Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-Erri
Erri Subakti
Kamis 10 Januari 2019 13:35 WIB
Dibaca (768)
Komentar (0)

Analisis Ngawur Hersubeno Arief atas Infrastruktur Indonesia

indonesiana-49656279_1135720203254748_4894262748738748416_n.jpg

Dalam artikel yang ditulis di blog-nya, Hersubeno Arief, mantan wartawan Republika ini menulis berdasarkan fakta yang salah kaprah terhadap penilaian Bank Dunia atas pembangunan infrastruktur Indonesia.

Jika dilihat dari sumbernya, dokumen ini memang baru dibuka ke publik pada Bulan Juni 2018 yang lalu, namun jika dilihat dari halaman 15 bagian “...the forthcoming inauguration of President-Elect Jokowi...”, maka bisa dikatakan bahwa dokumen ini dibuat pada mid-2014 dimana Jokowi sudah keluar sebagai pemenang Pilpres 2014 namun belum dilantik secara resmi. Ini pun hanya untuk konsumsi internal World Bank, yang baru dirilis ke publik Juni 2018 lalu.

Dalam dokumen lama tersebut menjelaskan bagaimana infrastruktur Indonesia pada era SBY awut-awutan. Bisa dilihat nomenklatur yang tertera pada dokumen tersebut yaitu pra oktober 2014.

Karena itu Bank Dunia langsung menanggapi atas apa yang tertera pada dokumen tersebut.

Statement January 1, 2019

We became aware that in recent days an outdated internal World Bank report examining Indonesia’s Infrastructure Planning & Budgeting Processes has been the subject of discussion in social and other media in the country.  We would like to clarify that this report was (a) completed in 2014 before President Joko Widodo took office, (b) aimed at describing the state of infrastructure planning and budgeting processes at that time, and (c) intended for internal World Bank use only and uploaded by clerical mistake in one of our websites in June 2018.

Accordingly, the report is obsolete as it does not cover substantial reforms made since its completion almost five years ago – including several important new regulations.

There is a substantial volume of up-to-date analysis on the subject reflecting the substantial progress made over the last few years in infrastructure development and identifying opportunities for continued improvement.  This analysis includes joint work by Indonesia’s key ministries and agencies and the World Bank.

Infrastructure development is a crucial element for Indonesia progress and, as such, it deserves to be at the center of the public policy dialogue in the country. It is essential, therefore, that the conversation on the subject is based on current analysis and evidence. (Sumber di sini: http://www.worldbank.org/en/news/statement/2019/01/01/world-bank-statement)

Senior Communications Officer dari Bank Dunia di Jakarta, Lestari Boediono, menjelaskan bahwa laporan tersebut adalah dokumen internal Bank Dunia. "Ada kesalahan administrasi di pihak kami saat meng-upload dokumen tersebut di situs kami pada Juni 2018," kata Lestari Boediono. Seprti dikutip oleh Tempo di sini.

Laporan itu sebenarnya selesai ditulis pada tahun 2014, sebelum Presiden Joko Widodo alias Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2014. Laporan itu bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan perencanaan dan pembiayaan infrastruktur di tahun tersebut. Tapi, kini laporan itu sudah tak berlaku lagi. "Laporan ini sudah outdated (kedaluwarsa) dan obselete (usang)."

Pihak Bank Dunia juga menjelaskan bahwa laporan ini tak bisa digunakan lagi karena tidak mencakup reformasi yang substansial yang telah dikerjakan pemerintah sejak laporan ini selesai ditulis. Termasuk, beberapa regulasi baru yang diterbitkan pemerintah, juga belum dimasukkan dalam laporan ini.

Dari laporan klarifikasi Bank Dunia, juga disebutkan bahwa cukup banyak analisis terkini yang mencerminkan perkembangan yang substansial dalam pembangunan infrastruktur.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.