Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 22 Desember 2018 16:04 WIB
Dibaca (289)
Komentar (0)

Langkah Canggung Partai Solidaritas

indonesiana-grace_natalia_dan_tsamara.jpg

 

Sebagai partai baru, memang wajar bila Partai Solidaritas Indonesia berusaha menarik perhatian masyarakat. Banyak warga masyarakat yang mungkin belum mengenal dekat, bahkan kenal nama sekalipun, partai ini, terutama bila dibandingkan dengan partai-partai yang sudah lama bermain di panggung politik, seperti PDI-P, Demokrat, Golkar, PAN, ataupun PPP dan PKB.

Cara yang ditempuh pengurus pusat partai ini ialah dengan melemparkan isu-isu yang diperkirakan ‘layak publikasi’, yang selanjutnya dapat menarik perhatian masyarakat. Upaya ini relatif berhasil untuk sesaat, misalnya ketika Tsamara Amany, salah seorang pengurus pusat Partai Solidaritas, mengritik komitmen partai-partai lama terhadap pemberantasan korupsi yang jauh dari terealisasi. Ia juga mengritik proses rekrutmen partai lama yang tidak jauh dari kata ‘mahar politik’.

Perhatian masyarakat memang sempat tercuri, terutama ketika beberapa partai merespon kritik itu. Yang ikut tersengat oleh kritik ini ialah pengurus partai yang bersama-sama Partai Solidaritas juga mendukung Jokowi untuk Pilpres 2019. Romahurmuziy, Ketua Umum PPP, menganggap kritik itu sebagai pernyataan biasa dari partai yang belum pernah duduk di DPR. “Ilmu partai yang belum duduk di DPR selalu begitu,” kata Romi seperti dikutip media, “nanti kalau sudah duduk, jangan-jangan lebih parah.”

Kritik dan respon partai koalisi itu kemudian tidak berkembang menjadi diskusi yang positif, melainkan mereda. Barangkali, karena pengurus Partai Solidaritas merasa kikuk dengan situasi seperti ini: melempar kritik, tapi lemparannya terkenan kawan seiring. Apa lagi ketika itu Romi mengingatkan bahwa sebagai sesama partai politik, terlebih satu koalisi, Partai Solidaritas seharusnya menjunjung tinggi sopan santun.

Upaya menarik perhatian sesaat masyarakat juga kembali berhasil ketika Partai Solidaritas melontarkan penentangan terhadap Perda berbasis syariah maupun poligami. Lebih dari sekedar menarik perhatian, Partai Solidaritas mungkin tengah menguji reaksi masyarakat terhadap ide-ide yang berkembang di internal pengurus pusat. Katakanlah, menguji air tenang, jika dilempar batu bagaimana riak gelombangnya. Dari uji reaksi ini, pengurus mungkin berharap dapat menyusun strategi bagaimana ide-ide mereka dapat dikomunikasikan dan direalisasikan kelak.

Mungkin saja para pendiri dan pengurus Partai Solidaritas punya berbagai gagasan mengenai negeri dan bangsa ini, dan gagasan itu dimunculkan satu per satu. Ketika partai ini diproklamasikan berdirinya, banyak orang berharap bahwa partai ini dapat membawa angin segar di tengah dunia perpolitikan yang dihuni oleh partai-partai lama. Sayangnya, gagasan-gagasan itu tidak dimunculkan sedari awal melalui sikap independen penuh terhadap partai-partai lama.

Dengan bersikap independen sepenuhnya, Partai Solidaritas sebenarnya berpeluang untuk terlihat menonjol di antara kerumunan partai dengan wajah dan ide yang (mungkin) segar. Sayangnya, pengurus partai ini kemudian memilih untuk bergabung bersama barisan partai-partai pendukung capres Jokowi. Padahal, peluang untuk lebih menarik perhatian masyarakat akan lebih besar apabila partai ini memilih untuk tidak mendukung kedua calon presiden yang bertarung dalam kontestasi Pilpres 2019.

Namun, pengurus partai agaknya punya kalkulasi sendiri. Mereka mungkin menginginkan jalan yang lebih aman sebagai pendatang baru. Dengan bergabung bersama barisan pendukung capres petahana, Partai Solidaritas barangkali merasa ada patron yang membuat mereka merasa lebih aman dibandingkan bila bersikap independen penuh dari kedua kubu yang bersaing. Mereka mungkin juga ingin mendapatkan keuntungan dari efek ‘ekor jas Presiden’, agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat melalui kritik dan respon yang aktif, dan yang terpenting memperoleh tiket masuk ke Senayan. Dibandingkan partai-partai pendukung Jokowi, partai anak-anak muda ini terbilang paling lantang menyerang kubu Prabowo dan membela capres petahana sehingga relatif sering muncul di media.

Sayangnya, jika pembentukan Partai Solidaritas memang dimaksudkan untuk menawarkan antitesis terhadap tradisi usang dan berbahaya (istilah yang dipakai Tsamara) dari partai-partai lama, tawaran itu boleh jadi akan redup sebelum cahayanya terang. Mengapa? Karena pilihan-pilihan politik yang dibuat sejauh ini telah menjadikan langkah Partai Solidaritas terlihat kikuk, canggung, dan akhirnya tanggung untuk mengubah keadaan yang mereka kritik. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.