Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Rabu 09 Januari 2019 14:39 WIB
Dibaca (534)
Komentar (0)

Pileg 2019: Seleksi Alam Partai Politik

indonesiana-PSI.jpg

 

Dari hasil Pileg 2014, ada dua partai politik peserta yang tidak berhasil mendudukkan wakilnya di kursi DPR Pusat, yaitu Partai Bulan Bintang dan PKPI. Kedua partai tidak berhasil memenuhi ambang batas Parlemen karena perolehan suara kedua partai kurang dari 3,50%. Meski begitu, pengurus partai tetap berusaha untuk bisa mengikuti Pileg 2019. Persyaratan dasar berhasil dipenuhi, sehingga KPU memutuskan kedua partai ini boleh ikut serta dalam Pileg tahun ini.

Di samping dua partai lama tadi, ada tiga partai baru yang mengadu untung untuk dapat menarik suara rakyat sehingga bisa lolos ke Gedung DPR di Senayan. Dua partai, Perindo dan Partai Solidaritas Indonesia, memilih untuk bergabung dalam rombongan pendukung capres petahana. Dua partai lainnya, Partai Garuda dan Partai Berkarya, memilih untuk bergabung dengan kubu capres penantang.

Apakah di antara kedua barisan partai tadi, lama dan pendatang baru, ada yang akan berhasil mewujudkan impian mereka untuk menempatkan wakil partai di DPR Pusat? Jika dilihat dari segi popularitas, Partai Solidaritas barangkali yang paling teratas. Pernyataan dan aksi pengurusnya yang mengundang kontroversi ikut mendongkrak ketenaran partai ini. Bahkan, ketika partai ini baru dideklarasikan, banyak pihak berharap para aktivisnya akan menyuarakan semangat baru dan gagasan baru. Sayangnya, ternyata partai ini memilih untuk bergabung dalam barisan pendukung capres petahana ketimbang beraksi sebagai partai baru yang independen dengan gagasan yang mendobrak.

Bagi pemilih perkotaan, barangkali Partai Solidaritas dianggap cukup menarik. Namun apakah popularitas berkat pemberitaan media akan memampukan caleg-caleg dari partai ini meraih kursi DPR Pusat? Entahlah, yang jelas tidak mudah mengingat persaingan antarpartai yang sangat ketat—bahkan di antara partai-partai satu koalisi pun saling bersaing untuk memperebutkan kursi DPR Pusat.

PBB barangkali masih mengandalkan pemilih tradisionalnya, tapi pilihan politik yang dilakukan Ketua Umumnya, Yusril Ihza Mahendra, boleh jadi memengaruhi pula keputusan pemilih untuk tetap memilih wakil PBB atau berpaling ke partai lain. PBB sendiri juga bersaing memperebutkan pemilih tradisional dengan dua partai berbasis Islam lainnya, PPP dan PKB—yang mengandalkan kekuatan massa NU dan sangat mungkin meraih kursi banyak mengingat tautannya dengan cawapres Ma’ruf Amin yang berlatar belakang NU.

Memang tidak mudah bagi partai baru maupun partai lama yang belum punya wakil di DPR Pusat untuk meraih kursi dalam Pileg 2019 ini. Bahkan partai-partai lama yang sudah duduk di DPR berkat Pileg 2014 juga menghadapi situasi yang tidak mudah dan mungkin saja tidak mampu bertahan. Terlebih lagi, Pileg kali ini tampaknya ‘bergantung’ kepada Pilpres walaupun pelaksanaannya bersamaan. Tak lain karena kemeriahan Pilpres telah menenggelamkan Pileg.

Bila situasi sukar itu ternyata menggagalkan keinginan partai politik untuk menempatkan wakilnya di DPR Pusat, maka Pileg 2019 sesungguhnya merupakan proses seleksi alam terhadap keberadaan partai politik di Indonesia. Peserta Pileg 2014 sesungguhnya sudah jauh berkurang dibandingkan Pileg 2009, dari 38 partai menjadi 12 partai. Namun peserta Pileg 2019 meningkat lagi dengan ikut sertanya empat partai baru. Meski begitu, penyederhanaan partai akan terjadi kembali dengan rakyat pemilih sebagai penentunya, bukan direkayasa seperti pada masa Orde Baru. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.