Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bola  
Sepakbola
indonesiana-tempoid-default
Ahmad Syaiful Bahri 
Kamis 06 Desember 2018 13:51 WIB
Dibaca (1338)
Komentar (0)

Edy Rahmayadi Ogah Mundur, Kapan Sepakbola Indonesia Maju?

indonesiana-edy_rahmayadi.jpg

Babak baru kisruh di di tubuh organisasi sepak bola Indonesia ketika Edy Rahmayadi ogah mundur dari dari jabatan ketua umum PSSI. Padahal saat ini, ia merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara. Aneh bukan. Di saat sepak bola nasional yang tak kunjung berprestasi, sang ketua malah tetap memaksakan dirinya menjabat kursi nomor satu di tubuh PSSI.

Kisruh di tubuh PSSI terus saja berulang. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau sering kita singkat PSSI seakan tak pernah habis energi untuk terus berseteru. Mulai dari kasus liga tandingan, klub kloningan, pengaturan skor, jadwal yang tak pernah beres, liga yang sering tertunda, hingga kerusuhan hingga berujung kematian suporter.

Bagaimanapun juga, sehebat apapun seseorang tak akan mampu mengemban amanah dengan baik jika memaksakan menjabat dua jabatan yang memerlukan konsentrasi tinggi serta mengurusi hajat hidup orang banyak. Di Sumatera Utara ia mengurusi seluruh rakyat di Provinsi tersebut, di sisi yang lain, ia juga harus mengurusi seluruh hajat hidup orang banyak di sepak bola, mulai dari suporter, wasit, pemain hingga klub itu sendiri.

Permasalahan yang tak kunjung usai ini karena ketidakmauan ketua umum PSSI mundur dari kursi pimpinan. Seperti Ketua PSSI yang terdahulu, Nurdin Halid juga tidak mau mundur, padahal ia sudah menjadi tersangka di kasus yang lain.

Gelombang protes bertubi-tubi oleh suporter dan penggemar sepak bola baik di media sosial maupun demo secara langsung tak mampu membuat Edy Rahmayadi sang ketua umum PSSI mundur.

Lalu, apa langkah-langkah strategis dalam memajukan sepak bola Indonesia di tengah derasnya desakan agar Edy Rahmayadi selaku ketua umum PSSI bersedia mundur.

Langkah pertama adalah mendorong persepak bolaan yang bersih, mulai dari bawah yaitu pengurus cabang (pengcab) PSSI di Kabupaten, Pengurus Provinsi (pengprov) PSSI di Provinsi. Tidak muluk-muluk sebenarnya, mulai dari tidak memalsukan dokumen seperti tidak adanya pencurian umur ketika ada pertandingan sepak bola usia dini, penjadwalan pertandingan sepak bola yang memenuhi unsur fair play, jika dua hal tersebut saja dilaksanakan dengan baik, dampaknya akan baik terhadap perkembangan sepak bola Indonesia ke depan.

Langkah ke dua adalah memperbanyak kompetisi usia dini. Semua meyakini jika kompetisi usia dini berjalan baik, akan berimbas baik pula bagi klub maupun tim nasional. Sayangnya tidak banyak klub-klub di Indonesia yang memiliki akademi usia dini, klub-klub Liga 1 rata-rata sudah ada.

PSSI sendiri sudah menyelenggarakan liga U-16 untuk pertama kali, sebelumnya kita hanya mendenar melalui kompetisi usia dini lewat Liga Kompas Gramedia. Selain Liga U-16, PSSI juga menyelenggarakan Liga U-19 yang baru berusia dua tahun, Persipura menjadi juara tahun lalu dan Persib menjadi juara tahun ini.

Kita apresiasi langkah PSSI mengadakan Liga usia muda ini, tinggal di tingkat pengcab dan pengprov yang harus menyelenggarakan ini juga.

Langkah ke tiga adalah klub-klub Indonesia harus segera menjadikan dirinya profesional dalam mengelola klub. Termasuk dalam urusan sumber daya keuangan, transparansi dan akuntabilitas klub juga harus menjadi perhatian di sini. Klub yang sehat akan berdampak pada prestasi yang sehat pula.

Gandeng BPK untuk mengaudit keuangan klub agar sehat, Pemerintah harus mempermudah perizinan klub yang ingin menjadi badan swasta yang berbadan hukum.

Langkah ke empat adalah federasi sepak bola Indonesia atau PSSI harus serius menata jadwal dengan sebaik-baiknya, jangan sampai berbenturan dengan jadwal FIFA, AFC atau AFF. Negara-negara seperti Malaysia dan Filipina saja sudah menyesuaikan hal tersebut.

Langkah ke lima adalah infrastruktur yang terus dikembangkan. Masalah sepak bola Indonesia salah satunya klub-klub Indonesia masih menyewa stadionnya. Banyak sekali klub di Indonesia yang masih pinjam stadion, sedih jika membayangkan kondisi seperti ini. Sedangkan di Thailand saja, klub di sana sudah memiliki stadion mini untuk berlatih sendiri yang terpisah dengan stadion tempat pertandingan.

Langkah ke enam ini adalah sebenarnya harapan, ketika timnas AFF 2018 gagal total dan tidak lolos ke semifinal, berharap PSSI mengandeng pelatih tim nasional dari Jepang atau Korea Selatan. Mengapa tidak mencoba pelatih dari negeri ginseng dan matahari tersebut, kedisiplinan dan keuletan tidak kalah dengan pelatih dari Eropa. Vietnam contohnya, pelatih timnas mereka Park Hang-Seo mengantarkan Vietnam U-22 ke Final Piala Asia awal tahun 2018.

Seharusnya, Edy Rahmayadi sebagai ketua PSSI harus berjiwa besar dan bersungguh-sungguh memajukan sepak bola Indonesia.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.