Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 05 Januari 2019 22:16 WIB
Dibaca (1069)
Komentar (0)

Debat Capres: Ibarat Diberi Bocoran Sebelum Ujian

indonesiana-Debat_capres_2014_foto_tempo.jpg

 

Debat pasangan calon presiden-wakil presiden adalah ajang untuk menguji seperti apa imajinasi pasangan mengenai Indonesia ke depan. Visi dan misi mereka merupakan rumusan mengenai apa yang mereka angankan tentang Indonesia masa depan dan bagaimana mereka berusaha mewujudkannya. Pasangan capres-wapres yang baik semestinya sudah tahu benar apa yang ingin dan harus mereka lakukan untuk mewujudkan imajinasi yang sesuai dengan tujuan menyejahterakan rakyat.

Namun sungguh aneh bin ajaib bahwa  pertanyaan yang akan diajukan oleh anggota panel, yang terdiri atas 6 orang, akan diberikan lebih dahulu kepada kedua pasangan capres satu pekan menjelang acara debat berlangsung. Ini memberi contoh yang kurang baik tentang bagaimana debat capres-wapres di tingkat nasional harus diselenggarakan. Padahal, sudah pasti acara diikuti oleh para wakil diplomatik negara lain melalui kantor-kantor mereka di Jakarta—apakah mereka tidak akan tersenyum geli?

Ini juga contoh yang kurang baik bagi anak sekolah: ibaratnya, peserta ujian diberi bocoran materi oleh panitia sebelum ujian berlangsung. Semestinya, hanya tema debat saja yang perlu diberikan kepada kedua pasangan capres, tanpa perlu membocorkan materi pertanyaan yang disusun panel. Sekalipun menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak semua materi pertanyaan panel akan ditanyakan saat debat mengingat waktu yang terbatas, tetap saja itu bocoran namanya.

Tanpa adanya bocoran pertanyaan dari panel, akan terlihat siapa pasangan capres yang menguasai tema debat. Spontanitas jawaban pasangan akan memperlihatkan penguasaan dan kapabilitas pasangan capres mengenai isu yang diperdebatkan. Bila pertanyaan diajukan sebelum debat berlangsung, maknanya jawaban sudah dipersiapkan dan sangat boleh jadi tim sukses masing-masing yang akan merumuskan jawaban. Pasangan capres mungkin hanya menghapal dan mengulang jawaban yang sudah disiapkan oleh tim sukses masing-masing.

Apa yang dapat diharapkan dari debat dengan metode seperti itu? Otentisitas pikiran dari pasangan capres mengenai apa yang mereka bayangkan dan rencanakan tentang Indonesia akan merosot. Di acara debat itu, jawaban yang relatif otentik—saya sebut relatif, sebab para calon pasti sudah berlatih debat bersama tim sukses masing-masing—mestinya dapat muncul dan terlihat. Jadi, keputusan KPU untuk mengirim daftar pertanyaan debat kepada kedua pasangan capres itu sungguh aneh.

Dalam hal tertentu, detail mungkin diperlukan dalam debat tapi tetap bukan yang utama bila dibandingkan dengan penguasaan visi mengenai hendak dibawa kemana negeri ini? Apa yang hendak mereka kerjakan bila terpilih? Mau diajak berjalan ke arah mana bangsa ini bila mereka diberi amanah untuk memimpin? Otentisitas gagasan, keberanian dan ketegasan, kapabilitas, penguasaan masalah akan terlihat dalam debat yang spontan, bukan debat dengan jawaban yang sudah dipersiapkan oleh pasangan calon presiden bersama tim sukses masing-masing. Bayangkan, ini debat untuk pemilihan presiden lho! Bayangkan pula, andaikan kemudian kedua pasangan boleh membuka bekal kertas jawaban yang sudah disiapkan oleh tim sukses mereka. ** (Foto: Debat capres dalam Pilpres 2014/tempo.co)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.