Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bola  
Sepakbola
indonesiana-tempoid-default
Ahmad Syaiful Bahri 
Kamis 22 November 2018 21:10 WIB
Dibaca (410)
Komentar (0)

Ketika Mimpi Juara Piala AFF pun Semakin Sulit

indonesiana-bola.JPG

Tragis. Itulah gambaran kondisi timnas Indonesia senior saat ini di gelaran Piala AFF 2018. Harapan melangkah ke semifinal sempat tumbuh manakala Indonesia menghajar Timor Leste 3-1 di Stadion Gelora Bung Karno walaupun kemenangan tersebut diraih dengan susah payah.

Setidaknya setelah lagi itu rasa optimisme tetap terjaga. Mengingat di laga perdana, Indonesia dihajar Singapura 1-0. Sedih, tentu saja. Meratapi kegagalan demi kegagalan, yang bahkan jangankan masuk ke piala dunia, mimpi juara Piala AFF pun terasa semakin sulit direngkuh. Dosa apa yang menghinggapi persepak bolaan nasional hingga timnas kita tak kunjung mentas dari kubangan kegagalan.

Timnas senior yang bermain di Piala AFF saat ini banyak dihuni mantan pemain Asian Games 2018 yang permainan mereka cukup solid dan menjanjikan, gerakan dari kaki ke kaki dan penguasaan bola cukup baik membuat sebagian masyarakat meyakini timnas ini akan melangkah lebih jauh di gelaran Piala AFF. Bima Sakti yang ditunjuk PSSI menggantikan Luis Milla dengan persiapan tidak ada dua bulan tersebut membuat ia harus bergerak cepat, termasuk segera menunjuk asisten pelatih. Kondisi itu diperparah Liga 1 yang masih berjalan ketika liga liga di Asia Tenggara sudah usai.

Akhirnya Bima Sakti mengambil jalan pintas dengan memilih pemain-pemain yang sudah cukup dekat dengannya, yaitu eks pemain Timnas Asian Games. Namun, ada yang lupa disitu, bahwa Asian Games tentu berbeda dengan Piala AFF. Atmosfir, gairah dan tentu saja format Piala AFF yang berbeda dengan dua tahun lalu, sepertinya tidak diperhatikan betul oleh tim pelatih.

Timnas kita kebanyakan babak belur jika bermain tandang, apalagi kalau bukan soal mental bertanding. Asian Games persiapan cukup matang hingga lolos dari babak penyisihan grup. Namun hal berbeda jika bermain di Piala AFF, mengapa tidak memanggil pemain pemain senior sarat pengalaman seperti Boaz Solossa, Victor Igbonevo, Greg Nwokolo, dua pemain yang bermain di Thailand Ryuji Utomo dan Yanto Basna, minimal ke dua pemain tersebut sudah mengetahui beberapa pemain Thailand.

Indonesia seharusnya juara Piala AFF tahun 2010 ketika melawan Malaysia di Final, bahkan di babak penyisihan grup mereka dibantai Indonesia 5-1, saya yang saat itu sudah di Jakarta termasuk orang yang meyakini Indonesia bakal juara. Entah dosa apa yang membuat Indonesia kembali gagal di final.

Setelah 2010, semua tim Asia Tenggara grafiknya naik, Filipina yang untuk pertama kali lolos semifinal di tahun tersebut konsisten masuk semifinal di Piala AFF sampai 2016 lalu. Thailand apalagi, bahkan untuk Piala AFF saat ini yang tidak diperkuat bintang-bintangnya seperti Teerasil Dangda, Chanatip Songkrasin, Theeraton Bunmatan dan kiper Kawin Thamsatchanan mereka tetap kuat dan kompak.

Tapi nasi sudah jadi bubur, kini Indonesia dipastikan tidak lolos semifinal Piala AFF setelah Thailand dan Filipina bermain imbang 1-1. Pertandingan terakhir melawan Filipina tidak lebih dari sekedar menuntaskan kewajiban saja. Karena mungkin saja dengan kegagalan ini semangat para pemain sudah tidak ada dan ingin segera melupakan momen buruk ini. Jadi apa langkah PSSI setelah kegagalan ini, apakah targetnya sekarang yang penting tidak kalah dari Timor Leste?




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.