Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Pendidikan
indonesiana-tempoid-default
Hossy Juntak
Rabu 07 November 2018 16:50 WIB
Dibaca (475)
Komentar (0)

Cara Orang Tua Suku Baduy Luar agar Anak Melek Huruf

indonesiana-Narman_dan_anak_keduanya._.JPG

Narman berkukuh tak akan menyekolahkan dua anaknya di bangku pendidikan formal. Menurutnya ada banyak cara mendidik anak-anaknya agar tumbuh setara seperti anak-anak di luar lingkungan suku Baduy Luar.

Narman adalah salah seorang warga suku Baduy Luar di kampung Marengo, Desa Kanekes, Lebak, Banten. Di usia yang ke-26 tahun ia sudah memiliki bisnis yang ia namai Baduy Craft. Ia menjual kain tenun dan sejumlah aksesoris khas Baduy secara online, pameran, dan di tokonya sendiri di Ciboleger. Ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal namun bisa baca tulis, mengoperasikan ponsel, dan komputer. “Terus, Kang Narman bisa belajar baca tulis sama komputer di mana?” tanya saya. Narman mengaku urusan baca tulis sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya sejak ia masih kecil. Ia bersama saudara-saudaranya belajar di mana pun dan kapan pun mereka mau tanpa terikat jadwal belajar yang kaku. Untuk pengetahuan komputer, ia pelajari secara otodidak dari buku yang ia beli ketika ia beranjak dewasa. Narman mengungkapkan bahwa suku Baduy Luar dilarang mengenyam pendidikan formal. Ini sudah aturan turun temurun bagi suku Baduy.  Sudah sejak lama pemerintah ingin mendirikan sekolah di lingkungan orang Baduy, tapi selalu mendapat penolakan. Walaupun aturan orang Baduy Luar tidak seketat Baduy Dalam, tetap saja mereka meyakini kehadiran sekolah bertentangan dengan aturan adat. Sebagai informasi, suku Baduy Dalam sama sekali tidak mengenal baca tulis.  Narman dan anak-anak suku Baduy Luar lainnya belajar dari orang tua mereka yang belajar baca tulis secara otodidak.

Orang tua berperan besar dalam memberantas buta huruf di kampung suku Baduy Luar. Ketika memasuki salah satu kampung Baduy Luar di Ciboleger, Lebak, Banten, saya melihat seorang anak perempuan tengah menulis. Posisinya tak jauh dari ibunya yang tengah menenun. Sebelum mendengar cerita lengkap soal larangan sekolah formal dari Narman, saya keceplosan bertanya kepada si anak, “Lagi belajar, ya? Kamu kelas berapa?” Narman pun langsung bereaksi atas pertanyaan saya, “Eh…eh…di sini tidak ada sekolah. Orang Baduy tidak boleh sekolah,” jawab Narman. Anak perempuan yang tadinya asyik menulis itu segera menyimpan bukunya ketika saya dan ibunya bercakap-cakap.

Ketika mengunjungi rumah Narman, sekitar satu jam jalan kaki dari tugu tani Ciboleger, saya melihat rak yang berisikan sejumlah gulungan benang juga diisi beberapa koleksi buku. Saya meyakini mereka yang punya koleksi buku di rumah, memiliki minat baca yang tinggi. Dan menurut saya, Narman adalah suku Baduy Luar yang unik. Dari beberapa rumah suku Baduy Luar yang saya kunjungi, hanya rumah Narman yang memiliki koleksi buku. Narman pun mengakui tak banyak di kampungnya yang suka baca. Ya, sebagian dari mereka sudah melek huruf semata-mata untuk memudahkan aktivitas mereka dan saat berinteraksi dengan orang-orang di luar kampung mereka. Walaupun Narman dan sebagian besar orang Baduy Luar juga telah mengenal ponsel, tetap saja ketika kembali ke kampung mereka, ponsel tersebut tidak aktif karena sinyal dan listrik tidak ada. Ponsel Narman aktif ketika tiba di Ciboleger. Hanya di tokonya, Narman bisa mengoperasikan komputer dan ponselnya.

Narman tidak bisa memungkiri bahwa mengenyam pendidikan itu sangat penting. Apalagi ketika bertemu dengan sesama pebisnis muda di sejumlah pameran, Narman merasa perlu banyak belajar lagi. “Kalau gitu, nanti anak-anak akan disekolahin di sekolah formal, ya Kang?” Narman dengan tegas menjawab tidak mau. “Kalau mereka sudah besar itu pilihan mereka mau melanjutkan sekolah atau tidak. Tapi, untuk pendidikan dasar biar saya saja yang ngajarin. Saya sudah bisa buktikan itu.” Narman mengaku ingin terus melestarikan aturan adat yang sudah lama ia yakini dan ingin meneruskannya kepada anak-anaknya. Ayah dua anak ini juga berkeyakinan bahwa anak-anaknya akan mendapatkan pendidikan yang sama baiknya dengan anak-anak yang duduk di bangku formal.

Lain halnya dengan Sarpin, warga suku Baduy Luar yang bekerja sebagai perangkat Desa Kanekes. Sarpin menilai pendidikan formal sangat dibutuhkan bagi anak-anak suku Baduy. Sarpin bersama istrinya merasa dengan pendidikan, orang Baduy bisa menyerap apa yang baik dan buruk bagi perkembangan kampung mereka. Pasangan ini pun memilih mengantarkan dua anak mereka untuk mengikuti sekolah kejar paket. Sarpin yang sering berinteraksi dengan wartawan dan peneliti ini tidak setuju dengan aturan adatnya yang melarang sekolah bagi anak-anak suku Baduy. Pendidikan menurutnya tak akan menggerus adat mereka. Sarpin belajar baca tulis saat beranjak remaja. Ia belajar dari temannya yang juga suku Baduy Luar dan dari masyarakat luar Baduy. 

Sebagai orang luar, saya yakin pilihan Narman dan Sarpin adalah pilihan yang baik untuk anak-anak mereka. Satu hal yang mungkin sulit didapat anak-anak suku Baduy Luar di bangku pendidikan formal adalah bagaimana menghargai dan mencintai alam seperti mencintai diri sendiri.

Oh iya, ketika memasuki kampung Baduy Luar pada pertengahan September 2018 lalu, umumnya kegiataan kaum perempuan adalah menenun. Suku Baduy Luar mendiami sekitar lima puluh lebih kampung. Dan saya berkesempatan mengunjungi lima kampung selama tiga hari. Saya lebih senang menyebut beberapa kampung  yang saya kunjungi sebagai kampung tenun karena hampir semua rumah memiliki alat tenun dan menjual kain tenun Baduy. Sayangnya, saya tidak menginap di kampung Baduy Luar. Jadi, tidak bisa merasakan hidup dengan mengandalkan alam. Aturan suku Baduy juga melarang adanya toilet sehingga aktivitas mandi dan buang hajat umumnya dilakukan di sungai.

Untuk kalian yang berencana mengunjungi kampung orang Baduy, siapkan tenaga ekstra, ya! Karena kondisi jalan yang naik turun dan kendaraan apa pun dilarang melintas. Kalau sudah jalan-jalan, jangan lupa beli kain tenun Baduy atau minimal aksesorislah sebagai kenang-kenangan sekaligus membantu pertumbuhan kerajinan lokal. Harga kain tenun bervariasi mulai dari Rp 70 ribu hingga jutaan. Kalau aksesoris dibanderol dari harga Rp 5 ribu hingga ratusan ribu.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.