Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Daeng 
Kamis 10 Januari 2019 15:37 WIB
Dibaca (923)
Komentar (0)

Alergi Kaum Marginal

indonesiana-kesetiaan.jpg

Sejak kecil kita sering mendengar ungkapan yang disampaikan oleh orang tua zaman dahulu “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Mengapa bukan disebut negeri Eropa dan negeri lainnya? Ternyata negeri China adalah sebuah negara dengan peradaban pendidikan yang tinggi. Banyak ilmu pengetahuan kuno berkembang di negara ini sebagaimana dalam peribahasa China kuno menyebutkan “Pendidikan merupakan sebuah kotak emas yang akan menjadi sebuah kunci untuk membangun sebuah bangsa, menciptakan pemimpin dan melatih rakyatnya terampil”. China pun memiliki keunikan tersendiri dalam hal pendidikan. Negeri “Tirai Bambu” ini mampu bertahan karena memiliki sistem pendidikan yang mampu membangun suatu peradaban yang praktis sehingga peradaban itu tidak mudah hancur. Suatu pertanyaan besar buat kita masyarakat Indonesia, mengapa kita “alergi” dengan kata “China”. Apa yang menyebabkan kita turut melabelkan stigma tentang China kepada anak cucu kita? Sampai-sampai bocah yang kemaren sore baru diberikan kebebasan untuk berbicara pun ikut-ikutan memberikan label negatif terhadap etnis China padahal mereka tidak tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah karena kedekatan para tokoh etnis Tionghoa di era kepemimpinan pak Harto seakan-akan menjadi pembenaran kolektif untuk menghujat dan mendiskreditkan warga keturunan China?

 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Ungkapan ini seakan tidak pernah dari luput pendengaran kita agar selalu menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa Indonesia. Masih ingat kah kita dengan Lie Yun Fong? Di zaman perang Indonesia-Belanda, sebagai wartawan ia lah yang menangkal berita propaganda Belanda dan ia terus menulis tentang perlawanan bangsa Indonesia. Ada lagi Jhon Lie si Hantu Selat Malaka, ia berperan besar dalam menyeludupkan senjata untuk digunakan oleh para pejuang tanah air sehingga di era kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Jhon Lie ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Banyak lagi nama-nama keturunan Tionghoa yang berjasa besar untuk Indonesia. Mengapa sebegitu mudahnya anak bangsa melupakan para pahlawannya? Bukan kah kita masyarakat Indonesia yang beradab dan bermoral tinggi? Kemana jatidiri sebagai bangsa besar? Mengapa kita lebih tertarik untuk mendiskreditkan warga keturunan China yang menduduki jabatan tinggi di Indonesia. Begitu rendahnya mental bangsa kita hingga terbiasa mengkotak-kotakan etnis dan dianggap dosa ketika etnis keturunan China memperoleh prestasi yang besar.

 

Kita beranggapan bahwa masyarakat Indonesia yang berketurunan China merupakan ancaman terbesar bangsa ini. Begitu subjektifnya kita memberikan label negatif terhadap saudara kita hanya karena mereka berketurunan China. Ironisnya kita lebih tertarik mencari-cari kesalahan para tokoh seperti Marsekal Pertama TNI Suryo Margono salah satu petinggi TNI, Basuki Tjhahaja Purnama mantan Gubernur DKI Jakarta, Wakil Gubernur Kalbar dr. Daniel Tjen atau tokoh-tokoh lainnya dengan cara-cara kotor untuk menjatuhkan tokoh tersebut seraya berharap masyarakat lainnya pun akan ikut-ikutan memberikan stigma kepada tokoh tersebut. Jika kita mau jujur, orang yang ada di sekitar kita, baik di masyarakat kota sampai desa dari dahulu sampai sekarang akan ditemukan tetangga dari keturunan China yang sudah dari dulu semenjak kita kecil.

 

Mengapa kita tidak berfikir dewasa dan jujur pada diri sendiri bahwa siapa saja yang berkesempatan untuk menjadi orang besar. Bukankah sudah tercantum dalam UUD 1945 pasal 27 dinyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum, pemerintahan dan kewajiban untuk membela negara dari segala macam gangguan. Ini juga berarti bahwa siapa saja masyarakat Indonesia tanpa memandang etnis berhak untuk menjadi aparatur negara ataupun pejabat negara selama ia berkompeten di bidangnya.

 

Pada masa sekarang yang sedang viral adalah bapak Suryo Margono yang merupakan sosok perwira yang berprestasi, banyak karir cemerlang yang dijabatnya karena potensi dan kompetensi yang ditampilkan. Sebagai lulusan Akademi Angkatan Udara ia disiapkan untuk menjadi pimpinan di lingkungan TNI yang kesetiaan terhadap negara kesatuan Republik ini tidak pernah diragukan. Kenapa ada para pecundang-pecundang politik yang sibuk mencari kesalahan orang dan mengkaitkan dengan politik dan situasi sosial sekarang. Semoga menginspirasi..




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.