans Ari Prasetyo 
Selasa 23 Oktober 2018 16:31 WIB
Dibaca (234)
Komentar (0)

20 point Jawa Barat Dalam Rabaan (Kreatif-Juara) di Masa Depan

indonesiana-thumb_700_800_800_0_0_auto_kkkaoe.jpg

Bandung sebagai ibukota Jawabarat menjadi pusat dari segala denyut perubahan dan perkembangan sosial, spasial dan kebijakan. Beragam artikulasinya akan menjadi representasi pemilik kekuasaan sebagai rujukan pola pemerintahan. Meraba Jabar pasca pilkada 2018 yang kali ini juga diikuti oleh walikota Bandung aktif menjadi eskalasi menarik dalam melihat situasi dan dinamika perkembangan secara sosial, spasial dan kebijakan dalam 5 tahun kedepan. Akankah Jabar akan mengalami duplikasi kebijakan, perpanjangan kebijakan hingga ritme sosial damn spasial layaknya Bandung sekarang ini yang kadung eksis dan percontohan dalam agenda pembangunan yang mutakhir, gaul dan sadar media sosial itu. Berikut beberapa hal yang pernah terjadi di Bandung, kemungkinan yang akan terjadi dan dibawa ke Jawabarat diera pemerintah (an) kontemporer sekarang ini.

  • Semboyan Jabar akan berubah dari Jabar Kahiji menjadi Jabar Juara meneruskan Bandung Juara yang sudah kadung tertancap prestisius di hati sanubari warga kota Bandung yang ingin juga ditancapkan untuk warga Jabar

  • Semboyan Siliwangi yang merupakan representasi Jabar akan bertambah diera kepempimpinan Jabar yang baru, menjadi  silah asah, silih asih, silih asuh dan silih selfie.

  • Selfie menjadi program penting dan utama, karena diklaim dapat meningkatkan PAD hingga milyaran

  • Munculnya indeks kebahagiaan yang diupgrade dan diupdate untuk disesuaikan dengan karakter demografi dan geografis Jabar

  • Munculnya kebijakan baru, bahwa setiap warga Jabar wajib memiliki media sosial, seperti Intagram, Twitter dan FB jika tidak mau dibilang bukan warga Jabar yang “smart”  karena kebijakan pemerintah/kepada daerah akan selalu update melalui kanal media sosial ini dibanding kanal resmi pemerintah.

  • Munculnya skenario2 partisipatif bahkan partisipatif dalam proses-proses perampasan lahan warga dalam framing penggusuran Humanis.

  • Polarisasi warga Jabar  akan terpecah, terkonsentrasi  dan terstigma menjadi dua kubu, yaitu lovers dan haters. Khusus untuk lovers ada istilah lain, yaitu “fanboi”.

  • Jika hendak kritik pemerintah, hendaknya siapkan data yang mumpuni, argumentasi yang jelas dengan opini yang logis,  jika tidak maka harus siap di bully fanboi.

  • Jangan terlalu sering kritik kebijakan pemerintah dan mengeluh, karena ada akan di cap sebagai warga yang kurang piknik.

  • Jomblo akan bernasib paling menyedihkan, tidak peduli jomblo karena belum punya pasangan hidup, karena ditinggal meningggal pasangannya atau karena bercerai akibat KDRT, yang penting mereka itu jomblo akan selalu di framing sebagai olok-olok kaum tidak bahagia.

  • Sebuah ruangan Hi-Tech  di Bandung bernama Comman Center Bandung dibangun sebagai tempat untuk memantau warga sipilnya dan juga pusat komando pelaporan terhadap berbagai kegelisahan warganya, maka tidak mungkin nantinya di Jabar akan memiliki ruangan serupa ruangan StarTrek dengan kapten kirk-nya adalah gubernur Jabar.

  • Selain akan munculnya indeks kebahagiaan Jabar seperti di Bandung ditahun 2016-2017, ada baiknya juga menengok indeks intoleransi Jabar yang nomor satu di Indonesia di tahun 2017 lalu. Bayangkan ada 46 kebijakan distriminatif dan melanggar hak kebebasan beragama berlaku di Jabar dan kab/kota didalmnya. 7 kota dari 10 kota paling intoleran berada di Jabar, masa iya nantinya bahagia kok intoleran, khan ga mecing.

  • Jika gubernur Jabar sebelumnya berjanji bahwa air citarum di tahun 2018 dapat diminum, semoga dengan skenario smart dan kreatif dimasa kepemimpinan gubernur baru air Citarum dapat secepatnya diminum.

