Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Lingkungan
indonesiana-tempoid-default
Elnado Legowo
Jumat 04 Januari 2019 23:17 WIB
Dibaca (457)
Komentar (0)

Berfoto Selfie Mengurangi Empati Sosial.

indonesiana-warga-berswafoto-di-lokasi-terdampak-bencana-di-banten.jpg

Semenjak jaman sudah memasuki era digital, orang-orang menjadi lebih banyak meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan digital. Seperti contohnya browsing, online, daring, dll. Salah satu aktivitas yang paling populer adalah foto selfie atau swafoto.

Selfie atau swafoto adalah jenis potret diri sendiri yang menggunakan kamera digital atau kamera handphone. Aktivitas ini biasanya dilakukan untuk mengabadikan momen atau hanya sekedar narsis, sehingga swafoto atau berfoto selfie seringkali dijuluki sebagai foto narsis. Aktivitas ini juga seringkali dikaitkan dengan narsisisme.

Sebetulnya tidak ada yang salah dari berfoto selfie, apabila itu dilakukan dengan benar. Contohnya seperti tidak menantang maut agar terhindar dari kecelakaan dan tidak berada di lokasi bencana agar tidak memberikan kesan negatif.

Pada 22 Desember 2018 lalu, Banten dan Lampung dihantam oleh tsunami yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau di Selat Sunda. Peristiwa ini mengakibatkan 426 orang tewas, 7.202 terluka dan 23 orang hilang. Selain itu sekitar 400 rumah di Pandeglang yang terletak di dekat pantai roboh atau rusak berat. Lalu, 9 hotel di Pandeglang dan 30 rumah di Lampung Selatan juga rusak berat. Jalan raya yang menghubungkan Serang dan Pandeglang terputus. Dari peristiwa itu, banyak orang-orang datang ke lokasi bencana untuk membantu evakuasi korban bencana, memberikan sumbangan berupa makanan atau jasa layanan medis, tetapi ada juga yang sekedar berfoto selfie.

Belakangan ini kita dikejutkan oleh sebuah artikel Inggris, The Guardian dengan judul: "Destruction gets more Likes: Indonesia's selfie-seekers". Artikel ini mengungkapkan bahwa banyaknya orang Indonesia yang datang ke lokasi tsunami di Banten hanya sekedar berfoto selfie untuk dibagikan ke media sosial. 

Disana juga dijelaskan ada seorang perempuan yang rela datang dari Cilegon ke lokasi tsunami, hanya untuk memperlihatkan ke media sosial bahwa dia bersama temannya sedang berada di lokasi bencana. Selain itu, juga ada seorang perempuan muda yang rela mengorbankan liburannya di Jawa Tengah untuk datang ke lokasi bencana, hanya untuk sekedar melihat kerusakan dan orang-orang yang terkena tsunami, serta tidak lupa membagikan fotonya ke media sosial. Alasan mereka adalah ingin memperlihatkan ke media sosial bahwa mereka membantu korban bencana, berbagai kesedihan kepada korban, dan untuk mengingatkan orang lain untuk bersyukur dengan keadaan mereka yang tidak terkena bencana.

Meskipun tujuan mereka hanya mendokumentasikan kegiatan mereka, tetapi dengan berfoto selfie di latar tempat bencana malah memberikan kesan negatif. Seolah-olah mereka memanfaatkan momen tersebut untuk ajang kompetisi mencari like, followers, dan viewers di media sosial.

Apalagi foto yang diambil oleh jurnalis The Guardian, Jamie Fullerton, orang-orang yang ber-selfie tidak menunjukkan kesedihan atau empati mereka. Mereka malah terlihat tersenyum bahagia dan ada juga yang mengancungkan jari berbentuk huruf v, seolah-olah mereka sedang berada di tempat hiburan.

Selain itu, Jamie Fullerton juga melihat seorang perempuan bergaya pakaian tentara menghabiskan waktu setengah jam mengarungi tengah lapangan yang banjir agar bisa berfoto selfie. Perempuan itu berfoto dengan mobil SUV yang rusak.

Akibatnya mereka dianggap tidak berempatik terhadap korban bencana. Bahkan salah satu korban yang bernama Bahrudin (ketua petani lokal dan pemilik mobil SUV yang rusak) mengaku kecewa ketika mengetahui desanya menjadi ajang foto selfie. Kejadian ini menunjukkan bahwa sensitivitas sosial di Indonesia masih rendah.

Sensitivitas sosial adalah kemampuan untuk berempati terhadap kondisi, pikiran, dan perasaan orang lain. Contoh sederhananya adalah memposting deep condolences, doa, RIP, pray for..., dan sejenisnya di media sosial, untuk menunjukkan kepedulian dan empati terhadap orang lain. Tetapi bila yang dipasang adalah foto selfie dengan ekspresi bahagia di latar tempat bencana, maka yang terlihat adalah ketidakpedulian terhadap suasana duka yang terjadi.

Selain sensitivitas sosial yang rendah, kejadian ini juga menunjukkan lunturnya budaya kolektif yaitu sebuah kesolidaritas atau budaya kebersamaan seperti gotong royong dan kerja bakti. Apabila ada bencana, maka budaya kolektif akan diwujudkan dalam bentuk menjadi sukarelawan untuk bergotong royong membantu korban bencana. 

Menurut Psikolog Kebencanaan, Listyo Yuwanto, penyebab lunturnya budaya kolektif adalah gaya hidup masyarakat yang berkompetisi dalam berbagai area kehidupan, sehingga masyarakat sudah tidak lagi hidup dalam kebersamaan. Dimana mereka semua terlalu sibuk dengan media sosialnya ketimbang berinteraksi kepada orang lain yang sedang susah.

Dari kasus ini sangat jelas bahwa pemerintah harus lebih serius untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Edukasi yang dimaksud adalah edukasi dalam berempati terhadap lingkungan sekitar. Sebab, selama ini kita hanya diajarkan ilmu pengetahuan dan religi, tetapi kurang diajarkan caranya berempati terhadap lingkungan sekitar. 

Edukasi dalam berempati adalah pelajaran bagaimana caranya kita bisa berempati terhadap lingkungan sekitar seperti kepada orang lain, binatang, tumbuhan, dan sebagainya. Caranya adalah dengan menempatkan diri kita di posisi mereka. Misalnya kita menempati posisi kita sebagai korban bencana, maka kita akan merasakan kedukaan dan ketakutan yang mereka rasakan. Dari situ maka akan muncul sensitivitas sosial dan diikuti oleh budaya kolektif.

Pelajaran ini menjadi sangat penting, terutama di jaman teknologi digital sekarang. Sebab, jaman sekarang kebanyakan orang lebih sibuk dengan gadgetnya sehingga kurang adanya kepekaan dan interaksi terhadap lingkungan sosial sekitarnya.

Selain itu juga, sebaiknya kita membutuhkan pengetahuan cara berswafoto dan berselfie yang baik dan benar. Karena bila dilakukan di waktu dan tempat yang salah maka akan memberikan kesan negatif. Selain itu juga ditakutkan memberi contoh kepada orang lain, terutama generasi muda untuk mengikuti aksi tersebut demi kompetisi media sosial.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.