Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Yoyo Tuna 
Selasa 08 Januari 2019 13:54 WIB
Dibaca (172)
Komentar (0)

Menunggu Kolaborasi SBY dengan Prabowo

indonesiana-2018_07_30_50084_1532935934._large_.jpg

Masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebentar lagi akan berakhir. Tepat ditanggal 20 Oktober tahun ini Indonesia memiliki Presiden baru melalui pesta demokrasi lima tahunan pada 17 April mendatang.

Pasangan calon Presiden dan cawapresnya hanya dua pasang. Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno, Joko Widodo berpasangan dengan Ma’aruf Amin.

Jika pasangan Prabowo Subianto menang, maka status sebagai Presiden Republik Indonesia ke 7 pun akan disandang Jokowi dalam sejarah tanah air.

Baiknya kita sedikit mengulik kisah saat Jokowi menjabat sebagai Presiden RI. Banyak yang dirasakan masyarakat sebagai kemudaratan. Jauh dari kesan bahagia dalam menjalankan sistem negara demokrasi yang berasaskan ideologi negara, yaitu Pancasila.  

Terlebih dengan terpecahnya suara umat Islam. Banyak sahabat menjadi musuh. Saudara kandung pun jadi musuh, karena membela kubu penguasa. Hal ini sudah terasa sejak pemilu 2014 lalu. Dimana, pasangan capres dan cawapres juga hanya dua pasang yaitu, Prabowo dengan Hatta Rajasa, dan Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Pertikaian ini terus berlanjut hingga sekarang. Pastinya sejak dipimpin Jokowi. Negara terasa aneh. Undang-undang pun sering di tabrak. Sehingga hal-hal aneh yang tak biasa dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya dilakukan di pemerintahan yang era katanya ‘Sontoloyo’ bagi kubu rival.

Beliau merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Presiden Jokowi dianggap sebagai boneka sang Ketua Umum Megawati Soekarno Putri dalam menjalankan roda organisasi pemerintahan sejak dilantik 2014 silam.

Tak heran banyak ulama maupun tokoh agama Islam menyindir kebijakan pemerintah. Lewat kotbah-kotbah kenegaraan maupun kotbah jumat pemerintahan ini juga dianggap pro Komunis. Pemerintahannya pun sering mengkriminalisasikan ulama. Salah satunya dalam bentuk persekusi yang dianggap radikal.

Terlebih jelang pemilihan Umum Presiden tahun ini. Berbagai intrik dan gimik pemerintahan begitu ketara. Muda dibaca oleh masyarakat. Fitnah dan berita bohong dimana-mana. Lalu isu tersebut digoreng para pendukungnya agar isu tetap sebagai menyerang lawan politik.

Saling mencaci dan mencari kesalahan kubu rivalitasnya begitu tampak.Hal ini semata-mata guna meraih elektabilitas masyarakat.

Perasaan ini sangat berbeda dikala Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia. Tak ada konflik. Berita bohong pun tak terdengar. Tak ada caci maki. Semua tampak harmoni. Saling menghormati sesama agama beda suku dan golongan lainya.

Jika waktu bisa kembali diputar. Penulis ingin sekali memilih Pak SBY sebagai Presiden. Jikapun tidak bisa, anak sulungnya (AHY) bisa mewakili perasaan penulis membawa perubahan. Biar tak sama, yang penting program serta visi dan misi era SBY lebih baik dibanding Jokowi.

Apapun yang telah dilakukan SBY selama sepuluh tahun kepemimpinannya, Jokowi hanya melanjutkan program tersebut. Semua diadopsi dari pemikiran mantan Jenderal empat tersebut. Contek dari Jusuf Kala yang pernah mendampingi SBY selama satu periode sebelum Budiono.

Bagaimana pun pemikiran SBY lebih mengena ke hati masyarakat. Sedangkan pemerintahan sekarang pemikirannya bukan dari Presiden, melainkan orang sekitarnya yang haus dengan kekuasaan.

Tulisan ini hanya segelintir perasaan masyarakat yang ingin ada perubahan di Indonesia. Ganti Presiden dengan Presiden Baru, Prabowo Subianto. Dan Partai nya Demokrat. Semoga dengan kolaborasi antara Prabowo dan SBY bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.