Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Xavier Quentin Pranata 
Jumat 11 Januari 2019 23:40 WIB
Dibaca (3313)
Komentar (0)

PDIP Kirim Bunga ke Posko Prabowo, Saat Curiga Jadi Panglima

indonesiana-PDIP_karangan_bunga.jpg

PDIP Kirim Bunga untuk Posko Prabowo, Saat Rasa Curiga Jadi Panglima

Saat PDIP mengirim karangan bunga untuk posko Prabowo di kota kelahiran Jokowi, dalam hati saya berkata, “Jika dilakukan dengan tulus hati, tindakan ini bisa mengundang simpati.” Ternyata respon pihak Prabowo berlawanan. "Enggak apa-apa, itu menunjukkan peradaban yang dia pertontonkan, supaya kita mati, iya kan?" ujar Djoko saat ditemui usai peresmian Posko BPN, Solo, Jumat (11/1/2019, detik.com).

Ada apa di balik pengiriman bunga ini? Ketua DPC PDIP Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan kiriman karangan bunga ialah sebagai wujud saling menghargai di dalam negara demokrasi. "Selamat kepada posko pemenangan nasional Prabowo-Sandi. Kita jalin hubungan yang baik dan kita wujudkan bahwa Solo tetap dalam kondisi yang kondusif, saling bisa menerima dan saling bisa menghargai," kata Rudy saat dihubungi wartawan, Jumat (11/1, detik.com).

Saling Menghargai atau Saling Curiga?

Perbedaan sudut pandang ini mengingatkan saya pada kisah seorang gadis yang sedang menunggu pesawatnya. Sambil duduk di ruang tunggu, dia mengeluarkan penganan kecil berupa kue kering. Di sebelahnya duduk seorang eksekutif muda. Setiap kali dia mengambil kue kecil itu, eksmud di sebelahnya ikut mengambil satu.

“Aneh sekali. Dandanannya keren kok perilakunya kayak preman,” ujar gadis itu dalam hati.

Sambil meneruskan membaca novelnya, dia terus menikmati kue kering yang dia beli tadi. Tanpa rasa malu, eksmud tadi juga terus-menerus merogohkan tangannya ke kantong kertas yang terletak di antara dua kursi mereka. Dia pun tampak menikmati pengenanan kecil itu.

Saat gadis itu melirik, kuenya tinggal satu biji. Dia menunggu apakah pria brengsek ini berani mengambilnya. Ternyata berani. Dia mengambil kue itu, membaginya menjadi dua dan menyerahkan yang separuh kepadanya. Sambil menyambar potongan kue itu, sang gadis mengumpat dalam hati. “Kok bisa-bisanya dia mengambil kue terakhirku dan membaginya yang separuh ke aku seolah-olah dia yang punya saja!”

Panggilan pesawat membuat mereka berpisah. Saat proses take off berlangsung dengan baik, gadis itu mengeluarkan novel yang belum selesai dibacanya. Tiba-tiba hatinya terkesiap. Di dalam tasnya dia menemukan kue kering yang masih utuh di bungkusnya.

“Jadi…Jadi…kue siapa yang aku makan tadi?” ujarnya dalam hati dengan gelisah. Dia lalu ingat ekspresi wajah eksmud itu saat dia merampas begitu saja potongan kue terakhir itu dari tangannya. Dia langsung mengerti apa artinya seringaian itu. Bukan cowok itu yang kurang ajar,  melainkan dia!

Dalam Laut Bisa Diduga…

Dalam hati siapa tahu? Kasus sengketa sangka pengiriman bunga dari PDIP ke Posko Prabowo di Solo sebenarnya bisa diklarifikasi asal kedua belah pihak tidak menonaktifkan ‘attack mode’ dan menggantinya dengan silaturahmi hati. F.X. Hadi Rudyamato, walikota Surakarta yang menggantikan Jokowi, sudah menjelaskan niatnya, yaitu agar suhu politik di Solo tetap sejuk dengan saling menerima dan saling menghargai. Saya tidak mau terjebak dengan berspekulasi terhadap niat tulus Pak Hadi. Tidak takut kena jebakan betmen? Orang yang menjebak bisa jadi terkena jebakannya sendiri.

Salah satu kisah Nasruddin Hodja yang masih melekat di benak saya menceritakan keisengannya. Suatu siang dia hendak istirahat, namun tidur siangnya terganggu gara-gara banyak anak yang ramai di depan rumahnya. Untuk mengusirnya dia menemui mereka dan berkata, “Orang kaya di ujung jalan itu sekarang sedang membagi-bagikan uangnya.”

Tentu saja anak-anak yang tidak merasa ditipu itu langsung berhamburan ke ujung jalan. Nasruddin pun dengan lega masuk kamar dan hendak meneruskan tidur siangnya. Namun, apa yang terjadi? Dia tidak bisa tidur.

“Jangan-jangan orang kaya di sana benar-benar membagikan uangnya. Coba saya lihat,” ujarnya lagi sambil memakai bajunya.

Orang yang menipu orang lain—apalagi belum terbiasa melakukannya—hati nuraninya pasti gelisah. Apa yang dia umpankan kepada orang lain ternyata dia sendiri yang memakannya. Saya percaya kemurnian hati nurani sehingga pernah mencuit di twiiter: “The best pillow in the world is a clear conscience.”

Tanpa hati nurani yang terus-menerus dibersihkan oleh Yang Ilahi, kotoran yang menumpuk membuatnya tidak peka lagi sehingga tidak mampu berdering bahkan saat kita menancapkan lembing ke jantung orang yang tak berdosa.

Saat curiga jadi panglima, benih nurani paling suci pun akan mati. Mau?

  • Xavier Quentin Pranata, pelukis kehidupan di kanvas jiwa.

2




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.