Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Handoko
Handoko  Widagdo
Jumat 04 Januari 2019 09:38 WIB
Dibaca (122)
Komentar (0)

Panduan Pengembangan Program Pembangunan Skala Kecil

indonesiana-Dua_Tongkol_Jagung.jpg

Judul: Dua Tongkol Jagung

Judul Asli: Two Ears of Corn

Penulis: Roland Bunch

Penterjemah: Ilya Moeliono

Tahun Terbit: 1991

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tebal: xx + 309

ISBN:  979-461-101-8

Buku ini adalah buku lama. Terbit tahun 1991. Topik yang dibahas adalah program di bidang pertanian. Namun bagi saya, buku ini tetap relevan untuk dibaca saat ini. Sebab gagasan-gagasan tentang bagaimana pembangunan harus dijalankan (oleh donor) masih cocok untuk saat ini. Meski bahasannya adalah bidang pertanian, namun anjuran-anjuran Roland Bunch yang disampaikan dalam buku ini cocok untuk diterapkan di bidang lain, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lain-lain. Saya akan membahasnya secara paralel antara program pertanian dan pendidikan.

Roland Bunch adalah seorang konsultan pembangunan yang bergabung dengan LSM Amerika Serikat bernama World Neigbors. Ia banyak menghabiskan kariernya di program pertanian di Amerika Latin. Roland Bunch mengembangkan model pembangunan pertanian berpusat pada rakyat. Ia memulai program dalam skala kecil, fokus kepada teknologi yang mudah diadopsi oleh petani, menunjukkan bukti dalam waktu singkat dan baru kemudian secara perlahan menyerahkan administrasi dan penyebarluasan kepada petani-petani dampingan. Buku ini juga membahas tentang “Bapakisme” atau paternalisme dalam pembangunan.

Sebuah program pertanian harus mulai dari skala kecil dan menggunakan teknologi yang terbatas yang memungkinkan kebanyakan petani mengadopsinya. Pada tahap ini pemilihan teknologi harus benar-benar diperhitungkan yang dalam waktu singkat bisa diadopsi oleh kebanyakan petani. Teknologi yang terlalu rumit mungkin berhasil dilakukan di kebun percontohan (demplot); tetapi akan sulit diadopsi oleh petani kebanyakan. Apalagi jika untuk menerapkan teknologi tersebut memerlukan input dan modal yang besar. Penambahan input atau modal dalam adposi teknologi belum tentu bisa dilakukan oleh petani miskin yang modalnya pas-pasan. Anjuran ini juga berlaku untuk sektor lain. Misalnya sektor pendidikan dan kesehatan. Teknologi atau intervensi yang membutuhkan perubahan kebijakan -di luar control guru atau kepala sekolah, biasanya berhasil saat proyek dijalankan. Tetapi akan segera ditinggalkan setelah proyek selesai. Hal ini disebabkan untuk menerapkan teknologi atau intervensi proyek dibutuhkan perubahan kebijakan-kebijakan dimana saat proyek berlangsung hal tersebut belum dilaksanakan. Atau biaya tambahan yang diperlukan untuk melakukan praktik baru tidak tersedia. Akibatnya perubahan yang diharapkan tidak bisa terlaksana. Guru dan kepala sekolah tidak mempunyai cukup wewenang untuk melanjutkan perubahan yang sudah terjadi saat proyek masih berjalan. Atau guru dan kepala sekolah tidak memiliki cukup anggaran untuk menerapkan perubahan yang diinisiasi oleh proyek, sebab perubahan tersebut berbiaya mahal.

Program hendaknya segera memberikan bukti keberhasilan. Dalam dunia pertanian, jika program bisa mengubah produksi atau mengurangi biaya produksi secara signifikan dan bisa dicapai dalam waktu satu siklus musim tanam, atau satu siklus produksi (untuk tanaman tahunan), proyek tersebut akan segera diadopsi oleh petani. Keberhasilan yang nyata dalam waktu singkat, tanpa memerlukan asupan dari luar yang lebih tinggi membuat petani yakin untuk mengadopsinya. Faktor risiko benar-benar menjadi pertimbangan bagi petani miskin untuk menambah investasi jika hasilnya tidak segera bisa dinikmati. Demikian pula di sektor pendidikan dan kesehatan atau sektor lainnya. Sebagai contoh perubahan cara mengajar. Jika introduksi perubahan cara mengajar menyebabkan siswa lebih perhatian dalam belajar atau bahkan hasil belajar siswa meningkat tanpa memerlukan biaya dan atau upaya yang terlalu berat bagi guru, maka cara tersebut akan segera dilakukan oleh kebanyakan guru yang ikut serta dalam program. Namun sayang sekali kebanyakan program pendidikan mengintroduksi perubahan yang membuat guru lebih sibuk dengan administrasinya daripada mempermudah mereka mengajar siswa. Perubahan yang rumit membuat guru tidak tertarik untuk menerapkannya.

Tentang penyebaran ke wilayah yang lebih luas, Roland Bunch menganjurkan supaya upaya ini tidak dilakukan sendiri oleh pengelola proyek. Proyek harus secara cermat menyiapkan institusi yang seharusnya bertanggung jawab untuk mengemban tugas penyebaran. Proyek harus memberikan pemberdayaan kepada institusi supaya upaya-upaya adopsi yang lebih luas bisa terlaksana. Secara perlahan dan terus-menerus proyek harus mendampingi institusi supaya pada akhirnya institusi yang bertanggung jawab bisa sepenuhnya mengambil alih perluasan manfaat program. Di sektor pendidikan, penyesuaian praktik dan kebijakan dari level paling rendah harus didorong, sebelum mengubah kebijakan yang lebih tinggi. Perubahan kebijakan di level sekolah dan gugus seringkali lebih efektif untuk mendorong adopsi yang lebih luas daripada langsung melakukan perubahan di level Dinas, Kabupaten atau pusat.

Tentang “Bapakisme” Roland Bunch kecewa dengan banyaknya bantuan yang mangkrak. Traktor atau mesin-mesin pertanian, pembangkit listrik dan pompa air irigasi menjadi barang rongsokan begitu program selesai. Bantun fisik yang tidak memperhatikan kemampuan orang lokal untuk mengelolanya berakibat barang-barang tersebut tidak berfungsi, segera setelah proyek ditutup. Untuk menggunakan peralatan-peralatan tersebut dibutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan. Seringkali pada saat proyek berjalan - biasanya proyek berjangka waktu sangat singkat, tidak sempat mengalihkan kepada masyarakat dampingan pembiayaan operasional dan pemeliharaan peralatan yang didonasikan. Dalam dunia pendidikan, hibah gedung perpustakaan, buku-buku bacaan, a;at peraga dan komputer sering tidak lagi digunakan begitu proyek tutup. Hal ini disebabkan sekolah tidak memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan membiayai pemeliharaan alat-alat tersebut.

Jadi, jika anda adalah pekerja pembangunan, hendaklah anda memperhatikan saran-saran dari Roland Bunch. Mulailah proyek secara kecil-kecilan dengan teknologi yang sederhana. Proyek harus segera menghasilkan bukti atau hasil dalam waktu singkat. Proyek harus memasukkan disain perluasan sebagai bentuk institusionalisasi rancangan proyek kepada instansi yang bertanggung jawab. Anda harus menghilangkan sikap bapakisme dalam proyek, supaya keberlanjutan perubahan yang diharapkan bisa terjadi.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.