  • Jika sebelumnya permasalahn banjir dan sampah selalu menjadi isu lokal dan masalah kabupaten/kota dan selalu akan saling menyalahkan diantara pemimpinnya, maka karena sudah di provinsi dan menjadi masalah regional masa iya akan nyalahin provinsi lain, khan masih antar kota dalam provinsi.

  • Dari sekian banyak kota populer di Jabar termasuk Bandung yang cantik dan instagramable itu, nyatnya kanya tanggerang selatan yang masuk 10 besar kota layak huni menurut kementrian agraria. Lah masa iya, kota yang selalu banyak selfie itu tidak layak huni dan masih banyak kota di Jabar lainnya yang tidak layak huni, semoga ada kebijakan yang akan membuat kota-kota di Jabar “lumayan” layak huni.

  • Perda Syariah sudah menjadi term arus utama dari kota-kota di Jabar. Sejak tahun 2004, kota-kota di Jabar berkontribusi dalam pembentukan perda syariah di Indonesia dalam skala kab/kota, sebut saja Sukabumi, Cirebon, Tanggerang, Bandung, Cianjur, Majalengka dan Bekasi. Mulai dari aturan baju dinas ASN, busana muslim pelajar, pengelolaan zakat hingga aturan minuman beralkohol.  Perda Syariah tidak terlalu menjadi pertanda dari pergeseran politik transformasi ideologi yang meluas, tapi hanya sebagai hasil dari politik pemanfaatan, misalnya demografi berdasarkan agama. Tapi tetap saja dalam praktik kesehariannya warga akan merasa kikuk, intimidatif karena takut dianggap berdosa hingga dianggap tidak religius karena tidak ikut aturan main. Provinsi Jabar bukan tidak mungkin akan menerapkan perda syariah mengingat, lokus-lokus kab/kota nya secara lokal sudah menerapkan perda ini, jadi mungkin sekalian aja dibuat secara regional.

  • Aturan jam malam. Desas desus berlaku atau tidaknya jam malam di Bandung masih dalam perdebatan. Namun yang pasti walaupun scara formal klaim pemerintah kota tidak ada jam malam, warga merasakan jam malam itu berdentang keras laksana menonton film horor yang mengintai penontonnya alias warganya secara informal ketika berada diruang publik malam hari dan hal ini bukan tidak mungkin akan berlaku juga di Jabar, jika diperlukan.

  • Jabar tentu sudah punya banyak jalan Tol, Tol Purbaleunyi yang menghubungkan dua kota besar Jakarta-Bandung, Tol Cipali yang menghubungkan kawasan regional dari Barat dan Timur Jabar melalui jalur utara, serta Tol Bocimi (Bogor-Cianjur-Sukabumi) yang sedang dibangun untuk menghubungkan poros regional utara dan selatan Jabar. Tapi jabar juga nanti akan memiliki tol baru seperti kota Bandung, yaitu tol air yang mendistribusikan air banjir dari satu titik ke titik lainnya secara suka-suka, karena pengalaman yang ada air banjir di tempat yang lebih tinggi, baik secara geografis maupun kelas diteruskan ke kampung yang lebih rendah juga secara geografis dan kelas.

  • Jumlah “like” yang didapatkan di pelbagai media sosial, dapat ditafsirkan sebagai kesuksesan pembangunan dan pemerintahaan yang baik. Dalam tahun 2017 saja, terdapat 146 juta "like" yang diperoleh penguasa kota Bandung yang ditafsir sebagai kesuksesan pembangunan. 

  • Jika suatu saat di kawasan Jabar ada banjir, jangan pernah sebut itu banjir itu tidak elok dan tidak baik bagi citra daerah,  bilang saja pantai sedang pasang dan akan segera surut serta jangan lupa banyak berdo’a, tentu terlihat lebih smart dan kreatif khan. 

Saran terakhir, Presiden Jokowi perlu belajar banyak dari Ridwan Kamil bagaimana cara melepaskan diri dari pitingan partai dan itu sukses dilakukan ketika memenangkan pilwalkot Bandung dan Pilgub Jabar. Namun,  selain itu perlu belajar selfie yang instagramable serta rajin mengungah semua praktik kebijakan hingga infrastuktur yang dibuatnya walau masih dalam rencana yang penting dapat “like” dulu saja dari publik, hal itu termasuk bagaimana mengelola urusan rumah tangga melalui foto menjadi modal sosial yang mumpuni dalam mendongkrak elektabilitas dimasa depan. Terbukti, masa depan Jabar ditentukan oleh hal-hal tersebut.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.